August #throwback

source: google images.


Jujur saja, padang gurun terik sahara sungguh menggambarkan bulan lalu, tidak mudah, berlinang-linang adalah makanan sehari-hari di fase kemarin, lebih tepatnya fase hidup saat ini, secara luasnya. malu, sakit hati, ragu-ragu telah berhasil membuat gue babak-belur begini, gue juga sadar betul, gue bukan orang yang tepat dengan sematan orang yang baik, dan itu sungguh tidak membebani gue.

Kemarahan dan filosofi pesimisme tentu saja ada akarnya, kesedihan dan sendu juga ada akarnya, mencabutnya langsung bukan solusi. soalnya, syaraf semuanya ada disana, darah bercucuran akan dengan hebatnya jika itu gue lakukan, jika anda memaksanya ada dua hal yang mendasari, anda tidak tahu apa-apa dan yang kedua anda senang diri ini mati.

Keduanya tak ada satupun yang akan menggambarkan anda hebat, yang keduapun menandakan anda sungguh lemah, anda tidak berani menghadapinya langsung, lebih suka cara kepiting yang menarik ekor sejenisnya. cara curang mungkin makanan anda sehari-hari, dengki membuatnya puas, sebab selain itu sudah tidak mampu apa-apa.

Siasat milik diri gue mungkin ada ribuan, ahli perang? i don't think so, sebab yang sekarang gue tarungkan adalah kestabilan jasmani gue dahulu. rongsokan ini terlalu pesakitan, itu yang melemahkan gue, at least, bukan tenaga anda yang tak berdaya, topeng ini hanya manipulatif belaka, musuh besar ini datang dari dalam, gue merasa kau mengerti itu, bukan? sebab kau pun merasakannya.

Sekarang gue sedang di susu murni dekat rumah, libur sejenak dari lingkungan kosan, sejam-dua jam itu sudah benar, gue bisa punya pengertian akan kemampuan dan kapasitas diri sendiri, tidak besar namun tidak kecil, tapi tidak sekecil punya anda. jika kau berpikir demikian, pikiran anda sedang menipumu, ia hanya menarik ilusi tentang gue ke batasan yang bisa terlihat olehnya. 

Apakah ini akan usai, maaf, diatas hanya bualan belaka, gue hanya sedang latihan menulis naskah dialog untuk panggung pertama gue di bulan ini, semoga kelak bisa di taman budaya apalagi jogja expo, wuih mantap bukan? buku-buku novel dan kreatifitas anak bangsa lain cukup membantu gue menikmati asupan gizi yang mumpuni.

Harapan gue, gue akan terus menangis dalam kemarahan, sebab semakin hangat tubuh ini, ada energi di dalamnya yang terbarukan. Jangan sakit, tentu jangan sakit, gue lelah sakit, ampun, capek, ok. Syukur gue mengagumi tim yang kuat, paling tidak bisa menguatkan dalam pertarungan kehidupan, penghiburan kecil-kecilan yang indah.

Komentar

Postingan Populer