Jet-lag

source: google images.

Kota, 2019. Malam, di masa-masa terakhir dari musim gugur, di flat tua ini, Tiffany hanya rebahan saja di ranjang kamar tidurnya sembari mengawang-ngawang, bukan karena sedang merasa sedih apalagi merasa senang, dia hanya sedang menikmati suasana dirinya sendiri dan mengawang-ngawang.

Brrtt.. brrtt... suara bel berbunyi dan dia terbangun, "hah, jam berapa sekarang.. ahh semalaman aku ketiduran,"

Pukul delapan pagi lewat tiga, bel masih saja berbunyi tetapi frekuensinya sudah tidak sebanyak tadi, Tiffany bangkit dari ranjang-nya dan bergegas pergi membuka pintu, dengan wajah sedikit pucat sehabis bangun dari tidurnya dan sedikit masih terkantuk-kantuk. Rupanya Nadine, sahabatnya yang sedang berdiri menunggu untuk di-bukakan pintu.

"Ah kamu rupanya, sini masuk." -ucapnya mempersilahkan masuk.

"Keluar yuk, akhir pekan nih.." -ucap Nadine sembari masuk dan duduk di sofa di dekatnya.

"Baru bangun nih, rebahan bentar deh ya," -Tiffany membalas dan kembali berbaring lagi.

Sebentar saja dirinya berbaring, setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mempersiapkan pakaiannya sedangkan Nadine masih asyik membaca majalah sambil tiduran di sofa panjang.

"Udah jam segini, jadi gak?" -Nadine yang langsung bangkit begitu saja dari ke-asyikan membaca majalah dan memberi pertanyaan.

"Yuk." -Tiffany membalas.

Pagi itu, langit tak begitu cerah, namun berangin. Coat dan sweater yang mereka gunakan masih cukup menahan dingin-nya angin di pagi itu. Mereka berencana mecari booth makanan pagi di pinggir jalan, sosis ham bakar dan toast cukup mereka nikmati ditambah kopi susu dalam menyambut hari agar lebih semangat menjalani akhir pekan ini.

Nadine, teman dekat dirinya, mereka bertemu pertama kali di hall kampus mereka, datang dari kota yang sama juga, Nadine juga menetap di flat, namun berbeda flat. Flat tempat Nadine tinggal tak begitu jauh, hanya berbeda tiga blok dari flat tempat Tiffany tinggal.

Tiffany-Nadine sudah sangat dekat dari pertemuan mereka sejak tiga tahun lalu, belajar bareng, hang-out bareng. Mereka seringkali mampir ke flat masing-masing secara bergantian, Nadine tinggal bersama adik laki-lakinya, Jayden. Yang kini masih semester dua, mereka satu kampus, jadi mereka seringkali bersama-sama bareng jadinya bisa untuk saling menjaga satu sama lain.

Mereka senang berjalan-jalan menikmati hari dengan mengunjungi taman ataupun perpustakaan kota untuk duduk-istirahat sembari baca buku. Tapi pagi ini, mereka setuju ke taman sekitar dahulu, berfoto-foto mengabadikan momen, berbincang-bincang, seru pikir mereka, setelah santapan pagi- mereka habiskan, mereka membayar dan langsung pergi.

Suasana sekitar terasa gloomy dan abu-abu, namun tidak sedikitpun memancarkan aura kelabu, malahan sungguh positif sekali vibes hari ini, burung-burung yang sahut menyahut, ditambah lagi air mancur yang menciptakan gelombang ritme yang nyaman dan positif. Berbincang di bangku taman dan sesekali menyesap kopi yang mereka pegang.

Perbincangan mereka sampailah pada kisah awal mereka, tentang mengapa ingin merantau di negara ini, dan mengapa jurusan mereka saat ini sekarang yang jadi pilihan, dan keadaan keluarga di kampung halaman yang jauh dan target kedepan dari cita-cita mereka.

Begitu merasuk-nya perbincangan mereka dan tanpa sadar menyemangati diri mereka sendiri. Yah, hidup dan tinggal di negara orang sendirian, butuh banyak rasa semangat dan perjuangan yang tidaklah mudah. Budaya, pandangan, kebiasaan yang berbeda contohnya. Mereka mungkin akan tetap tinggal disini selama beberapa tahun lagi, setelah lulus dari dunia perkuliahan mereka.

Tiffany yang ber-keinginan kelak bisa bekerja di museum, sedangkan Nadine punya bakat besar di dunia sastra apalagi tulis-menulis, Nadine ingin sekali menjadi seniman-sastra. Usia mereka tidaklah jauh, hanya berbeda empat bulan, Nadine yang lebih tua darinya, tapi serius, mereka sangatlah akrab sepanjang hari, jauh bahkan, pertemuan pertama kali mereka sudah menampakkan mereka bisa satu frekuensi satu sama lain.

