Penemuan
source: google images, painting.
"Aku melakukan yang baik", "Tidak, aku akan melakukan yang lebih baik".
Ini semua karena dia, semua karena dirinya. Sebut Aurora begitu saja saat sedang menikmati masa-masa melamun-nya di kamar tidur saat sore kini sekitar pukul empat menjelang lima, karena cahaya sedang terik-teriknya menembus kaca kamar namun sejuk seperti penuh kerlingan cahaya berlian dan semua ini menjadi begitu nyaman bagi dirinya yang sedang dilanda kemarau patah hati, sedikit saja.
Boneka Teddy krim lusuhnya hanya bertengger di sudut ranjang tempat tidur, bersandarkan tembok dengan tekukan badan yang juga menunduk, seperti ikut merasakan kesedihan tuan-nya. Aurora menatap tuan Teddy berdasi marun itu sejenak, hanya bagian dari kegiatan upacara lamunan-nya itu. Dia sudah tidak bisa menangis, dia hanya seperti itu, sudah empat hari Aurora seperti raga tanpa nyawa.
Bumi seperti begitu diam tak berkutik takut sendiri pada gerak-gerik tubuhnya karena melihat Aurora sampai seperti itu, takut mengusik ketenangan dirinya. Ibaratnya bumi akan kembali bergerak seperti sedia kala, hanya jika Aurora yang memerintahkan untuk bergerak.
//penglihatan//
Aurora merindukan sentuhan. Dia merindukan berjalan-jalan mengelilingi setiap tiga blok rumah bersama dia. Tapi apapun itu, seluruh cerita telah berlalu. Apapun itu, luka pasti takkan dia izinkan menganga terlalu lama. Lama kelamaan dia bosan sendiri, mengulang terus-menerus perasaan itu, dia akan kelelahan, lalu, mungkin tertidur atau mungkin merefleksikan kembali, mengapa sampai perlu- ingatan yang melukai itu harus ia biarkan ada & bersarang sehingga bisa menjadikan pengalaman yang sadis?
Genius the cat. Bulu salju-nya yang khas & tentu saja tidak se-dingin es salju musim dingin, atau tidak se-dingin es teh markisa. Dia sepertinya seekor introver dia melakukan apapun yang dia mau, seperti kucing pada umumnya, tapi juga dia melakukan-betulan "apapun yang dia mau", bergerak- berulang, patah membalikkan-tubuh, berhenti & berputar haluan, yang juga tidak seperti kucing pada umumnya. Dia kucing dengan pikiran manusia..
Aurora suka dengan keadaan kamar-nya, sekitar-nya, kucing-nya, dan menjadi lebih suka lagi, kini, baru-baru setelah dia merasakan patah-hati. Mungkin lebih tepatnya, dia baru saja merasakan hidup seutuh-utuhnya hidup. Dia mungkin baru saja "tercerahkan" ke tahap level hidup yang lain lagi, bukan hitam bukan putih tapi warna-warni dan warna warna baru yang selama ini ia tidak tahu ada.
//imperfect//
Yang bahkan; ternyata dia tidak pernah benar-benar pergi. Dari pikiran. Dari kepala. Dari kaca kaca setiap derik mata berpindah. Menjadi rasa sakit & tekanan, yang bisa dirasakan hanyalah kesakitan, dan semoga, dan semoga. Tidak menjadi realita yang berkeliaran dalam keseharian. "Padahal sudah lama sekali, aku mengira dia sudah pergi lenyap entah kemana, huh" -sebut Aurora sekena-nya tapi tekanan.
