Journal Film; SUZUME NO TOJIMARI #ENSS
source: google images. (SUZUME NO TOJIMARI)
Pada dasarnya gue tidak tahu-menahu ini menceritakan tentang apa, walaupun trailer sempat terputar sekali di bioskop, yang gue sadari saja di trailer itu adalah sepertinya Suzume ini akan menyenangkan.
Di awal pembukaan gue dibawa ke alam baka. "Aurora kah?", seorang anak kecil mencari seseorang, lalu ia terbangun dari mimpinya dengan kupu-kupu penuh fantasi. Segeralah ia pergi bersiap untuk pergi ke sekolah, iya, sang karakter ini adalah anak sekolahan, selama perjalanannya, detail-detail mengkayuh sepeda, perpindahan transisi hingga pemandangan terlukis dengan begitu indah, inilah Jepang.
Pewarnaan, ini ga main-main. Laut dalam lukisan layar lebar begitu fantastis, indah. Tidak sengaja ia bertemu, dengan seorang pemuda yang tak kalah indahnya dengan dirinya sendiri, Suzume Iwato. Pemuda itu menanyakan dimana letak reruntuhan, sebab ia terlihat terburu-buru kesana. Sayangnya setelah itu, karena dari awal berpapasan, Suzume sudah tertarik pada anggunnya si pemuda.
Ia berpikir kembali lagi dari perjalanannya ke sekolah, ke reruntuhan tempat pemuda misterius, mencari kesana-kesini dan hilang jejak, lalu bertemulah ia pada sebuah pintu yang tak kalah misterius, pemuda sebelumnya juga menanyakan keberadaan pintu tersebut kalau tidak salah. Pintu itu ia buka dengan perasaan curiga lalu hal diluar nalar pun terjadi, ruang dalam pintu itu sama dengan mimpinya itu.
Aurora yang indah, padang rumput, hingga-hingga hewan mirip kucing berubah dari sebuah batu kucing. Disinilah tragedi yang menimbulkan kekacauan ke kota-kota terjadi yang menemani bayangnya dalam pencarian dimulai. Ia telah kembali ke kelasnya sebelum ia melihat pemandangan yang hanya dirinyalah yang bisa melihatnya di luar jendela kelas.
Pemuda yang tak ia temukan tadi, ada disana, pikirnya. Ia kembali lagi, sinar besar yang destruktif muncul dari pintu tadi, ia ingin berbuat sesuatu, lalu pemuda itu muncul, membantunya menutup portal itu. Luka gores pada lengan pria, ia segera membawanya ke rumahnya untuk diobati, sebelum kucing misterius tadi muncul, tentu Suzume tak mengenal kucing mencurigakan tadi.
Kucing itu berbicara dan merubah sang pemuda menjadi kursi atau tepatnya terserap masuk ke kursi kecil yang memang milik Suzume Iwato. Sekarang misi mereka, Suzume dan pemuda kursi mengejar kucing itu, hingga terciptalah perjalan ke kota-kota. kenapa mereka bisa tahu, kucing itu ada di tujuan mereka? Soalnya kucing itu lucu dan menjadi viral di sosial media masyarakat lokal.
Kucing itu adalah dewa, Daijin, ia rupanya sang batu kunci, yang terlepas. Selain perjalanan yang dialami anak remaja seperti Suzume, tentulah ibu angkatnya sangat cemas, disini konflik tersendiri pun terjadi, belum lagi nasib sang pemuda yang juga sang juru kunci, ia dikejar waktu, waktunya tipis, dan laser itu adalah seekor cacing mistis yang tinggal di alam bawah negeri Jepang.
Sebenarnya selain si kucing yang viral, sudah tentu, kursi yang berlari kesana-kesini juga viral, itu yang lucu, tapi sebenarnya yang dialami pemuda kursi sudah berat sebab ada yang lain lagi. Dari kota ke kota hingga yang pada akhirnya, Jawaban Suzume ada pada dirinya sendiri, kampung halamannya yang dahulu serta mimpi-mimpi yang masih membayangi itu semua teka-teki sekaligus kunci.
JOURNAL
Inilah seni budaya Jepang, dirakit menjadi keindahan yang tiada tara, penggambaran yang mungkin sempurna namun tetap menyenangkan, suasana, kembali lagi, gue selalu menyukai suasana, di setiap film apapun. Apalagi ini Jepang, lengkaplah sudah. Detail-detail yang nyaris seperti realita nyata, seperti asli dan menggiurkan.
Penggambaran tentang Jepang yang budayanya kerap kental dengan segel-menyegel, ini di kuras hingga ke dasar. Kepercayaan hingga kebiasaan masyarakat Jepang, seolah-olah gue sedang berada di Jepang itu sendiri, pewarnaan yang menyenangkan, tak lelah gue ucapkan berkali-kali. Memang sih, gue jarang melihat anime yang di filmkan, Ghibli Studio saja belum gue tonton.
Maybe ini pertama kali, tapi ini sudah memuaskan batin gue, cara-cara seperti ini yang dilakukan dunia kreatif Jepang untuk mempromosikan negaranya sangat berhasil, terlalu berhasil. Lagu-lagu yang dipakai juga seperti membawa gue terbang ke khayangan lalu memberikan gue bingkisan hadiah berupa ketenangan dalam hati yang melegakan.
CONCLUSION
Pada awalnya, memang gue tidak tahu apapun mengenai ini, gue hanya menonton sekali di trailer pembukaan film lain di bioskop, tapi sepertinya mampu buat gue langsung memasukkannya ke list film yang akan gue tonton nanti dan sama sekali tidak mengecewakan, sekilas tentang film ini yang gue tangkap adalah teori relativitas waktu, entah, sotoy aja. Paling-paling, mengenai waktu.
Yang miss sepertinya di subtitle bahasa Indonesianya soalnya seiingat gue banyak kesalahan disana-sini, tapi sudahlah. Ohya, dari segi cerita yang ingin disampaikan juga menarik, tidak sembarangan, adegan lucu yang bisa gue nikmati, hingga ending yang sedikit mengharukan, ada pesan tentang inner child yang gue dapatkan, itu juga cukup mengharukan.
Penilaian sentimental pribadi: 8.5/10.
Suzume - Radwimps Feat Toaka

Komentar
Posting Komentar