Mermaid
source: google images
"Dia benar-benar tidak tahu, mungkin lebih tepatnya tidak mengerti, apa yang telah dilihatnya."
"Pria itu sebatang kara?" ucapnya- pelan pelan. Bergumam sambil menatap dia yang sedang berjalan semakin menjauhi ilalang ilalang yang menyelimuti tanah di areal sebelah situ, tempat si pria berdiri dengan lama tadi sembari menghayal menatap jauh yang tak berbatas. Langit tak mampu berlama-lama lagi menahan indah warna-warna dari lekuk tubuhnya sendiri dan tibalah malam.
Asap mengepul padat dan keluar dari corong rumah-rumah di desa itu. "Aku suka kucing!" Gadis itu tercuap dengan senang, wajah cerianya tak mampu menahan binar-binar bintang manisnya dia. Sepontan kucing yang sedari tadi di dekatnya perlahan menghampiri dirinya, dia menundukkan tubuhnya sedikit untuk mulai mengusap-usap dan pada akhirnya menggendong kucing itu.
Memang lucu, siapa yang tak suka kucing? Dan apa yang lebih misterius ketimbang cara berpikirnya kucing. Gadis yang menyebut dirinya sendiri Katrina ini selalu menjaga dan memberi makan dan minum hewan-hewan liar, terutama kucing.
Musim panas, langit bisa begitu biru dan ceria. Lama Katrina menatap langit, tiba-tiba dari arah kejauhan muncul pria asing kemarin, datang di tempat yang sama dan waktu yang sama, tapi sepertinya hanya Katrina yang menyadari keberadaan si pria itu, sedangkan si pria tidak menyadari adanya Katrina yang selalu saja menatapnya menelisik.
Katrina punya kebiasaan atau kesukaan yang unik, dia senang menganalisa dan melihat gerak-gerik manusia lain, menurut dia hal itu unik, memiliki seninya tersendiri, mungkin karena setiap manusia selalu saja berbeda dengan manusia lainnya.
Katrina yang kelak adalah legenda desa. Dia mungkin akan dicintai, paling tidak menjadi sosok yang dirindukan. Bukan pahlawan saja yang selalu berjasa, tapi hati yang baik dan penuh kasih juga.
Katrina juga bagian dari alam, sama seperti manusia yang punya ikatan dengan semesta. Katrina memang sudah seperti bagian dari orang-orang di desa tersebut, padahal tempat tinggal dia sedikit jauh dari desa dan ia juga tinggal sendirian, kepiting merah yang banyak tinggal di halaman rumahnya-lah yang menjadi teman baginya.
"Aku juga merindukan ibu," Katrina merenung dan sesekali menghela nafas, ia sedang berpangku tangan menghadap keluar jendela dengan bingkai kuning, sembari menghadap ke arah pantai dan laut, rumah kayu yang ajaib baginya, sebab dia bisa banyak berfantasi di dalamnya dengan tulang kerikil kerang-kerangan dan ciptaannya sendiri berupa pernak-pernik, sebagai dekorasi sudut-sudut ruangan kamar ataupun ruangan lainnya.
Ayah, ibu dan semua kakak-kakaknya tetap berada di perkampungan mereka yang sejauh dimana laut membentang, Katrina hanya gadis ceria yang penuh rasa penasaran di pikiran, dan imajinasi unik Katrina lah yang akhirnya mendorong dirinya untuk meminta izin kepada keluarganya agar bisa berpetualang sementara dan keluar perkampungan untuk melihat dunia, dunia yang lain, untuk mengisi keingin-tahuan dirinya akan sesuatu yang waktu itu cuma ada di khayalan.
Langit tak terbatas dan laut sebagai pantulan warnanya, Katrina menikmati hari-harinya.
Surat-surat selalu terkirim tepat waktu, waktu senja menyinsing, di dalam botol kaca surat-surat biasa dititipkan kepada segerombolan burung-burung yang akan terbang melintasi laut. Pesan terkirim selalu kepada keluarga di perkampungan.
Katrina suka sekali menulis atau bercerita banyak pada selembar kertas, lalu ditempel di dinding kamarnya, dia akan tersenyum hanya pada tulisan yang telah dia cipta menjadi karya yang penuh imajinatif itu. Menghabiskan waktu dengan menulis dan terkadang bermain dengan kucing liar yang menghampiri rumah kayunya.
