Jiwamu abadi dalam maya.
source google images.
Aku lelah terjaga, kini dalam remang-remang fajar baru belum muncul. Aku sudah berada jauh di alam mimpi. Bermain-main dan berekspektasi dalam warna marun bercampur krem (namun dalam wujud benang-benang aurora) yang melapisi dinding-dinding itu. Di atas sana, hanya disitu aku kembali berani untuk berekspektasi.
Tiada yang lebih manis meratapi sebuah jingga-jingga harapan yang pernah ada, yang pernah saling mengisi lembaran cerita, yang pernah sama-sama bermimpi ini semua akan terangkai sempurna selamanya.
Konyol, ketika, romansa antara sepasang ; hanya melukai. Kuda-kuda besi itu berlalu-lalang, seolah-olah sudah ditakdirkan jika memang disanalah ruang tempat mereka beraksi, menghasilkan serupa serenata ala kota modern.
Aku siap gugur dalam pertempuran kali ini, kepalaku dilapisi lumpur, sembunyi-sembunyi dalam pengapnya tumpukan ranting-perangkap saat gerilya.
"Sampai sini paham?" -Ucap Maya dering dari masa lalu.
Ocehan dirinya begitu nyaring di dalam kepala Barsena, tergambar jelas situasi ini, ia sedang merindukan masa-masa musim-semi insan muda, merah-muda merona dengannya. Maya adalah dunianya, belahan jiwanya, yang termanis, yang terkasih. Kini mereka sudah berbeda jangkauan. Namun semua masih terangkai jelas, sangat hangat dalam jiwanya Barsena.
Air mata lantas tertumpah, yang membanjiri seluruh perjalanan Bar- menuju Semarang dengan kereta api. Begitu menyedihkan, sampai sesenggukan. "Kau dan ku, selamanya May." -Ucapan yang pernah ia utarakan kepada Maya, masa dimana dewa-dewi asmara masih bersatu 'tuk mereka berdua -yang entah kenapa kini terlintas kembali disaat waktu yang kurang tepat, makin menyakitkan dirinya.
Barsena kini menginjak usia tiga puluh lima, sebulan dari hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan bidadarinya adalah satu dari sejuta alasan mengapa ia masih bujang sampai detik ini. Walau satu namun abadi. Setelah nikmat-menikmat sendu, ia tersenyum, melihat keluar jendela dengan kebun-kebun di luar sana yang melewatinya secepat angan yang raib menjadi abu realita.
Perjalanan akan tiba di tujuan sekitar tiga setengah jam lagi, setengah air kopi di cangkir kertas sudah tidak sehangat tadi, ditambah rona angkasa mulai memudar dari cerah ke mendung dan hawa udara juga menurun, sederhana saja, dingin mulai menusuk-nusuk kulitnya yang tidak sepenuhnya tertutup mantel cokelat tebal yang ia kenakan.
Ia memutuskan untuk tidur dengan penyuara jemala yang memeluk hangat kepala dan telinganya, memutar nada-nada irama yang mewakili segala perasaannya yang tak lagi bisa terucap mulutnya, yang telah membeku selama ini karena tidak pernah terjawab lagi segala pertanyaan-pertanyaan dari murninya, pelita hatinya, biarkan sensasi kesadaran mengembara dari kesadaran ke kesadaran lainnya.
Maya, perempuan dengan alis tebal segaris, panjang dan sedikit ikal, senyuman yang ia berikan manis, ia supel sekaligus judes, tapi itulah yang Barsena rindukan dari bayangannya, perempuan yang sangat menyukai pantai, ia bilang jika pantai adalah alasan mengapa ia dilahirkan ke bumi.
Tujuan perjalanan jauh dari Jakarta ke Semarang ini adalah untuk pulang ke rumah orang tuanya, menjenguk dan sekaligus berkumpul melepas penat dari hiruk-pikuknya kota besar, bekerja di perusahaan besar korporat bukan panggilan jiwanya, namun, ia bisa menyesuaikan diri dan mencintai bidang pekerjaannya. Alasan pulang ke Semarang ke kampung halamannya adalah pelepas lega dan zona nyamannya.
Dan mungkin, Maya masih tinggal di sana...
Sebab dia tidak tahu-menahu berita dirinya sampai seperti apa, semenjak mereka memutuskan tak bersama-sama lagi, keduanya benar-benar hilang sendiri-sendiri...
