When it's over
source: google images.
Mungkin memang telah menjadi jalan gue untuk selalu bermuram-durja, seperti selalu terhalang kabut yang sendu, tapi tenang saja, ini bukan sesuatu yang gue anggap hal "pesimistis" atau kata-kata menyerah, tidaklah begitu. Mungkin kegelapan ini ada nyatanya, ada terang ada gelap, ada putih ada juga hitam, dan ini hanyalah cahaya tersendiri setiap manusia, tak berarti ini sesuatu yang kurang baik.
Mungkin memang cara gue yang berbeda ketika melihat dunia, disaat orang melihat dengan optimis dan penuh positif, inilah gue yang terbiasa melihat dengan sebaliknya, yang terkadang bisa menjadi salah dan masalah, tapi kembali lagi ke diri gue, gue yang harus mengendalikannya. Gue yang datang seperti bulan di malam hari, tapi bukan berarti gue tidak baik ataupun salah. Tidaklah begitu, ini hanya sebuah warna hitam dan putih, sebatas itu.
Tak adil jika kita bilang hitam adalah buruk dan putih adalah si baik, bukankah itu terlalu terkotak-kotak dan sempit, malah justru tidak mengalir,? Lihat saja Yin dan Yang yang berbentuk bulat "kesempurnaan" dengan hitam dan putih saling melekat dengan adil dan mengisi.
Jika gue diberi kesempatan untuk berkelit, gue akan berkelit dan bilang bahwa gue tidaklah melihat dunia dengan selalu pesimis melainkan melihat dunia terlalu realistis, nah, kadang-kadanglah menjadi jatuh kedalam lingkaran pesimis.
Gue selalu percaya kalau diri gue ini tidak sempurna dan akan selalu begitu, tidak akan lupa diri. Gue yang akan memeluk cahaya bulan sendirian, dilain sisi, gue mencoba untuk memeluk terik dan cerianya cahaya matahari namun tidak pernah bisa dan tidak pernah mau.
Gue manusia yang berlumuran dosa, gue akan selalu ingat itu, tidak akan lupa diri. Gue juga tak selalu kuat menopang beban berat dunia sendirian, gue tahu itu. Gue tidak bilang gue tidak butuh cahaya matahari, gue butuh, teman-teman dan relasi. Namun, gue tak bisa berlama-lama. Gue tidak bisa terbuka untuk waktu yang lama, terlalu terik.
Semua tentang gue, gue dan gue. Dan seharusnya tidaklah menjadi masalah, gue first. Terlalu melelahkan dan sakit ketika ada kala waktu terdahulu, gue yang mengutamakan hal lain ataupun makhluk ciptaan lainnya, sampai gue lupa siapa diri ini sebenarnya dan sampai semuanya berbalik untuk menusuk dada ini dalam, dan kini gue tak lagi peduli lagi, dan gue ingin bebas.
Ego. dan ego sebenarnya hal paling mengerikan dan kemirisan yang gue ketahui. Entah dari kapan gue takut kepadanya, intinya gue yang sekarang akan menjerit histeris dan lari menjauh jika berhadapan dengan "sesuatu" yang berbau ego, entahlah, gue tidak peduli lagi salah dan benar, gue yang trauma sesuatu berbau ego kini telah buta.
Mungkin telah waktunya untuk diri gue mencari zona nyaman yang baru, pergi dan berkelana saja. Gue yang menyedihkan ini, sekarang perlu pergi dan mencari tujuan yang sebenarnya, gue tidak ingin selesai begitu saja dalam hidup ini, gue ingin bebas.
Bagi gue, tidak selalu kata "keluar dari zona nyaman" patut dielu-elukan. Tak selamanya jika ingin berkembang dan menjadi maju selalu harus tersematkan kata "keluar dari zona nyaman" terlalu buta dan tampak tak ada patokan-nya (hal yang sulit digenggam), kita juga bisa berkembang dan tetap kita kendalikan perkembangan itu.