Ada hutan kecil di belakang rumahnya, yang sering Katrina datangi, entah hanya berjalan-jalan melihat hewan yang tinggal disana, entah mencari jamur-jamur untuk makan malam atau dia akan datang hanya untuk menghabiskan waktu karena dia merasa bosan, sebab ia tak memiliki banyak teman, mungkin tidak sama sekali, ia tak begitu berani muncul di desa begitu saja.
Hutan yang terkesan sepi dan gelap biru adalah kenyamanan yang tiada tara.
"Deg," Katrina sedikit terkejut, karena ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Dan di dalam hutan kini terasa tak bersua bagi Katrina, sontak-kaget ia lama sekali untuk memutar balik badannya untuk melihat tangan siapa yang menyentuh pundaknya dan tak lagi berikan gerakan yang lain, pikirannya tak mungkin berpikir kalau itu hantu, sebab ia tak tahu hantu itu apa.
"Aku jarang sekali melihat kamu di desa, apakah kamu warga baru?" pria itu akhirnya berucap dalam hening.
"Kenalkan, aku Haku" berucap lalu tersenyum manis sekali -Katrina terdiam dan sedikit merah merona dibagian pipi.
"e ee, aku Katrina, salam kenal" Katrina berbicara menggebu dalam hati, -Dia pria yang lalu itu, yang sering muncul di areal pantai seberang sana, pria yang kuanggap sebatang kara itu, pria yang terlihat sangat kalem dan dingin, senyum wajahnya terpancar dia adalah sosok pria yang sepertinya sulit menunjukkan siapa dirinya sendiri. Tertutup.
.
.
.
Se-cercah cahaya rembulan malam, dan pecah dalam ringkih kabut malam, menyambut malam se-utuhnya, Sang ratu dan sejuta imaji-nya, kertas dan segala ornamen pernak-pernik sudah siap diri satu per satu menunggu giliran, akan dijadikan karya oleh sang ratu, Katrina menikmati malam itu dengan dunianya sendiri, menulis dan berbaur dengan daya cipta lainnya. Menuang kreatif, dari karya tulis atau ukir-ukiran dari dunia lautan.
Siang-sore bahagia-nya bertemu teman baru, dan malam yang tiba, cukup mengalirkan ide idealnya menjadi karya yang lebih deras lagi, itu yang aku suka dari Katrina, saat dia tenggelam dalam imaji-imaji uniknya.
Pria sebatang kara dan Katrina adalah urusan mereka sendiri, tak turut ikut campur, namun mereka tak lagi asing, Katrina tak lagi menerka-nerka, mereka berdua tetap nyaman dengan dunia sendiri-sendiri, Tetapi Katrina pun pada akhirnya sudah punya teman baru lagi.
"Mungkin sudah saatnya, aku kembali dulu ke rumah, aku rindu mereka" -gumam dan renung Katrina, mengawang-ngawang bersama senja, tiga puluh hari setelah pertemuannya dengan Haku sang pemuda sebatang kara baginya.
Selama minggu-minggu berlalu, mereka ada beberapa kali bertemu, Haku selalu baik kepadanya, mereka sering mengobrol, mengobrol apa saja, Katrina juga beberapa kali mengundang Haku ke rumahnya untuk mengobrol dan meminum teh melepas sore menuju lebih sore lagi, sore dimana langit mulai lebam kehabisan warna kuning kemerahannya, mungkin langit juga bisa lelah.
Haku bisa menerima siapa Katrina, bagi Haku itu bukan masalah, Haku sepertinya bisa sangat terbuka dengan apapun, itulah mengapa Katrina selalu senang berbicara banyak dan bisa kemana saja topiknya saat bersama Haku, dari bunga, bulan sampai semesta. Katrina mengagumi Haku sekali, bagi Katrina, Haku pantas menjadi kakaknya, walaupun usia Katrina sudah pasti sangat jauh dibanding Haku, sang kakak yang sebatang kara hi~
"Aku mungkin perlu untuk memberitahu dia," -ucap Katrina sendiri.
