Jurnal Film; 13 BOM DI JAKARTA #ENSS
Akhirnya gue bisa juga hadir di tontonan 13 Bom di Jakart ini, sejak awal-awal dimana gue mulai tahu adanya film ini gue sudah tertarik dengan film ini, sampai juga dimana gue mendapatkan kejutan-kejutan kecil, suara-suara masyarakat tentang kerennya film ini, semakin membuat gue ingin menontonnya, gue sudah pikir ga bakal bisa nonton film ini tepat waktu di bioskop.
Walaupun gue datang terlambat di bioskop kemarin itu, mungkin telat 4-5 menit bisa lebih bisa kurang, karena salah jalan kejebak di daerah Malioboro, maunya di JCM karena sudah jelas banget, akhirnya memutuskan nonton saja di tempat terdekat, di Amplaz. Mampir sejenak di Pok-Pok beli jajan, kurang tepat karena sudah telat banget.
Walaupun terlambat, gue masih merasakan film ini keren, aksi demi aksi yang ditunjukkan bukan kaleng-kaleng, namun gue tidak ingin melompat ke sensasi film internasional di luar sana, walaupun menurut gue film ini, adegan demi adegan sudah naik level, karena nanti jadi ga adil ke ekspektasi diri sendiri, konflik yang serasa mengikuti film eropa menurut gue menjadi terasa memaksakan diri.
Terjadi pembagian yang lumayan terasa antara geng baik dan geng musuh, dimana menurut gue entah kenapa yang terasa menarik, brutal dan unggul lebih kerasa di pihak musuh itu sendiri, dari segi dialog, kesan hingga peran yang begitu menarik hati, apakah memang di setting seperti itu supaya kelihatan perbedaannya gue kurang tahu.
Secara permainan warna dan cahaya begitu terasa ciri khasnya, juga tren-tren yang lumayan bisa mengikuti masa sekarang belum lagi obrolan dan gestur ringan dari sang nerd-nerd berdua ini, yang mencolok dan tepat gue rasa. Lutesha juga menampilkan keunikannya yang memberi angin sejuk untuk film aksi yang menegangkan ini melalui komedik dan manusiawinya.
Menuju penghujung film, intens semakin dibuat mendalam, tidak lupa, unsur-unsur trauma ataupun kesehatan mental tetap disisipkan dalam karya sang sutradara ini. Menjadi senjata andalan yang ada fungsinya, belum lagi akting mewah dan elegan dari aktor-aktor teater yang gue kenal, menjadi daya terakhir bagi gue sendiri.
Di akhir film ini juga, bagusnya semakin kelihatan, gugurnya Waluyo seolah menjadi tanda start untuk mulai meningkatkan intens menjadi lebih menakjubkan, aksi tarung dan kesadisan seolah membuat gue yang menonton lupa untuk bernapas, plot twist yang lumayan bikin kaget juga menjadi rasa manis tersendiri kepada film ini, seingat gue, ada bagian yang membuat gue hampir menangis terharu.
JOURNAL
Film ini bagus tapi ekspektasi gue tidak tercukupkan, ingat, bukan rendah, tidak mungkin, soalnya film ini sungguh naik level, beberapa celetukan yang memiliki kesan tersendiri untuk gue, lumayan menjadi penghiburan. Keren hanya saja tidak cukup mampu menggugah suka-cita gue secara lebih. Atau bisa saja, film ini dirancang sudah sesuai dari yang seharusnya.
Semua pemeran yang main di dalamnya, begitu baik rasa gue, semua detil-detil kecil sangat diperhatikan dalam film ini, yang menjadi pembeda untuk setiap pemeran ataupun situasi itu sendiri, bagian menarik bagi gue salah satunya adalah saat tim antagonis menunjukkan sisi rapuhnya dengan begitu elegan, semua air muka begitu hidup, keren sekali.
Tim netral juga terasa bekerja kerasnya, sudah pasti bukan? But, gue tetap ingin berkomentar dengan maksud memberi jempol. Katanya ada beberapa bom yang benar-benar sungguhan berarti sisanya masuk di ruang editing, dan yang manapun itu, gue tetap merasa efek itu bagus sekali, terlihat tidak ada bedanya sama sekali, dibilang asli juga bakal percaya.
CONCLUSION
Aksi dan laga di film ini sudah top global deh intinya, sungguh berkelas, aktor-aktornya juga pada legendaris, Rio Dewanto yang berperan sebagai Ismail membuat gue kagum sekali, dia terasa menjadi villain yang seolah tepat untuk film ini, gue merasa harus ada film tersendiri tentang Ismail, entah mungkin mengenai masa lalunya atau bagaimana-bagaimananya.
Selain itu, Ardhito yang bermain sebagai William, juga memiliki karakternya sendiri, seolah Ardhito aktor utama di dunianya Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara film 13 Bom di Jakarta, ia juga menjadi warna tersendiri di film ini, seolah mengisi lubang yang memang tepatnya untuk Ardhito seorang.
Selain itu Muhammad Khan, aktor yang menjadi favorit gue, juga luar biasa keren sekali, beliau diam saja terasa hidup sekali, mungkin saja sedikit berlebihan atau subjektif semata tapi gue suka dengan peran Khan di film ini, walaupun ia harus gugur di menit-menit akhir, entah mengapa ia semakin terasa mewah di film ini.
Penilaian sentimental pribadi: 8.1/10

Komentar
Posting Komentar