Matahari

source: google images.


Mungkin memang begitu jalannya, hidup. Segala permainan dan sistemnya, memang selucu itu, A yang dipaksa B, setelah dengan keluh-kesal penyebalan kita untuk B malah dengan mudahnya dan tanpa merasa berdosa dan "sopan" dipaksa kembali ke A. Bagaimana untuk tidak menjalani hidup tanpa merasa cemas sepanjang hari dan tertekan, anj#ng-sungguhlah menyebalkan.

Gue hanya ingin menjalani hidup sesuai, baik-baiklah sebelum dikecam masyarakat ramai yang sok tahu, gue tau tentang sistem dunia antara ekspektasi dan realita, gue paham, terlalu paham malah, jadi point gue tidak kesana, tujuan anda-anda semua hanyalah ikuti saja, jangan terlalu sok tahu, sat!

Hidup yang gue maksud itu adalah yang sesuai "kemauan"diri-sendiri, yang gue tahu dan mengerti, karena hanya gue yang tahu diri ini, yang fasih, yang mengerti, kemampuan dan keterbatasan, gue hanya manusia yang mencintai diri sendiri ini, seperti bunga merah, sebelum senja dan tepi.

Terserah sebenarnya apa yang ingin kau pikirkan, gue tidak peduli. Tapi itu diriku lain yang tahu, mereka tidaklah tau, karena yang mereka tahu hanya gue akan memikirkan omongan orang, sejatinya tidak. Karena yang gue tunjukkan seolah seperti itu dan mereka pasti tidakkan peduli, sah saja. Mengapa ibaratnya "seperti gue peduli"? Simple saja, karena ke-sotoy-an mereka itu akan terefleksikan ke cara mereka berhadapan/bersosial, terwujudkan, jadi itu sungguhlah toxic dan annoying, jadi gue simple-nya lebih terganggu kepada toxicnya mereka, jadi tidak seutuhnya benar-benar peduli. God dang.

Gue tidak lebih baik, tapi tidak juga lebih buruk dari siapapun, gue hanya mau ingin jadi diri sendiri seutuhnya, yang tidak mereka mengerti, ekspektasi bangsat, dan egois adalah sebuah penyakit. 

Gue hanya ingin menjadi diri sendiri, fokus, meningkatkan apa yang gue bisa, berkembang ke jalan yang sepertinya jalan ini jarang dipilih mayoritas tentunya tidak sok edgy atau sok hipster, apalah, gue tak sepantas itu juga, gue hanya gue, gue harap mereka dukung atau paling tidak memahami, jika tidak, dan lebih cenderung keras kepala, egois, tidak memiliki daya- buah/dasar pemikiran dan tidak mau tahu, berarti perkataan baiknya kita tidak sejalan lagi, jadi silahkan pergi :)

Gue sudah cukup hancur porak-poranda pada masa lalu, perlakuan sinis (mungkin) karena berbeda, hitam bernoda dan gelap (walaupun semua hal ini telah gue terima dengan tulus dan gue rangkul penuh cinta segala hasil dari perlakuan ini) oleh kelompok yang berkata mereka adalah "yang terbaik" dan "mayoritas begitu" gue hanya senyum ketika menatap/teringat senja kelam masa itu.

Kini apa salahnya? Gue rehat sejenak, gue nyaris mati, engkau yang tak tahu saja bisa gue maklumi, masa pengecualian subjektif itu tak rela kalian berikan wahai kalian yang mengaku kerabat dekat? 

Rehat sejenak, hanya untuk menyembuh luka, proses kembali untuk lebih mencintai diri sendiri yang telah habis diperkosa mereka yang katanya "manusia", Tapi jika tetap tidak bisa, dan gue pada akhirnya akan merasa "jika begini gue akan menyusahkan", mungkin lebih baik kita renggang saja, tanpa dendam tanpa sakit hati lagi (lelah untuk sakit hati terus), lebih baik begitu, dari pada menjadi toxic bagi egomu dan ekspektasimu yang akan gagal karena salah berharap, dan merusak hari-harimu karena memikirkan part dalam hidup tentang gue.

Justru segala bentuk pilihan gue yang engkau anggap non-sense itu, karena gue tahu gue banyak keterbatasan, gue tahu siapa gue, gue, gue dan gue, gue yang sangat mengandalkan buah pikiran, karena dengan begitu gue bisa lebih mengerti dan memahami dunia ini dan makhluk di dalamnya. Itu alasan gue ingin belajar dan berkembang terus, karena gue tahu kalau gue hanya "sekecil" itu.

Jika kau benci gue dan pilihan hidup gue yang akan kau anggap buruk dan merusak ekspektasi ego sesaatmu itu, maka jangan puji dan tak perlu lagi dukung hal baik dari gue lagi, tinggalkan saja gue di masa lalumu belaka"


Komentar

Postingan Populer