Singga sana
source: google images.
Trevor berjalan tak peduli arah, seperti biasa. Berjalan di jalanan, persimpangan dan gang buntu. Pria yang simple dan menghargai kesehatan mental hidupnya sendiri, tak pedulikan manusia lain. Pria ini tak kesepian dia hanya seorang lone wolf.
Aku suka dengan kepribadian dia yang tak banyak berharap-harap, terlebih Michaela, adik Trevor, yang sangat sayang padanya dan tentu, menyimpan rasa kagum pada kakak satu-satunya itu. Jadinya semua berjalan sesuai kemauan sang lone wolf itu. "Kota ini begitu sepi hah?" -Ucap dia sendiri dalam sunyi sekitar.
Tetiba berhenti, kaki dan seluruh jiwanya. Di hadapan dia seperti ada pria lain yang langsung mengaku bahwa dia adalah peramal utusan, kemudian senyum-senyum seringai kepadanya. Trevor sih cuek dan dingin kepadanya dengan wajah merah-pink segaris di areal hidungnya, tanda sedang tipsy. Peramal itu terlalu banyak bicara sampai sekitaran lima menit ada, namun di realitas Trevor itu begitu cepat dan begitu bising baginya.
Peramal itu seolah sedang berceramah dan sesekali memberi kesan dia sedang ingin menyombongkan ramalan-ramalannya kepada Trevor. Trevor ingin sekali tak peduli dan hanya ingin berjalan pelan sembari melewatinya, setelah melewatinya, Trevor tetiba sadar tak ada lagi juga hawa manusia di belakangnya.
Dia menoleh dan benar saja, sepi dan hitam. Tetap dia cuek, Itulah Trevor. Realitas ataupun bukan, tak ada lagi bedanya.
Masih saja berjalan sembari sempoyongan. Dia tahan, kaleng soda dia tendang, kaleng-kaleng soda dan bir yang berganti tugas menjadi sampah yang sudah bergeletakan di jalanan, yang menghalangi dia berjalan. Kaleng wadah air beralkohol bekas milik manusia hopeless lainnya..
..
Sepi sekali , sungguh sepi, lampu kota redup hidup mau tak mau, pukul tiga pagi, embun dan angin dingin lainnya seolah mulai bersiap aktivitas singkat.
Bayangan kecil tetiba masuk ke kepala pelan, seketika semua ini hilang begitu saja. Angin dingin seolah membuat tulang dan pelipis kehilangan kendali atas tubuhnya, pagi itu. "Lebih baik aku pulang, singgah sana dan adik kecilku mungkin khawatir."

Komentar
Posting Komentar