Journal Film; GUY RITCHIE'S THE COVENANT #ENSS
source: google images.
Lebaran kali ini penuh film menyenangkan, trailer film horor berlomba-lomba menunjukkan aksinya, kalau dari trailernya sih mantep-mantep horor lebaran kali ini, tapi gue memutuskan nonton film perang yang satu ini, awalnya enggan lihat sinopsis atau bocoran biar kejutan, tapi ngintip dikit deh gpp lah, toh pikiran gue kosong juga haha.
Adegan awal disuguhkan lah sebuah vibes yang chill dan misterius, musik yang tepat dan pengambilan gambar hingga pewarnaan yang enjoy penuh kenikmatan, namun ga berselang lama kejutan sebenarnya muncul, aksi teroris mencekam menggores luka para tentara Amerika, Taliban berhasil melancarkan serangannya saat ini.
Sang penerjemah tewas memberi luka mendalam kepada para pasukan-pasukan ini, mencari penggantinya tidak mudah, Ahmed seorang penerjemah yang baru diperkenalkan sebagai seorang yang ahli dan jenius namun karena sikapnya yang liar ia sulit diterima barak-barak sebelumnya, yang kini diterima oleh komando Letnan Kinley.
Misi awal berjalan, antara Ahmed dan Kinley belum ada keserasian, mereka masih asing, namun mau tak mau berjalan apa adanya, ancaman dan pengkhianatan mulai menyertai, namun setelah Ahmed menunjukkan keahliannya, Kinley mulai menaruh respect padanya. Tidak mudah menemukan jalan mulus yang pada puncaknya, tragedi pun dimulai.
Pabrik peledak dan senjata milik Taliban yang berhasil dikuak, namun pasukan Taliban tidak tinggal diam, mereka menurunkan pasukan siap matinya menggempur habis-habisan pasukan Amerika itu, hal menyedihkan timbul, walau ada sekitar 40-an pasukan Taliban gugur namun kurang lebih 10 pasukan milik Kinley tewas semua, kecuali dirinya dan sang penerjemah, Ahmed.
Runtuhlah jiwa sang Letnan, dalam pelariannya dalam pengejaran pasukan Taliban susulan, ia menyempatkan diri berduka, namun di medan perang tidak ada kata suka maupun duka, mereka harus ganas setiap waktu, mereka kabur seperti aksi kucing, sembunyi-sembunyi yang klimaksnya sang Letnan tertangkap namun, berhasil diselamatkan Ahmed.
Perjalanan penuh resiko, Ahmed menggotong atasannya untuk pulang ke markas besar, perjuangan disinilah yang penuh ketegangan, epik, ratusan kilometer ingin ia tempuh, belum lagi hadangan hingga perangkap Taliban, kesetiaan diuji. Apakah kesetiaan akan melahirkan happy ending atau masih mungkin terbalaskan?
JOURNAL
Dari awal sesungguhkan gue bisa menikmatinya, mungkin karena gue tidak ada ekspektasi apa-apa, jadinya lossss. Jalan cerita yang menyenangkan tidak ada yang mengganjal disini, sepanjang cerita. Apakah gue akan menontonnya lagi kelak? Bisa saja. Aksi yang ditunjukkan juga masuk akal, tidak ada yang di luar nalar.
Yang jikalau ada, mungkin effort dari sang penerjemah yang membawa sang Letnan menjelajah seluruh pegunungan atau gurun, tapi bisa saja kan? Mungkin di luar sana memang pernah terjadi yang seperti ini, gue tidak tahu. Situasi perang terkadang manusia mampu melakukan sesuatu di luar nalar, namun secara penulisan dan detil-detil sinematik bisa jadi alasan dan bahan pertimbangan logika.
Gestur tubuh, penginderaan hingga ekspresi adalah brilian disini.Tidak perlu berlebihan, gue yakin masyarakat umum yang menonton bisa turut merasakan atau paling tidak mengambil makna kemana jalan yang ingin disuguhkan. Sekalipun berlebihan itu masih realita yang bisa terjadi, kota-kota hingga sudut ruangan adalah sesuatu yang nyaman untuk di lihat kembali.
CONCLUSION
Gue menyukai pewarnaan sinematografi di film ini, pemilihan musik juga tepat sasaran, adegan aksi yang juga terasa fresh dan benar juga nilai plus tersendiri buat gue. Percakapan dialog di awal juga lumayan bagus, teatrikal yang komedik terasa kontras dengan konflik yang sedang dijalankan. Juga sebuah kedalaman tersendiri.
Jalan cerita, gestur, penginderaan dan ekspresi yang dimuat disini tidak abal-abal, malahan ini karya seni yang mahal, dipersiapkan dengan baik, ketegangan, patah harapan hingga kehancuran disini baik sekali. Aaaa, ini adalah pengalaman menonton yang menyenangkan jika gue ingat-ingat kembali. Gue ingin menonton sekali lagi di bioskop, tapi entahlah lagi berhemat, walaupun memang ada percakapan dialog yang ke-skipp selama gue menonton.
Penilaian sentimental pribadi: 8.5/10

Komentar
Posting Komentar