"Baru setelah itu, kucing kucing kesayanganku." -ucap Katrina lagi.
Katrina bertemu dengannya tadi pagi saat sedang berjalan-jalan sendirian, berbincang sebentar dan menyampaikan pesan, Haku bilang akan datang untuk mampir ke rumah kayunya nanti sore seperti biasanya.
Haku setuju dengan keputusan Katrina yang akan kembali ke perkampungannya itu, Haku yang juga akan menjaga rumah kayunya, memberi makan kucing-kucing liar kesayangannya itu, mungkin juga Haku akan memberi izin untuk meminjamkan perahunya kepada Katrina, dan sebelum hari keberangkatan tiba, Haku juga akan menitipkan bungkus makanan kepadanya, masakan buatan diri Haku sendiri.
"Aku akan memberi izin kamu untuk menggunakan perahu milikku, dan yang akan mengantarmu, aku punya seseorang, tenang saja," -Haku berucap dilanjutkan dengan menyisip teh hijau hangat buatan Katrina.
"Katrina, sebelum aku pulang nanti, aku ingin membuatkan makanan kesukaanku kepadamu, resep dari ibuku dahulu." -Haku bersiap-siap.
"Ah kau ini, baik sekali." -Katrina tersenyum mengembang.
Setengah jam kurang lebih waktu yang sudah terlewati-
Haku yang sekalian memasak makanan untuk makan malam, mulai menyiapkan piring dan lainnya, masakan untuk mereka berdua, ada omelette disana, beberapa jamur-jamuran, tumisan sayur hijau dan sup herbal andalan Haku, terlihat lezat sekali. Selamat makan!
Setelah makan malam dan selesai membersihkan piring-piring dan membereskannya, Haku izin pulang, langit juga telah gelap, mereka akan bertemu besok pagi untuk berjalan-jalan dan memperkenalkan kucing-kucing liar yang biasa Katrina temui kepada Haku.
"Dah Katrina,"
"Dah Haku, sampai jumpa besok,"
"Kucing kucing ini belum aku kasih nama, tapi baik-baiklah dengan mereka." -ucap Katrina saat pertemuan pagi.
"Oh ini mereka yang sering kau ceritakan, oh hai~ kalian lucu-lucu sekali, pantas Katrina sayang sekali sama kalian," -ucap Haku asyik sendiri.
"Baiklah Kat, mereka adalah tugasku sekarang, aman di tanganku," -senyum Haku lucu
Dua pekan berlalu, waktu yang ditunggu telah tiba, Haku datang tepat waktu sembari membawa bingkis makanan kepada Katrina, Haku membantu Katrina mengangkat barang-barang ke atas perahu, setelah itu Haku berbicara singkat dan memberi beberapa pesan kepada paman yang bertugas mengendarai perahunya.
"Hati-hatilah di perjalanan, ingat untuk memakan makanan yang kuberikan agar tidak terlalu lapar," -ucap Haku sembari mengusap-usap kepala Katrina.
"Oh, paman itu bernama Andrei, dia orangnya baik dan ramah, berbincang saja kepadanya." -ucapnya lagi.
"Paman jaga Katrina, dan hati-hatilah selama perjalanan," -lambai Haku tanda perpisahan.
"Baik, nak, sudah menjadi tugas saya,"
"Sampai jumpa lagi Katrina!
"Sampai jumpa lagi Haku! kau baik-baiklah!"
.
.
.
Senja memang belum tiba, cuaca cerah kali ini tapi tak berujung terik, syukurlah. Perahu kian jauh, dan menjauh lagi, sampai hilang tak tertampak mata. Haku berdiri sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan ikut terbang mengawang pikirannya, terdiam. Dan dirinya kembali lagi seperti semula dan sedia kala pada kebiasaan-nya, terdiam dan mengawang melihat langit. Mungkin dia memang tercipta untuk seperti itu.
"Sampai ketemu lagi, Katrina" -ucapnya pelan, mengirim pesan kepada langit dan ombak lautan.
Untuk vibes yang lebih dalam menutup akhir cerita -Mondo Gascaro ft Aprilia Apsari - Lamun Ombak (Youtube, Spotify)

Komentar
Posting Komentar