Menghargai kisah yang pernah ada, agar tetap tinggal disana dengan indah.
Kedap-kedip bohlam kereta, meredup dan menerang kembali juga dengan dering suara lembut pengumuman petugas kereta memperjelas kereta akan tiba di Semarang Tawang dalam dua puluh menit, dirinya masih ingin menikmati waktu-waktu yang tersisa seperti ini lebih lama, menatap ke luar jendela, hanya dirinya sendiri, hening dan diam.
Penumpang hampir tidak bersisa, ia sengaja untuk turun belakangan supaya tidak berebutan dan membuat dirinya sebal, sungguh merepotkan baginya. Setelah sunyi, ia siap merapikan barang, memeriksa semuanya lalu turun. Tidak ada kerabat yang menjemputnya kebetulan semuanya sedang ada urusan sehingga tak ada satupun yang menyanggupinya.
Ia berjalan dengan biasa saja, tenang, tentu kenangan masa lalu akan kampung halamannya melintas melewatinya bersamaan dengan cuaca berangin sejuk yang menyambutnya, sekaligus ia yang berjalan ke lorong pintu keluar stasiun.
"Ahh, aku pulang." -desis Barsena dengan menghembus napas lelahnya.
Dalam derap langkah menuju gerbang terakhir pintu keluar,
Angin menghempas pelan dan lembut, gerimis pada akhirnya rintik juga yang sedari tadi seolah-olah menunggu momen yang tepat untuk jatuh,
Tepat di depan dirinya beberapa meter di bawah pohon itu, dengan payung kuning terbuka yang sedikit merunduk menutupi wajahnya, memang sengaja kayaknya, hanya berdiri dan saling berhadapan.
"Bar, apa kabarmu?" -ucap tegas namun lembut sekaligus mengangkat sedikit payung kuning itu
Dalam sekejap tadi, ia sempat bingung, bersamaan juga mata yang mencari-cari dan mengikuti sumber suara dari sosok itu.
"Ini aku, May" -senyuman setelahnya
"May?" -ucapnya, membalas.
Mereka tersenyum saling membalas, wajah merah manis merona saling diberikan dan hangat terasa timbul dari dalam hati. Seperti kenangan sedang mengizinkan kembali mereka untuk menikmati masa-masa dahulu itu.
Tentunya ini sungguh istimewa bagi Barsena, kenangan kembali hadir dan kelopak bunga Mawar kembali mekar dan pulih.
"Bar, maukah memulai kembali dan melanjutkan kisah yang dahulu sempat-sempatnya berhenti setengah jalan itu?" -sembari berucap dalam senyuman, matanya tegas mencari-cari mata Barsena.
Barsena terkesiap dengan senyuman itu, sebuah senyuman yang selalu ia sukai, yang ia selalu simpan dan biarkan melayang-layang di ruang kesempurnaan yang luas yang ia sediakan khusus untuk Maya.
"Bar?" -Maya yang mencoba memecahkan dirinya yang sepertinya tenggelam dalam lamunan,
//
"Barsena Angkasa Saktiputera..." -celetuk Maya mencoba menyentaknya sekali lagi
"Maaf, maaf, hehe." -Barsena membalas denganmalu-malu
"Bagaimana, Bar, apakah kamu sudah ada yang punya?" -ucap Maya mempertanyakan,
"Belum, lalu kamu sendiri, bagaimana dengan laki yang mungkin saat ini sedang bersama-sama denganmu?" -ucap Barsena goyah hati.
"Jangan bertanya, diriku tidak pernah berusaha mencari lagi setelah kita, tidak berkeinginan, tidak ada minat." -Maya menjelaskan.
"Sejujurnya, setelah selama ini, dirimu tidak pernah benar-benar pergi dari perasaan dan ingatanku May, sungguh waktu-waktu yang sulit, kamu tahu?"
"Dirimu terlalu indah dan manis buatku.. May, tentu momen seperti saat ini membuat diriku bahagia, dan keinginan dirimu tadi adalah keinginanku sejak lama yang nyaris aku kira tidak mungkin lagi dan impian itu sepertinya akan mati dan punah."\
"Maya, aku mau, kita kembali merajut asa dan kembali membasuh lagi." -pinta Barsena berharap.
"Kamu kembali, Bar" -ucap Maya yang dirinya kini dalam dekapan Barsena.

Komentar
Posting Komentar