Journal Film; CREED III #ENSS
source: google images. (CREED III)
Pada dasarnya Creed adalah film produk warisan Rocky yang selalu menarik untuk gue tunggu. Gue baru tahu Creed meluncurkan yang ketiga dari salah satu story orang, sehari atau dua hari lalu, sudah mampu buat gue untuk pergi menontonnya langsung. Ini menyenangkan, film dengan energi yang menarik, penuh dengan motivasi yang berapi-api dan menginspirasi gue.
Adegan pertama menunjukkan dua orang remaja kulit hitam, dengan suasana tahun-tahun awal 2000-an, rebel, hip-hop, baseball, box. Di Los Angeles, tahun-tahun segitu, tradisional namun tidak kuno, usang namun menarik dan sinis namun tetap tenang. Rupa-rupanya, ia adalah Adonis dan sahabatnya, Adonis menemani sahabatnya itu pergi menekuni bidangnya, bermaksud memulai karier pertamanya.
Ia tahu sahabat baiknya, penuh rahasia, sisi lain yang ia tidak kenal, mungkin sedikit dan kecil, namun asing dan dingin, maka dari itu, ia enggan menyentuhnya lebih jauh, hanya ingin normal layaknya anak seusianya, yang mungkin nakal namun penuh pertimbangan, pikirnya. Leon muncul, tragedi pun menjadi landasan sebagian besar kisah di film ini, siapa Leon? Cari tahu.
Di masa kini, tiga tahun telah berlalu dimana sang juara memutuskan gantung sarung tinju. Rekan lamanya muncul, ingin memulai karier yang sudah seharusnya ia berdamai dengan hal itu dan menguburnya dalam-dalam. Ia seperti ular penuh siasat. Ia senantiasa menjaga postur tubuhnya selama di jeruji besi, Ular spiritual yang mendekam di penjara selama 18 tahun.
Ia liar memakan habis permata warisan CREED. Cara curang, tapi ia pejuang sejati, disini ia membuktikan dirinya adalah berlian yang lebih mulia dari permata murni Creed, kemarahan dan kecemasan ditunjukkan Adonis dari sinar kedua matanya. Adonis telah lama rusak dan hancur, ia hanya berbekal keadaan pikirannya dan hatinya, sedangkan Dame berbekal ketekunan dan siasatnya selama ini.
JOURNAL
Hampir 70% cerita ini mengenai masa lalu Adonis, ia harus lekas berdamai dengannya, dengan cara menyelam hingga ke dasar lautan traumanya agar ia mampu berjalan ke depan tanpa belenggu yang berarti. Kini masa lalu itu muncul dan melahap satu per satu hal berharganya, seperti bom waktu yang merusak, waktu terbatas yang membuat ia perlu cepat menyelesaikannya.
Pertandingan terakhir adalah pertunjukkan yang ideal, di atas ring cara kedua sahabat ini menyelesaikan masa lalu mereka, kekecewaan, salah paham dan amarah sudah sepatutnya selesai disana. Stadium penuh untuk menonton hiburan tapi bagi kedua orang ini, adalah tentang masa lalu mereka, tidak ada yang lain, jiwa muda mereka memerlukan jawaban yang seharusnya.
Masa lalu dan trauma seperti kehancuran, kemanapun ia berjalan, masa lalu telah berada satu langkah tepat di depannya. Adonis perlu dengan segera menyelesaikan masalahnya sendiri, pada akhirnya-pun masa lalu yang telah ia kubur rapat-rapat, hingga terlupakan di penyelesaian kariernya, mampu kembali dan menarik singa dari tidurnya di singgasana untuk kembali melahapnya.
CONCLUSION
Bagi gue, film ini tidak mengecewakan, mungkin pada dasarnya gue menyukai olahraga tinju atau apapun turunannya seperti acara hiburan dan gaya dari seni bela diri ini. Namun, penutupan dari film ini sangat mengganggu gue, terasa menggantung, mungkin karena vibes dari film ini sudah jor-joran di tengah hingga sebelum akhir, namun masih bisa gue terima.
Penuh motivasi, daya ledak hingga harapan yang tertuang dari film ini, gue nonton film-film yang sebelumnya, tapi lupa urutan yang mana satu. Warisan CREED sejauh ini masih yang terbaik dan mampu menjaga kualitas dan hiburannya, energi dari CREED penuh dengan api yang gue sendiri sangat menikmatinya selama di ruang teater bioskop hari ini.
Penilaian sentimental pribadi: 8/10.
Ogogoro - Dreamville with Bas & Ayra Starr.

Komentar
Posting Komentar