Kini jam di tangan menunjukkan pukul sebelas siang, Nadine memberi ide bagaimana siang ini mereka makan di kafe tempat adiknya itu bekerja, yang karena kebetulan sekali adiknya bekerja di akhir pekan ini untuk menggantikan teman kerjanya yang lain. Kafe tempat adiknya bekerja adalah kafe khas Italia.

Perjalanan dari taman menuju kafe memakan waktu hanya sekitar sepuluh menit, dekat sekali memang. Mereka berjalan dan menikmati lingkungan sekitar mereka, rumah dengan arsiktetur yang unik, cantik sekali dan nyaman dipandang mata, sesekali mereka berhenti untuk memotret bangunan-bangunan itu dan saling bergantian untuk mengabadikan momen sendirian bersama lingkungan sekitar dan tentu saja swafoto!

Mereka ingin sekali menghabiskan akhir pekan ini dengan sempurna dan habis-habisan, karena setelah akhir pekan berakhir, mereka akan memasuki hari-hari sibuk itu kembali, apalagi mereka mulai masuk masa-masa semester akhir, sibuk magang dan part-time yang terkadang bisa sangat menguras tenaga dan pikiran, tentu saja penat, dan mereka juga jarang sekali bisa bertemu selain masa akhir pekan seperti ini.

*
*
*

*Trriing...* bunyi lonceng kecil yang khas ala kafe, tanda ada yang masuk. Mereka berdua membuka pintu dan masuk sambil menelik-nelik keadaan kafe dan mencari tempat untuk duduk ataupun sekalian posisi adiknya itu.

"Siang.." -Ucap pelayan kafe dengan senyuman.

Mereka mendapat meja kosong dekat pintu masuk, dengan dua bangku disisi luar dan sofa panjang yang merapat dekat dinding pada sisi dalamnya, mereka menghela napas sebentar dan merapikan posisi duduk dan barang bawaan mereka, bersantai sejenak sembari menikmati keadaan kafe yang begitu comfy dengan juga alunan kecil ala musik-musik indie.

"Hai kak, apa kabar?" -ucap adik yang datang dengan sedikit mengagetkan dan juga siap melayani.
  
"Hai, Jay bagaimana hari ini, all good?" -balas Nadine dengan senyuman riang.

"Hai juga, Jayden." -Tiffany ikut menimpali.

"Ah, ada kak Tiffany juga, seru pasti kalian hari ini," -Sahut Jayden

"Yah begitulah, sayang hari ini kamu ada jadwal, kalau tidak kita bisa hang-out  bareng betiga, nih," -ucap Nadine.

"Iyah, tidak apa-apa kak, next-time semoga ada waktu lagi," -Jayden menjawab.


"Ngomong-ngomong, mau pesan apa kalian kak? -Lanjut Jayden.

"Spaghetti disini enak kok, ditambah Chocolate milkshake buatanku enak lho." -Jayden menjawab tersenyum dan sedikit rasa percaya diri.

"Iyah tahu kok, buatanmu terbaik, tapi sebentar kita diskusi dulu mau makan apa." -Nadine memberi senyuman sinis namun percaya kalau buatan adiknya adalah yang terbaik.

Setelah diskusi memakan waktu tak begitu lama, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menyantap apa siang ini, mereka berdua setuju  memesan Spaghetti namun dengan topping berbeda, Nadine dengan topping salad sedangkan Tiffany dengan taburan topping daging asap. Untuk minuman mereka setuju memesan Chocolate milkshake buatan adiknya itu.

"Wah asyik~ gitu dong kak, jadi semangat, haha" -Jayden berucap dan tertawa.

"Iyah dong, Jay. Minuman darimu the best pokoknya" -Tiffany membalasnya

"Setuju atuh, kakak mah," -Timpal Nadine

Kurang lebih lima belas menit waktu yang terlewatkan, mereka berdua banyak mengobrol banyak dan kemana saja, tentunya, nyaman juga sebab suasana kafe yang comfy tadi, ditemani alunan musik yang lo-fi dan indie-pop yang membuat semua begitu good mood, waktu yang berlalu jadinya tak lagi terasa sebab suasana yang ikut mendukung.

"Ini kak, pesanannya, silahkan dinikmati" -Jayden yang melayani, datang mengantarkan pesanan untuk kedua kakaknya itu.

"Wah~ harumnya, pasta daging asap milikmu, Tiff," -Nadine sahut dengan excited.

"Iyah, semua begitu menggugah selera jadinya," -Tiffany juga tertarik.

"Semua sudah ya kak, aku kembali bekerja dulu, selamat menikmati kakak-kakakku!" -Jayden ikut membalas lalu pergi lagi.

