Jurnal Film; ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU TAHUN 1995 #ENNS
source: google images. IMDb.
Kali ini gue menonton di jam paling awal, antrian yang macet, tapi syukur sekali gue pergi ke bioskop yang tidak begitu ramai pengunjung, tetap saja jika ingin mengejar kursi ternyaman di bioskop itu gue tetap tidak keburu, walaupun gue sampai di lokasi satu jam lebih awal tetap saja rupanya antrean sudah mengular, tidak heran.
Setelah gue selesai menontonnya, gue bisa membayangkan bahwa novel Ancika pasti bagus sekali, gue memang belum membacanya, namun dari alur awal hingga selesai, semua pengalaman yang dijalani terasa menyenangkan sekali, gue merasa yakin perbandingan antara yang terdahulu akan selalu membayangi, namun tetap saja Ancika sungguh baik-baik saja.
Setahuku teaser Ancika di film Dilan tidak sama dengan yang sekarang, namun Azizi Asadel membuat Ancika menjadi miliknya, terasa tepat sekali dan tidak keberatan peran bagi Azizi menjadi Ancika, begitu pula Dilan kali ini, rupa-rupanya Dilan yang sekarang juga sukses diberikan tanggung jawab yang berat pastinya, malahan lebih terkesan mature dan elegan.
jujur, gue menyukai Dilan yang saat ini diperankan oleh Arbani Yasiz, gue yakin, tidak akan merubah Dilan Iqbaal Ramadhan, mungkin lebih tepat jika semua sudah mendapatkan porsinya sendiri-sendiri, kisah Ancika sendiri lebih menciptakan vibes sendirinya, gue kira akan sensitif, tapi tidak sama sekali, di Ancika sendiri semua sungguh baik-baik saja. Elegan.
Konflik yang masih sama tercipta untuk anak sekolahan seperti Ancika, namun Ancika menghadapinya dengan gayanya yang khas, tidak berlebihan namun tetap manis dirasakan. Tentu saja momen uwu-nya masih ramai sekali, tapi gue lebih nyaman Ancika-Dilan yang melakukannya. Apapun subjektifitasnya itu, film ini nyaman buat ditonton.
Arbani Yasiz berhasil mengemban tugas peran Dilan dengan gayanya sendiri, malahan menurut gue, ia membuat karakter Dilan menjadi lebih berkarisma tanpa melencengkan sebagaimana Dilan itu sendiri, rekan-rekan pemeran yang lain juga memerankan peran mereka sendiri dengan enak sekali, terasa sekali seperti beginilah barudak-barudak Bandung yang ingin mereka tunjukkan.
Tapi menjelang akhir adegan, gue merasa penulisan lebih terasa kuatnya, seperti ingin mengimbangi naskah untuk akhir novelnya, maksud gue, sepertinya tulisan atau naskah bacaan di novel tersebut bagus sekali dan menjadi penutupan epik di novel-nya, maka dari itu, seolah penutup di film ingin menyerupai novelnya, sungguh bagus dan terharunya terasa sekali.
Namun jika dijadikan dialog kerasa kaku sekali jika harus diambil bulat-bulat dari novel, mungkin itu adalah kesukaan khusus dari sang pembuatnya...
JOURNAL
Dunianya Ancika memiliki khasnya sendiri yang mampu membedakan mana Ancika mana Milea, seolah Milea itu merah muda merona dan Ancika adalah biru yang sejuk, seperti dinginnya kota Bandung, bukan berarti Ancika tidak sweet, ia punya caranya sendiri untuk melakukannya, maka dari itu Dilan yang saat ini adalah pasangan yang lebih tepat bagi Ancika.
Dilan sungguh terasa kalem dan karismatik, ia bad boy namun elegan, menciptakan Dilan yang lebih segar, lebih tepat juga soalnya ia juga sudah menjadi mahasiswa, dan Arbani Yasiz seolah tepat menggantikannya. Ia memainkan Dilan tidak terasa ada bebannya, dan itu menjadikannya menyenangkan sekali.
Tokoh di Ancika terasa tidak begitu "banyak". Jadi membuat Ancika dan Dilan tidak kehilangan spot-spotnya, krusial sekali karena ini bagus untuk pengembangan karakter mereka, soalnya mereka baru, dan mereka harus mendapatkan hati dari penonton setia Dilan, dan gue berharap seharusnya mereka sudah berhasil.
CONCLUSION
Jika harus menontonnya sekali lagi, gue mampu dan bisa menyukainya. Sebab secara adegan, naskah dan dramanya masih membuat gue mampu untuk menikmatinya, syukurlah secara konfliknya terasa mengimbangi apalagi gue rasa film ini pasti mengutamakan momen-momen romatis dan tidak mungkin tidak, beginilah film ini apa adanya.
Wajar jika film ini banyak digandrungi, walaupun untuk yang sekarang gue tidak tahu apakah mirip dengan suasananya dengan yang terdahulu, tapi gue yakin bisa, secara naskah sudah bagus banget kok, mungkin tetap akan ada sentimental tersendiri dari perubahan-perubahan yang ada tapi nanti juga bisa dipahami di masa mendatang.
Siapapun yang menemukan pemeran untuk Dilan-Ancika berhak mendapatkan dua jempol, sebab sudah berhasil dengan sempurna, sebab duet Azizi-Arbani ini akan melekat dengan baik di benak gue, Ancika dan Dilan yang baru, film segar di awal tahun dari gempuran film-film horor yang tidak satupun gue tonton soalnya takut.
Penilaian sentimental pribadi: 8/10.
The Panasdalam Bank & Chintya Gabriella - Saat Ingin Denganmu

Komentar
Posting Komentar