Journal Film; PASIR BERBISIK #ENSS

source: google images.


Film hari ini berjudul Pasir Berbisik.

Dua orang perempuan misterius menjadikan adegan awal cukup menarik bagi gue, hubungan anak dan ibu namun kali ini point of view sang anaklah yang berkata banyak, Daya dengan ibunya Berlian. Film ini mempunyai pengambilan gambar yang unik dan bagus, mungkin karena hasil kerjasama sang pencipta karya dengan pihak Jepang, sebab ada beberapa teknik pengambilan yang gue kenal dan suka.

Anak, begitu panggilan sang ibu kepada Daya, mereka adalah masyarakat lokal tepi pantai yang lingkungannya tak kalah misterius, pasir dan debu pasir, warga antar warga berjauh-jauhan. Adegan berlanjut dengan keanehan lain, ada beberapa orang meninggal di pantai, semua warga berkerumun, tidak begitu jelas apa sebabnya.

Sang ibu, Christine Hakim dan sang anak, Dian Sastrowardoyo, mereka berdua melakukan pengadeganan dengan sangat baik dan cocok. Yang pasti, sedang ada kerusuhan dan pembunuhan yang menjadi teror warga disana, yang mengharuskan satu per satu penduduknya pindah. Namun keluarga Berlian cukup keras kepada dan teguh pendirian.

Namun, pada akhirnya takdir berkata lain, mau tak mau mereka mesti pindah, kekacauan sudah tidak terelakkan lagi. Mereka berdua berjalan pergi dari rumah, dengan cepat, pergi menuju tempat yang berjuluk "pelarian", Pasir Putih. Bertemu orang-orang asing tak kalah misteriusnya, tak mereka kudu kuat, kudu punya keberanian demi kehidupan.

Daya yang bakal anak remaja tentu banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya, dimana ayahnya? bagaimana cara menjadi remaja sesungguhnya? Kecantikan? Keindahan? Penerimaan? Sampailah ia pada tujuannya, menjalani hidup baru yang biasa lagi, melanjutkan kehidupan yang penuh lika-liku. Ia, Daya, mulai mempertanyakan jati dirinya.

Jati diri yang ia cari tentu terhalang prinsip sang ibu, yang perlahan membuat Daya tidak menyukainya. Ia ingin segera bertemu sang ayah dan meninggalkan ibunya. Pada akhirnya, sang ayah kembali, namun rupa-rupanya, tidak benar, penuh kesesatan, ia mengerti akan sesuatu bagian sisi yang mungkin menyakitinya, angan-angan tidak semulus dan sebaik itu.

Sang ibu merelakan anaknya semata wayang pergi, demi menemukan apa yang baik buat sang anak, Daya, ia tak boleh kembali ke tempat itu, ia harus pergi, sang ibu begitu sedih merelakannya, menyesali dirinya sendiri mengapa ia tidak cukup tangguh menahan dan menguasai sang anak, membuatnya mengerti tanpa membuatnya marah.

JOURNAL

Film ini gue beli dengan harga promo sekitar dua ribuan di Bioskop Online. Ternyata luar biasa sekali karya yang satu ini. Film tahun 2001, dengan kualitas diatas rata-rata, tentulah tidak ada karya yang jelek, prinsip gue seperti itu. Tapi untuk sekedar berkomentar, gue menyukai iringan lagu pengantarnya dan cara mengambil setiap adegan.

Tidak banyak berdialog, penyampaian secara ekspresi juga mimik wajah sudah sangat mampu menyuguhkan kepada gue yang menonton agar mengerti apa yang ingin disampaikan, memberi makna dan meninggalkan kesan dan maksud ke dalam pikiran gue yang menonton, membiarkan gue punya ekspektasi sendiri, menikmatinya dengan cara gue sendiri.

CONCLUSION

Sedikit saja, mungkin hanya error selalu ada huruf G di layar beberapa kali gue tangkap saat sedang menonton, namun tidak masalah, malah menambah unsur misterius dan kuno yang gue rasakan, gue menyukai diksi-diksi yang dipakai di film ini, suara-suara gendang di tabuh, warna-warna kelabu penuh kesesakan menambah ketegangan tersendiri.

Penilaian sentimental pribadi: 7/10 


Komentar

Postingan Populer