*
*
*

Langit yang dari tadi pagi sedikit mendung abu-abu kini sedikit-demi-sedikit mulai tertembus cahaya matahari, namun tetap pada suasana yang nyaman namun lebih terang. Hari ini mungkin Semesta mendukung niat mengumpulkan good mood mereka. Seharusnya begitu, menikmati hidup lebih penting dari segalanya, senyuman, harapan dan juga kegembiraan.

*
*
*

Waktu santap makan siang mereka telah selesai, jam juga kini mengarah ke pukul satu siang, tegukan Chocolate milkshake terakhir mereka habiskan, duduk istirahat sebentar sebelum pergi membayar, mereka kemudian mencari-cari posisi adiknya itu berdiri, sedikit menaikkan tangan guna memanggil, setelah adiknya terlihat posisinya, salah-satu dari mereka kemudian terus memanggil dengan kode ingin membayar.

Adiknya yang datang "Iyah kak, oh ingin langsung membayar kak? Bentar kak saya ambilkan dulu Bill nya, sebentar yah," -Dengan gestur ramah ala prosedur Kafe.

"Ini kak, totalnya. Bagaimana kak hidangan-nya? Mantap lah ya kak, hihi." -Jayden berucap dengan humor.

"Mantap, Jay, hidanganmu, dua jempol buat kamu," -Tiffany menjawab senang

"Iyah, apalagi Chocolate Milkshake kamu, Mood-booster banget, bikin seolah makin full-positivity banget," -puji kakaknya.

"Eh~ awas bangga nya ketinggian ya kamu, nanti ga fokus lagi," -timpal kakaknya lagi dengan sinis sekaligus tahan untuk tidak tertawa.

"Haha, iya lah kak, terima kasih kakak-kakak ku yang terbaik," -Jayden dengan riang menjawab.

"Ohya, habis ini kalian mau kemana lagi," -Jayden lanjut bertanya.

"Ini, kita mau lanjut jalan lagi, kayaknya ini ke museum seni Kota," -Nadine menjawabnya.

"Oh, okelah ya kak, siap, hati-hati yah semua, by the way, thankyou yah dah mampir kesini," -Jayden berucap.

"Oh, siap dik, semangat lagi kerjanya," -Nadine menimpali.

"Semangat..." -Tiffany menjawab juga ditambah dengan gestur kepalan tangan.

*
*
*

Perjalanan dilanjutkan, sedikit berjalan dengan santai, menikmati sekitarnya, juga hari ini yang begitu baik cuacanya, gedung-gedung juga pepohonan yang seperti membuat kelompok kecil sendiri-sendiri mengisi setiap lahan kosong di daerah itu. Makanan yang enak, lingkungan yang nyaman, suasana yang indah dan sahabat-sahabat yang baik sungguh dukungan positif untuk diri setiap manusia.

Mereka hanya tinggal berjalan beberapa blok bangunan lagi sebelum sampai di kawasan museum seni itu, dari area yang sedikit dekat dengan museum itu saja, sudah terlihat megah dengan arsitektur kuno ditambah sungguh terawat- gedung maupun lingkungan luarnya. Semuanya semakin cocok untuk disebut "seni". Tinggal menyebrang Robinstone St, sebelum mulai memasuki kawasan dari museum seni itu.

Se-sampainya di museum, mereka langsung menuju bagian dalam museum itu, setelah sudah mengikuti prosedur dari pihak museum itu, mereka menikmati satu per satu karya lukisan ataupun patung-patung yang terlalu estetik. Menikmati satu per satu, inspirasi yang masuk begitu meningkat dan berlalu-lalang begitu saja di pikiran.

Bagi mereka berdua ini semua tentu sangatlah menarik. Tiffany yang ingin sekali bisa bekerja di museum tak henti hentinya memasang wajah kagum dan berseri-seri sedangkan bagi Nadine, inspirasi yang bisa didapatkan di tempat ini, tentu bisa sangat luas dan banyak sekali, untuk tulisan dirinya kelak, intuisi, pengetahuan-pengalaman dan jiwa aestetik Nadine maupun Tiffany.

Keliling-keliling museum dengan tak lagi memperdulikan waktu, mungkin hampir tiga jam. Mereka yang sangatlah into it, membuat rasa lelah tak bisa merenggut energi mereka begitu saja, lukisan yang mereka lihat ataupun patung dan karya lain juga sesekali mereka berikan opini ataupun komentar untuk mengutarakan kesukaan ataupun perasaan, sudah seperti pengamat saja, tapi begitulah mereka jika sudah bertemu suatu kegiatan yang melibatkan satu frekuensi.

