A long chapter..

source: google images

Malam pada akhirnya menyisakan sembilu. Mereka teman-temanku, maaf, mereka sahabat karibku. Aku yang sekarang menjadi saksi betapa bodohnya aku dahulu, rela-merelakan diri tenggelam dalam cinta buta semena-semena, aku kesal. Aku tak bisa menerima kenyataan, tapi aku akhirnya pasrahkan segalanya. Malam yang tak aku ingini untuk kembali lagi. Bukanlah sesuatu yang baik, itu hanya serpihan tulang-tulang dari kadang penjara.

Sebenarnya aku telah gagal, aku berbohong. Aku tak bisa lagi jujur pada waktu itu, aku yang bodoh telah berani meninggalkan sejati, mereka tak bersalah, aku saja masih anak burung lepas kandang dan tak tahu ingin kemana tapi seberani itu aku mengambil langkah salah yang tak aku ketahui. Lebih dari 365 hari aku terpenjara gua batu, aku kecewa telah membelah batu idealisme ku, ego besarku.

Susan bahkan tak tahu ingin menjadi apa, dia hanya mengoceh ingin menjadi perawat manusia lain dengan suntik tajamnya. Dia akan menjadi gadis dewasa dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, beda dengan aku yang pecundang besar, aku begitu sakit untuk mengingatnya kembali.

Aku hanya seorang pecinta yang kesakitan sejauh ini. Yang mudah membiru dan mencair pada polosnya iblis, manipulatif. Aku benci, hanya itu yang ada diisi pikiranku. Tentu saja, aku ingin bisa keluar dari sana dan kabur darinya, iblis.

Sisi baiknya, kuakui dialah perfect strangers sebenarnya, ironi. Aku meninggalkan orang-orang baik demi dirinya dan pada akhirnya aku rusak dan sulit untuk sembuh lagi. Semua salah dan semua tak ada lagi yang sesuai. Kuil mana yang ingin menerima anak manusia sepertiku? Pilihanku mungkin jatuh kepada Nepal atau tidak pedalaman Cina.

Sisi baik lainnya, aku perlahan ingin mengembalikan lagi seperti semula, perjalanan dimulai dari nol, walaupun aku  tetap memegang satu keyakinan penting bahwasannya ini semua akan sulit dan mungkin tak akan kembali seperti semula lagi, tapi aku berterima-kasih banyak karena aku pantas menerimanya, aku yang percaya bahwa aku adalah matahari, pada akhirnya aku percaya dan menerima kenyataan bahwa aku hanya bulan di gelapnya malam, aku tersenyum simpul.

Mereka orang baik, syukurnya kita sudah memiliki ikatan. Walaupun kenyataannya, mereka tetap akan berbeda melihat ketelanjangan diriku. Aku bertekuk-lutut, aku ingin menjadi pria seuutuhnya, aku belajar banyak. Aku hanya daun mati musim gugur yang sarinya akan menjadi makna bagi kehidupan di masa yang akan datang.

Aku yang dihajar habis-habisan semesta, ibu bumiku, babak-belur dan masih diberikan keselamatan, karena dia sayang padaku sama seperti dia sayang pada anak-anak dia lainnya.

"Aku masih percaya dengan jalan ini." Aku mengambil ucapan. Aku tak lagi tahu topeng mana yang akan kupakai, tak berbohong, hanya ingin setengah jujur dan tak ingin terlalu banyak membuka isi hati lebih lagi disini.

Bima sakti, suara gemerincing, dan hasrat gairah aku pada nafsu. Cukup merumitkan aku sejauh ini, mereka sulit dimengerti tapi ingin dimengerti walaupun pada akhirnya mereka mempermainkan kita yang tulus ingin mengerti, aku sungguh keracunan.

Aku gemetaran mengetahui ini, aku tak bersalah dengan masa laluku, aku tak jahat, aku tak melukai sejauh itu dan aku lama berpikir dan merenung-menggila, dan kesimpulan yang aku temui adalah mereka memang harus ada untuk menyiksaku dengan kuat agar aku juga kuat menghadapi semesta yang penuh manipulatif ini.

Yang kusam, penuh kegelapan dan kebencian, perlu. Tinggal bagaimana pada akhirnya aku mengendalikan mereka-mereka ini, tapi aku menjadi suka, semua yang terjadi memang demi masa depan cerah dari perspektif lain, dan aku percaya tetap, aku lemah.

Dan sekejap yang cepat. Aku berjuang keluar dari efek kerusakan ini, berjuang agar sembuh, berjuang memulai dengan mereka-mereka lagi agar menjadi "kami" lagi. Mencari-cari arah untuk menemukan jalan ke momen itu lagi. Berbaikan dengan masa lalu itu perlu waktu, aku minta maaf jika terlalu lama, diriku. Aku berjuang lebih lagi, perbaiki ikatan dengan mereka, sakitnya mereka tetaplah baik dan sama, tidak tahu-menahu apa yang mereka rasakan di dalam hati. Tapi aku percaya, mereka tahu aku punya alasan.

Satu-dua yang berubah. Tapi setidaknya sudah lebih baik, bahkan hal yang sudah aku tetapkan dan beranggapan tak ada harapan lagi, semesta juga turut campur tangan, sekali-dua kali perasaan mukjizat itu turun kepadaku. Sahabat karib tetap semestinya begitu, aku terharu, aku belum dikasih mati.

Hidup memang terbiasa dengan kelucuan yang dibuatnya sendiri, bayangan yang datang dan pergi masih memberi tatapan yang sama kepadaku, dan aku juga tetap sama disini dengan tidak mengerti tatapan apa itu.

Sekarang aku tak ingin untuk tahu lagi, aku hanya ingin memastikan semua baik-baik saja, aku sudah tahu rasanya, sudah tahu penderitaannya, aku tak tega jika satu dari kalian dan mereka, tenggelam dalam lubang hitam yang sama, itu anjing.


Komentar

Postingan Populer