"Jangan ganggu anak perempuan-ku, aku sayang dia.", suara pihak ketiga yang Aurora tak akan pernah tahu, apalagi mendengarnya. Karena itu hanya partikel kecil yang terpaksa muncul menjadi sebuah energi, sebab, dia sayang Aurora. (( dia terpaksa muncul melanggar batas hukum beda dunia demi ego dan kesayangan dia. Dan akan di hukum ))
Benih-benih frekuensi seperti itu, sudah akan siap musnah, hanya karena terlalu menahan dan pada akhirnya meledak-menembus-batas yang padahal semua itu sia-sia. ia tahu betul dengan penilaian mata telanjang semua sia-sia. Tapi patut di apresiasi sebab -mungkin- itulah arti cinta sesungguhnya. Padahal ia memang tahu ini semua hanya menjadi sia-sia, tapi dia tahu lagi, bagi dia itu tidaklah sia-sia. Mengapa lagi ingin dilawan?
//burbank//
Butuh frekuensi tertentu untuk bisa sampai di tahap seperti ini. Sore-nya yang indah, tata-kota yang Aurora suka melihatnya. Dan juga aroma dari gelombang yang dipantulkan oleh cahaya matahari panas, walaupun saat ini sudah sore namun karena teriknya siang tadi membuat getaran itu masih awet sampai sekarang yang dimana matahari sudah ingin tenggelam mendinginkan tubuhnya.
Serba putih serba minimalis kamar Aurora. Musik lo-fi, denting-denting jazz. Yang membuat perasaan ia lebih baik umm.. sekarang. Lingkungan luar sedang didera hawa panas jadi luaran terkesan berdebu. Se-berdebu apa dengan perasaan yang sedang sakit hati?, paling bisa, kamar dia selalu rapi. Jadi, dunia-nya tidak hancur-hancur sekali, right?
Zona nyaman, rasa sakit, lebel yang dikasih orang. Aurora sudah tidak ingin memperdulikan apapun lagi yang membuat perasaan-nya tidak menjadi lebih baik. toh, yang selama ini dia lakukan.. dia tahu apa yang ingin dia lakukan, dia tahu alasan-alasannya, dia mengenal baik dirinya, dia sadar betul konsekuensinya & dia tahu, orang lain tidak mengenal-nya, hanya menghakimi dirinya.
//mimi//
Suara-suara yang telah Aurora simpan erat selama bertahun-tahun, bagi dia hanya perasaan cemas yang dia pertahankan, karena ke-halusinasi-an menganggap itu adalah untuk memperpanjang waktu untuk hidup. Konsisten tetap dia lakukan walaupun sesekali -konsisten yang sesekali-, ketika dirinya mulai cemas yang tak berdasar itu muncul.
Menentang langit adalah hobi dia, hanya untuk mengeluarkan cairan hitam dari dalam tubuhnya. Itu sama halnya ketika dia memeluk Genius. Walaupun Genius terkadang sepertinya risih tapi Genius tetap sayang Aurora. Mereka di satu sisi dengan saat apa adanya punya beberapa perbedaan mencolok, namun di-sisi lain mereka sangatlah satu frekuensi. Mereka seperti sudah menjadi takdir, hidup & tercipta untuk bersama-sama.
Dari satu hal ke hal yang lain, apakah masalah buatmu? Beri Aurora ruang, ini panggung dia. Aku hanya ingin dia sembuh -sebut kucingnya dalam hati, walaupun sudah pasti yang terdengar hanya meong-meong belaka. Tapi Genius tidak dihukum karena dia tidak melanggar aturan langit tentang tata cara hidup makhluk hidup beda golongan.
//hujanderas//
3:02 PM
-keesokan harinya-
Jam analog di sudut kanan laptop-nya, mengingatkannya jika sebentar lagi dia harus mandi, janjinya dalam hati beberapa jam lalu. Dia malas mandi, jangankan untuk pergi ke WC, menggerakkan kaki untuk menginjak sandal jepit kamarnya saja susah, sebab, beratnya rasa sakit hati di dada membuat semua tubuhnya menjadi berat.
Teh hangat di cangkir porselin dengan pai apel untuk menemani sore ini, duduk sembari melihat keluar jendela kamar melihat jauh dan melamun sudah tak ada bedanya lagi, selimut-baju bulu dan celana pendek membuat Aurora nyaman dilihat. Dia menikmati masa-masa dia sedang diam & tak ingin mengobrol dengan se-siapapun, bergumam saja Aurora sudah lesu.