Setelah tiba pada bagian akhir dari bangunan museum itu dan selesai melihat-lihat mereka duduk sebentar di kursi panjang yang disediakan, istirahat sejenak, sekalian menge-cek jam di tangan menebak kira-kira sudah jam berapa sekarang.

Kini pukul empat lebih lima menit, museum tutup memang pukul lima kurang, namun museum terasa lebih sepi, jika dilihat dari jam tutup yang seharusnya beberapa puluh menit lagi. Yang memang juga sedikit mereka sadari juga tadi, karena museum yang pas awal mereka datang tadi terasa sedikit penuh dan kini sudah menjadi lebih lenggang.

Mereka yang memutuskan untuk menyudahi petualangan mereka di museum hari ini, berdiri dan melangkah mencari pintu keluar, mereka mencari spot kursi taman sekitar dan duduk, menikmati linkungan sekitar, orang-orang yang berlalu lalang, penjual balon warna-warni, booth foto, asri-nya sejauh mata mereka memandang.

Swafoto, mengabadikan momen-momen indah pada sekitar, ber-pose lucu, mem-foto candid satu sama lain, saling merekam tingkah mereka satu sama lain, keseruan ataupun kekonyolan masing-masing, mengabadikan hari ini, silau senja tipis-tipis, tertawa, menikmati semuanya di hari ini. Dan ditutup dengan mereka berdua foto di photo booth.

Sore sudah hampir usai, keceriaan yang mereka nikmati di hari ini, good mood yang mereka kumpulkan sebaik-baiknya di akhir pekan seperti ini, dan bersenang-senang. Mereka sudah siap menghadapi hari esok yang penuh dengan harapan-harapan baru, melangkah maju persiapkan diri guna menggapai  impian-impian yang mereka cita-kan di masa kini.

Dalam perjalanan pulang ke flat, mereka mampir sebentar membeli makanan untuk makan malam, malam yang masih awal jadinya langit masih nampak biru gelapnya, makanan cepat saji sebagai penutup hari, dalam perjalanan pulang, mereka berbincang hal dan kejadian yang menyenangkan di hari ini, menikmati hari yang seharusnya begitu, setelah sampai di ujung trotoar, mereka kemudian berpisah menuju flat masing-masing.

Mereka melambaikan tangan tanda sampai jumpa sebelum benar-benar berpisah.

*

Hidup tidak di negeri sendiri, punya kesulitan-nya dan suka cita-nya masing-masing. Senang sedih, susah mudah, berat ringan, semuanya ada porsi-nya masing--masing, dan pada akhirnya semua ada ditangan kita sendiri, mensyukuri ataupun mengeluh, bahkan tidak ada yang salah jika kita perlu mengeluh, itu juga bagian dari kehidupan.

Tiffany dan Nadine, dua perempuan ini mulai kembali lagi pada dunia masing-masing. membersihkan diri, menyantap makan malam, menyelesaikan tugas-tugas, dan membereskan hal-hal yang perlu dibereskan untuk hari esok. Perkiraan cuaca mengatakan besok akan sedikit berangin namun tidak ada tanda-tanda akan hujan, jadi mungkin akan sama dengan hari ini.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit, Ohya, Jayden biasa off pukul sepuluh malam, perjalanan memerlukan mungkin sekitar dua puluh menit dengan berjalan kaki, tapi hal itu sudah biasa dilalui, bukan masalah dan hanya perlu dinikmati.

Flat milik Nadine dan Jayden cukup luas masih bisa ditinggali dua-sampai tiga orang, sedangkan flat Tiffany lebih pada ruangan minimalis hanya bisa ditinggali dua orang, namun tetap enak ditinggali dan nyaman. Jika sedang libur, mereka biasanya sering saling menginap satu sama lain secara bergantian, tapi biasanya yang menjadi tempat favorit tentu flat milik Nadine karena lebih luas. Entah untuk menonton film bersama maupun sekedar menginap.

Setelah itu, sebelum tidur mereka akan mengecek ponsel, entah itu postingan, berita-berita baru dan pesan masuk, kebiasaan yang sama seperti kebanyakan orang lainnya. Menyetel dan mendengar lagu sebentar kemudian persiapkan diri untuk tidur, tentu dengan pikiran yang lebih cerah dan ringan.

Good night, Tiffany. Good night, Nadine.


*
*
*

Karya yang tercipta ini, hanya untuk kebutuhan pikiran dan jiwa, pelampias-gairah, tak melulu tertuju untuk orang lain, mungkin tak sesuai selera pasar dan tak masalah. Menjadi penyembuhan diri sendiri dan kenikmatan. Pelepas penat, hobi yang positif, dan juga berusaha berkembang dan berproses. Menuang kreatif di kepala, sebebas-bebasnya, idealisme, dan indie.

Komentar

Postingan Populer