Journal Film; ZIARAH #ENSS
source: google images.
Kali ini gue masih menonton di Bioskop Online dengan biaya lima ribu rupiah plus pajak. Terima kasih.
Sepertinya sudah sepatunya, gue mesti menonton film ini sekali lagi, banyak yang sulit gue tangkap, lumayan untuk tidak semengerti itu, namun film ini indah se-indah-indahnya negeri ini. Yang gue rasakan dari film ini adalah perasaan yang humble, menenangkan, gue menyukai sekali film ini, film yang dibuat oleh sutradara B.W Purba Negara.
Mbah Sri berjalan, berjalan dimanapun masih ada jalanan setapak membentang, ia mencari seseorang yang rupa-rupanya itu suaminya yang telah lama menghilang berpuluh-puluh tahun lamanya, beliau tidak pamit dan memberitahu cucunya, sehingga cucunya sangat berusaha mengejar beliau, berusaha menemukan, belum lagi masalah lain yang mengitarinya.
Dari kota ke kota, suasana nyaman terasa, perjuangan yang tidak main-main, untuk keduanya, menyadarkan gue, bahwasannya cinta bisa sekuat dan seberani itu. Gue belum pernah dan belum mampu berada di tahap titik seperti itu. Segala informasi yang dikumpulkan masih kurang, entah itu Mbah Sri yang mencari suaminya dan sang cucu yang mencari beliau.
Ga ada yang sia-sia, walaupun untuk gue bisa mengatakan hal seperti itu rasanya kurang pantas. Lelah, walaupun kemanapun kedua sosok ini pergi dalam pencariannya, selalu terbentang alam yang indah, entah itu gunung, waduk maupun pedesaan, dari Bantul hingga Wonosari. Detil-detil yang disuguhkan juga tidak main-main.
Detil-detil yang mengagetkan, yang getir bukan hanya sampingan tapi bermakna dalam, gue juga menemukan titipan-titipan surat moral yang menjadi bensin untuk gue pribadi. Yang entah kenapa, terasa sederhana namun dalam sekali maknanya. Disini sudut pandang warga sekitar mengenai perang zaman dahulu sudah tercatat indah di memori sendiri.
Walau setiap perjuangan tidak selalu menghasilkan buah indah sesuai ekspektasi diri, terkadang pahit namun gue yakin tetap ada hikmah baik yang mengalir, entah sekarang maupun nanti. Perjuangan yang rupanya ditutup-tutupi warga sekitar, yang membuat asing, rupanya menyakitkan. Mungkin ia berniat baik demi Mbah Sri.
Mbah Sri sudah menemukan makam suaminya, namun sudah ada makam lain tepat di sebelah makam suaminya, makam istri lain dari sang suami. Seolah semua angan-angan atau impian bergerak cepat di pikiran, semua histori di masa lampau, tergeletak banyak di hadapan Mbah Sri dan beliau hanya duduk termenung entah apa yang beliau rasakan saat itu.
JOURNAL
Lantunan musik Jawa mengalun indah sudah semestinya, terbantukan subtitle bahasa Indonesia sebab dialog percakapan bahasa lokal yang tak mampu gue pahami, namun dari pengambilan gambar sangat melekat di hati gue, mimik wajah yang dalam terasa tidak membosankan sebab film ini terasa lambat dan penuh keheningan.
Mentor gue menjadi salah satu aktornya di film ini, film yang penuh budaya, alam indah yang menarik hati, hati membara saat para warga membahas perjuangan di masa penjajahan Belanda, setiap perjuangan selalu membekaskan luka pahit di hati warga sekitar, walaupun luka itu sudah di jahit lama, tetap saja rasa ngilu dan getirnya masih bertengger di dalam hati.
Iya benar, gue masih ingin menontonnya sekali lagi jika ada waktu, gue ingin menemukan makna lain yang ada di film ini, potongan-potongan dan perpindahan adegan terasa lembut dan abu-abu, entah itu dalam segi warna yang digunakan hingga pemaknaan yang terselip di film ini, yang merasuki pikiran dengan nyaman.
CONCLUSION
Kejadian seolah gue yang sedang menonton sudah benar-benar ada di sana, seolah gue menyaksikan langsung setiap kejadian yang ada. Ini menarik, tidak ada yang berlebihan secara gestur, terasa sangat bersahaja, semua terasa sekali adalah pelakon handal di bidangnya masing-masing, wajar saja film ini memenangkan film terbaik pilihan juri AIFFA 2017.
Pengiringan musik hingga dentingan-dentingan, lembut masuk ke kuping, pengambilan gambarnya cocok di gue, bagi gue secara penulisan ini juga tidak main-main, tepat sasaran. Tidak ada di gue perasaan mengganjal kecuali terhalang bahasa dan budaya di penggunaan bahasa itu sendiri, sebab ada perbedaan makna jadinya, sebab, seandainya jika gue mengerti bahasa lokal itu akan terasa berbeda lagi.
Penilaian sentimental pribadi: 9/10
Ziarah - Jono Terbakar

Komentar
Posting Komentar