Rupa

source: google images


Clementine yang berdiri tepat di tengah keramaian, berdiri lama, tak bergeming, terdiam dan tak tahu apa yang sedang dia tatap. Dia kesepian, namun dia tidak membenci situasi dia sekarang, dia terbiasa. Tak mengenal siapapun adalah keputusan dia yang paling baik, paling tidak itulah menurut dia, karena dia ratunya.

"Silahkan pergi.", Ucapnya kepada dua perempuan itu, yang beberapa waktu tak lama memasuki ruangannya untuk menyampaikan pesan-pesan singkat kepada dia, mereka-mereka adalah saudara jauh dari keturunan ibunya, paling tidak merekalah yang bisa mengerti dia.

Sebatang rokok sembari menatap keluar jendela di bawah kendali matahari senja, dia bisa membuang racun dan rasa bencinya, sekarang dia hanya butuh satu frekuensi dengan semua suara yang datangnya hanya dari langit.

Clementine tahu betul siapa dirinya, kesenangan apa yang dia sukai, dan musik yang bisa membawa dia terbang dan merasa dicintai, paling tidak oleh dirinya dan fetis-fetis lainnya. 

Luka lama dan kekosongan jiwa yang dia miliki hanyalah pernyataan ego duniawi yang sulit dia bedakan antara jiwa dia dan jiwa manusia lainnya. Dia hanya tak cocok dengan sekitarnya atau mungkin dengan fana ini, menurut dia, keterbukaan adalah sesuatu yang gegabah dan ceroboh bahkan bisa membuat dia merasa gelisah.

Terlalu beresiko jika dia membuka topengnya, walaupun itu hanya bagian bawah dari wajahnya. Dia tak bermaksud palsu, namun dia sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari iblis. 

Sastra yang dia mengerti, puisi yang telah dia terbangkan kepada dunia dengan tanpa bertatap muka, paling tidak memberikan dia pundi-pundi agar dia tetap bisa menjaga dirinya dari masalah lain yang mungkin tidak dia perlukan sekarang, dia sebenarnya ratu di dunia yang dia sukai tapi dia sama sekali tidak peduli.

Kamar minimalis ber-cat abu-abu kebiruan yang membuat dia bisa begitu hebat dalam karyanya. Ditambah gramofon emas antik milik sang ayah yang kini tinggal di desa, sang ayah tahu bahwa anak perempuannya punya bakat luar biasa dalam dunia lain yang artistik.  

Ayahnya pun memberikan gramofon tersebut, paling tidak dari harta kartun itu putrinya bisa lebih tersenyum sedikit, ayahnya sungguh tahu kepribadian putrinya.

Pop traditional ataupun kontemporer dewasa dengan volume rendah yang akan terdengar, jika melewati ruangan pribadi dia, begitu nyaman dan hebat rasanya. 

Mungkin pagi akan kembali pagi, malam akan bertahan lebih lama, hari esok akan hambar rasanya. Dia akan tetap begitu, jenuh. Sama saja, setinggi apa khayalan, dia akan kembali tersadar dan menginjakkan kaki lagi ke bumi, luka lama yang terlupa akan kembali sayup-sayup menyapa dia, dan dia akan kembali rubuh untuk sekali lagi.

Trauma yang menyatu dengan alam mimpi sungguh membuat dia begitu merasakan siksa. Namun hatinya baik, untuk hal itu semesta mendukung. Kesepian dan kekosongan sungguh membuat dia kuat. Diam adalah sebuah kata-kata buat dia, bibir yang diam segaris, namun jari-jari dan tangan kiri dan kanannya yang paling kuat dalam berkata-kata, menyerang hal yang menurutnya patut untuk dia serang, namun dalam tulisan dan segala karya yang dia buat.

Jangan sesekali menertawakan keanehan dia dalam hal yang tak mahir dia lakukan seperti berbaur dengan kalian. Karena kelak kalian akan merasa malu sendiri karena kebodohan kalian sendiri yang tak sempat kalian sadari pada waktu itu, jadilah manusia yang mau memahami terhadap sesuatu yang tak bisa kalian pahami.

Dunia terlalu luas, bagi para pecinta kebijaksanaan seperti dia, mungkin begitu. Sulit membuka diri untuk penemuan-penemuan baru yang mungkin butuh pengertian lebih dan rasa pemahaman. Paling tidak, senja masih akan hadir dan menunggunya di luar jendela, situasi kesukaannya untuk menghabiskan waktu sore dengan segelas teh hangat dan sesekali susu cokelat panas yang dia sukai, sedikit berbeda memang, sembari termenung jauh dan membiarkan kepekaan juga kisah demi kisah yang akan dia sampaikan sendiri ke dalam pikirannya.


Komentar

Postingan Populer