Keselamatan.
source: google images.
Musik pop-punk kembali berhasil menyelamat mentalku
Yang nyaris pasrah membiarkan diri ini tenggelam
Mati, penuh akan toxic-attention seperti itu
Teriakan terakhir kali dari hati yang dibuat menghitam
Orang-orang menghakimi.
Manusia tidak demikian.
Kata-kata yang pantas mewakili
Aku yang tidak peduli lagi apapun
Manusia jelata sepertiku sepertinya takkan bisa selamat
Dari bumi yang sudah solid dan terbiasa pada tabiat kini
Dimanapun aku akan berada nanti, sejauh apapun jarak pandangku melihat
Aku harap aku akan berada di tangan yang tepat, yang bisa 'tuk menghargai
Yang mengerti akan batasan, dan aku bisa berkembang darinya
Yang tahu aku adalah makhluk berpotensi, yang mampu berdiri
Bukan seperti yang sering dikata orang-orang yang penuh omong kosong
Aku ingin melihat, aku ingin merasa, sejauh apa aku bertahan menjadi diri sendiri
Mereka tak membiarkanku bernapas
Yang membuatku seolah tak masuk akal
Mungkin intelektual yang kurang atau terlalu berlebih
Perasaan kejam apa yang tersemat, yang men-desain aku seperti robot
Yang menulis cerita tak patut
Disini hanya aku yang menulis seharusnya
Yang membakar cerita musim semi menjadi tak indah lagi
Yang membuatku bertarung dengan diriku sendiri
Aku yang dibuat tak mengenal diriku sendiri
Atau paling mendekat, atau tepat, aku dibuatkan sama-
Dengan produk lain serupa, kriteria yang tak berkembang
Jika aku berhasil lolos, tolong, jarang merindukan keberadaanku
Aku yang dipasung di ruang bernama obsesi, ilusi atau egois
Terlalu banyak julukan, aku sampai tak tau lagi aku dimana
Terparah, aku hanya dijadikan sandingan yang sangat mematikan
Aku yang dihantam yang tak pernah di beri kesempatan membalas
Aku tak apa tak normal
Berbeda, kemudian terasingkan
Namun aku hanya ingin waras
Hanya ingin menjadi diri sendiri
Mungkin dunia memang tak tercipta untukku
Seperti orang-orang sepertiku
Yang akan cemas dan merasa tak pernah nyaman
Yang berbeda dengan mengeluh dan ucapan kejam lainnya, yang terlalu bodoh untuk sampai terucap.
Tangisan dalam teriakan,
Membuat aku tak berdaya perlahan
Aku takut aku telah, bukan manusia lagi
Aku takut untuk kembali merasakan takut untuk menjadi diriku sendiri
Aku dituntut juga dikelabui dengan perkataan manis yang licik
Membuat aku tak bicara, dan merasa aku yang tak berguna
Dibentuk, dipahat, sesuai kehendak, sesuai ego makhluk itu
Tanpa jalan keluar jikalau ini semua gagal dalam penyelesaian
Mungkin aku beruntung, mungkin kini aku berhasil meloloskan diri, mungkin.
Namun seperti, tanpa identitas, tanpa tekad lama, tanpa ruang penuh impian
Aku yang harus kembali membentuk ulang siapa aku ini sebenarnya
Tanpa bantuan, tanpa ini dan itu, hanya dibiarkan telanjang bulat
Namun bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa
Aku seperti ciptaan langit yang kau rusak sedemikian rupa
Yang selepas itu kau buang dan biarkan hidup sebatang-kara
Aku mana mungkin membalas, apa dayaku, yang telah diperkosa.
Kau berbuat seolah hidup itu mudah
Mencuci pikiranku yang brilian
Mencuci ilusi dan harapan-harapanku
Menyerap segala air-mata murniku
Aku di bawa kesana kemari
Bukan aku tanpa prinsip
Tapi aku yang terbiasa terancam
Aku adalah sosok hasil tokoh-tokoh yang tak bertanggung-jawab
Kini aku seolah tanpa bantuan se-siapapun awam
Aku akan lebih terbiasa berhati-hati
Yang aku takutnya, manusia dalam diriku telah karam
Hatiku telah membusuk lama, yang sulit terganti
Aku yang sedikit demi sedikit bangkit
Sembuhkan, kata sembuh yang aku lupa itu apa
Aku yang bodoh, mungkin akan tetap selamanya begini, murni.
Bahkan yang kulakukan, tanpa orang satupun tahu, benar tak apa
Rasa sakit hasil sinar gamma dari mata sinis orang-orang
Aku hanya anak kemarin sore, dimanapun aku berada
Selama apapun aku akan bertahan dan melewati cerita
Kelam aku biarkan terbuka, agar semesta tahu, aku masih disini.
Jangan melawan perasaan seperti itu
Kataku kepadaku juga alam bawah sadarku
Aku cinta mereka berdua
Aku sebenarnya, tak ingin mereka merasakan sakit yang aku rasa.
Ingatan tak mungkin lagi hilang
Bahkan sampai kehidupan setelah kehidupan ini
Aku tak lagi mengeluh, aku hanya sedang ingin berkenalan denganmu
Aku hanya lagi terlalu tenggelam, dengan kisah-kisah yang aku ceritakan
Sampai detik ini, bahkan lupa kalau waktu tetap akan berjalan
Mungkin kisah telah berganti sedikit walau di lembaran yang sama
Kisah tentang orang-orang yang menyakiti dengan berucap demikian
Bahkan aku sedikit lupa, apa yang ingin aku keluh-kesahkan pertama
Baiklah jika semesta mengizinkan kita bertemu kembali
Aku akan menemuimu, walaupun hanya sekali jalan
Tanpa ingin menyalahkan lagi, akan kucoba sekali lagi
Perasaan masa lalu, yang begitu gelap tempat aku tertawan

Komentar
Posting Komentar