Thanatophobia
source: google images. seneca.
gue menulisnya dan berharap bisa melepaskan beban dalam diri, namun gue tahu juga berharap seperti itu bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa dan cenderung menambah beban, maka dari itu, gue jadinya tidak ingin menantikan apa-apa, menulis hanya tinggal menulis, apa yang diri ini rasakan selama ini hanya ingin mengalir, jika berbuah baik ya syukur, jika tidak ada sama sekali juga gpp kok.
gue tidak tahu ini dimulainya dari kapan, tapi ada satu-dua buah pikiran yang muncul, yang pertama momen waktu gue kecil, baru balik dari rumah nenek, gue yang saat itu sedang di kamar tidur, langsung saja menggeletakkan kepala gue di kasur, tidak jelas apa pemicunya, sudah samar-samar, tapi intinya, di saat itu, gue sedang mempertanyakan esensi kematian.
yang kedua, ini sedikit tidak jelas, waktu gue kecil juga, di sekolahan, jika dari ingatan tentang ruang kelasnya, ini gue ada di momen taman kanak-kanak, ada guru disana sedang mendidik kami, tapi perasaan berkata ada suatu intermezzo kecil jikalau itu sedang membahas kematian, dalam konteks pembahasaan kepada kumpulan anak-anak, tentulah bukan obrolan yang berat, sesuai level intinya.
guru gue pernah berkata, mungkin momen ini sd, gue lupa sedang membahas apa, dialognya adalah beliau berkata di tahap dirinya sekarang, dia tidak takut lagi akan kematian, lalu lanjutannya apa gue lupa, tapi yang masih terasa jelas adalah dia berkata penuh dengan kesadaran dan filosofi juga getaran keagamaan, itu baik menurut gue.
Semakin beranjak umur, dan SMP lalu SMA di momen ini, cukup terasa jikalau gue takut akan kematian, banyak kejadian-kejadian entah mengarah langsung atau tidak, kecemasan yang tinggi yang gue simpulkan pada diri gue waktu itu adalah itu adalah gue takut akan kematian, cukup menggelisahkan sekali.
Entah apapun penyebabnya dan tentulah ada hati kecil gue ingin bisa menemukannya, berdamai dengan diri pada sesuatu yang telah terjadi, gue ingin pulih, tapi gue sadar ini akan melewati proses waktu yang panjang, sekarang sih gue sudah cukup aware gue lebih menyadarinya yang bukan berarti gue sudah baik-baik saja, sadar di tengah jalan masih banyak yang perlu gue kejar lagi.
Di saat ini, ada buku bacaan yang gue beli beberapa waktu lalu yang pada waktu itu gue sedang diserang habis-habisan oleh "sesuatu" itu. Bukunya belum selesai gue baca habis, sedikit berat dan belum sempat, tapi jujur ini cukup menyadari gue akan sesuatu, suatu esensi yang lebih penting pada kesadaran hidup yang membukakan mata gue, terima kasih, ya, tuan Seneca.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar