January #throwback

source: google images. daffodil.


mari ini dicoba lagi pelan-pelan, senja menggila ini membawa badai dan debu. deru dan dera bertubi-tubi tanpa pandang bulu. gue takut, gue kelelahan dan gue muak. badan ini kering dan tandus, tidak terasa ada jiwanya lagi, gue ga pernah tahu dan paham, ini kapan usainya atau memang tidak akan pernah usai lagi soalnya gue ditakdirkan memang begini adanya, namun, semoga tidak ya.

badai anggrek akhir-akhir ini merajalela, membuat hati dan jiwa tidak kunjung bangkit, silahkan pulih, soalnya gue menginginkannya begitu, harapannya. terjebak hujan di taman ga bisa pulang membuat gue kewalahan, menyerah pada takdir dan memakai jas hujan lusuh untuk sampai ke rumah itu sesuatu banget, ujian lagi ujian lagi.

januari ternyata tidak terang, awal tahun sudah digempur hal-hal aneh dan nestapa, seolah tahun ini bakal ada perang besar untuk menyucikan diri mempersiapkan hal yang lebih besar, tentulah itu sekedar harapan gue saja, siapa kita berani menentukan ujungnya baik, bisanya bukan itu yang menjadi pilihan buat diri gue sendiri, bisa saja sampai akhir gue hanya sebagai pembuka jalan atau pembuat cerita saja.

lekas pulih jiwa-jiwa ini, semoga yang ditakutkan tidak terjadi, semoga semakin kuat saja menjalani hidup ini, bisa membayar hutang-hutang karma saja gue sudah bersyukur bukan main, lebih banyaknya kejebak lagi dan lagi, semakin jauh dan capek, karma masa lalu yang belum selesai inilah yang jadi batu sandungan, harusnya menjadi batu loncatan untuk menjadi orang besar.

gue sedih sampai ingin rasanya menangis, gue sering mengaku kekalahan, menutupi yang sudah-sudah agar lekas berdamai, membuka halaman baru, namun tidak semudah itu, gue aslinya dua orang atau mungkin tiga sampai empat orang atau setahun sekali nambah orang baru, idealnya gue mesti hanya membawa diam dalam hati ini, tidak ada yang mengerti itu adalah kepastian.

banyak musuh dalam selimut yang membuat gue muak, bukan musuh sebenarnya, gue juga bukan orang hebat, yang mesti diselimuti seperti itu, hanya saja orang-orang ini, orang-orang  aji mumpung gila-gilaan, menghisap darah seperti nyamuk-nyamuk kecil, dibasmi juga tidak ada untungnya, perlu gue tinggalkan dan cut off, tak apalah, yang sudah ya sudah.

semoga pelatihan ini membuat gue lekas sadar, dibakar di api penyucian agar mengkilat, tak apa sekalipun jika gue belati yang dipakai orang, asalkan ia tepat, gapapa gue rela-rela saja, bekerja di sirkus yang penuh orang-orang suportif dan memeluk gue erat, hidup dengan keluarga pilihan dan pantas disebut begitu walaupun tidak ada hubungan darah, gue tidak masalah. 

Komentar

Postingan Populer