Maksud gue mungkin lebih kepada, berkembang dan mencari zona nyaman yang baru, menjadi kata yang lebih menenangkan. Mencari peluang baru yang seru dan berkembang menjadi lebih nyaman dan sehat secara mental dan psikis. :)
Jika kata itu dipakai oleh orang bijak dan rendah hati, gue bisa menghargai dan mengerti, tapi jika dipakai orang yang hanya sok-sokan itu sungguh membuat diri ini geram, karena jika mereka tidak tahu apa maksud sebenarnya dan hanya ingin terlihat keren, bukankah itu malah menyesatkan dan terkesan mem-bully? Malahan terkesan traumatis, dan bisa jadi, sudah berapa manusia yang terganggu mental dan psikisnya dengan kata-kata seperti itu? Berani tanggung jawab?
Itu menjadi alasan diri sendiri berkata seperti itu, karena sudah banyak menemukan manusia-manusia yang tak berpikir dan ignorant, yang tak mau tahu, hanya mau buka mulut namun tidak bernyali untuk bertanggung jawab.
Apa yang lebih mengerikan dari ignorant?
Kata keluar dari zona nyaman, sekarang menjadi terlalu sombong dan traumatis bagi gue, maaf, entahlah. Dan intinya ini adalah menjadi sisi perspektif yang gue lihat dan menjadi kepedulian diri gue, tak berarti serta-merta gue menyalahkan perspektif yang diri lain miliki. Hanyalah keluh-kesah dan curhatan semata, se-nyaman dan se-santai itu.
Terkadang banyak kata-kata yang sedikit tidak tepat dan melenceng jauh jika gue telisik lebih lanjut, dan tidak menjadi etis dan sedikit berlebihan jika memperbaikinya, siapalah gue, yang terjadi biarlah terjadi.
.
.
.
.
.
Tak ada yang namanya gelap, yang ada hanyalah kekurangan cahaya, gue tahu kata-kata itu entah darimana saja, dari buku bahkan film juga menyematkan dialog seperti itu, gue bisa setuju, kata-kata itu bisa menjadi menenangkan dan bisa jadi penuh feel yang positif, sungguh menjadi sejuk rasanya di dada gue. Perlu motivasi lebih lagi dalam menjalani hidup.
Gue banyak kekurangan, banyak bolong-bolong di sana-sini, luka juga banyak yang belum mengering, gue juga manusia yang perlu penghiburan, terbuka adalah hal tersulit yang gue lakukan. Traumatis banyak menghampiri hidup ini, melekat dan melekat lebih lagi sampai sampai menjadi masalah baru yang kejam, isu mental.
Perasaan yang terpenjara dan tubuh seolah terkekang oleh rantai-rantai besi yang mengikat pada tangan dan kaki. Dada terlalu sering merasakan sesak yang begitu menyesakan. Bagaimanapun, hidup harus tetap berlanjut, begini-begini saja juga tak menghasilkan solusi, gue perlu bangkit dan berjalan lagi, terus dan terus saja walaupun nanti akan kelelahan dan menjadi merangkak.
Mungkin tak ada yang tahu keluh kesah diri ini, namun gue juga mengerti kalau ada banyak juga orang merasa kesusahan dan mungkin lebih susah dari diri gue. Tapi apa salahnya gue untuk berteriak dan keluarkan saja beban-beban ini, tak selamanya itu menjadi salah karena di-cap tidak mengerti manusia lain, kita juga berhak hidup lebih nyaman lagi.
Sampai kapan lagi kita menjadi terpasung atau malah memasung orang lain, agar selalu membuat dia merasa kalau ada yang lebih kelam dan membuat dia bertahan dari rasa sakit yang seharusnya dia bisa bebas dan sembuh. Tidakkah kita juga jahat jika berlaku seperti itu? Ayolah.
Susah ingin bareng, senang malah melupakan, sama saja bohong, sudah ah.
Keluh-kesah ini menjadikan gue lebih baik, bualan ini tak sepenuhnya benar, gue bisa banget menjadi salah, tapi apa yang gue utarakan tulus dari hati, memang beginilah gue, yang gelap, yang takut terik, takut ego dan juga penuh traumatis ini, yang lebih nyaman mengutarakan dari tulisan-tulisan penuh bualan dan menyelesaikannya untuk pada akhirnya menjadi merasa bebas dan sedikit lebih baik.
Sebaik aku dan kamu. kyooo ">o<"
Dan santailah, gue masih suka sama zona nyaman nya Fourtwnty kok :)
Dan santailah, gue masih suka sama zona nyaman nya Fourtwnty kok :)

Komentar
Posting Komentar