((Intinya)) wajah Genius seperti memancarkan ia sedang kesal karena merasa kasihan-keheranan kepada Aurora yang ia tatap dari balik kotak kerdus di sudut lain di kamar, yang kotak kerdus nya di wrap menjadi cantik dengan warna pink-hitam oleh Aurora dua bulan lalu. untuk tempat Genius bersemedi. "Perkara si bastard itu, Aurora sedih bukan kepayang segitunya, uh, kasihan." -Genius hanya ber-empati.
//properti//
"Aku nyaman aku sendirian, maksudku dengan Genius di dalamnya.." -Aurora bilang seperti itu tanpa ekspresi, kembali melamun. "Aku mulai merasa aku begini sepertinya bukan untuk dia, tapi untuk siapa..?" --- "Sepertinya aku menyadari sesuatu, aku begini karena waktu itu aku kompromi untuk berhubungan dengan dia, yang aku sendiri sudah menyadari, kalau aku dan bawah sadarku tidak butuh hubungan seperti itu." --- "Baiklah, aku begini satu persen untuk dia, satu persen lagi untuk hubungan yang sudah tak ada, tapi sembilan-puluh delapan persen untuk aku yang sudah tahu kalau aku tidak butuh adanya hubungan macam ini awal & akhir, tapi aku keras- kepala tak bisa dibilangi oleh logika-ku sendiri." -ucap Aurora terpicu perasaan menyebalkan yang muncul.
Tuan Ted hanya diam bertengger di sudut ranjang tempat tidur, tetap seperti itu. Dia menjadi antik ketika Aurora sedang bergembira, tetapi menjadi berlian kita situasi sudah kacau seperti ini. Tapi aku yakin, Tuan Ted mengerti segalanya, dia bisa saja ternyata dahulu-nya adalah barang kesayangan salah-seorang filsuf yang tidak populer, tapi bijak. Sehingga Tuan Ted banyak belajar dan kini dia bahagia luar-dalam.
"Suara-riuh tetiba sekilat itu muncul dari dalam diri Aurora, mungkin petanda dia akan siap untuk baik-baik saja. Ide begitu bermunculan dengan sangat banyak, dia move on! Biarkan dulu dia sendirian, mungkin bersiap-siap, apapun yang mau dia lakukan, terserah, kita akan menunggu!" -Sebut Genius ibaratnya begitu. Pula gesturnya hanya diam menunggu di balik pintu kamar seperti itu.
//strangeland//
Malam ini terlihat begitu banyak bintang-bintang, Universe. Dia sedang di loteng sembari tiduran di kursi panjang dengan segelas teh hangat tanpa gula, Genius menemani dia disana, menghayal, menikmati hidup, sesuka-dia, daerah tempat dia tinggal tak pernah riuh jika malam. Lampu kota tak menganggu sorot penglihatan mata menuju bintang-bintang di langit sana.
Dia anak semesta, yang melukai-nya seharusnya menyesal. Dia begitu indah dengan segalanya pemikiran-nya walaupun norma masyarakat bisa saja menolak. Tapi dia bercahaya, dia tak menghancurkan segalanya, ibunya, malaikatnya, alam sadarnya, dan segala yang tertuang di buku tulisnya tentang pemikiran, juga garis-garis pena, paling tidak seperti itulah jika diartikan dari tuangan tinta pena di buku tulis-nya disana.
Dia bergegas untuk kembali, kembali ke mimpi-mimpi, Genius juga sudah disuruhnya masuk ke kotak pink-hitam, dia melakukan semua kegiatan-nya yang biasa dia lakukan sebelum tidur, dia yang sempurna semakin tercerahkan, dia yang baik, yang idealis pandangan-nya, besok dia akan menjadi baru, tersembuhkan, berangkat ke asing, rumput tanah merekah. Besok Aurora pergi ke luar kota.

Komentar
Posting Komentar