Jurnal Film; THE NUN II #ENSS

source: google images. yahoo.com


Sejujurnya karena ini film horror, gue tidak harus begimana mulainya...
lebih kuat rasa takutnya ketimbang mencari-cari. sip.

Gue pernah menonton Conjuring juga walaupun ga tahu gimana urutannya, kalau genre horror begitu-begitu kurang terlalu suka, bukan berarti ga suka. Tapi kalau The Nun ini seolah-olah dirancang seperti dokumenter kisah nyata, kata yang lain ini kisah nyata tapi agak dibedakan, entahlah, pada intinya, gue juga senang yang seperti ini, jadi untuk ini masih enjoy dengan film ini.

Siapa sangka alur ceritanya bisa menggocek gue sedemikian jauh, itu menjadi seni tersendiri bagi gue, jadi ga melulu mencari-cari mana yang bikin takut, sesuatu didalamnya juga ada yang lebih menyenangkan kok, yang segala sesuatunya dimulai dari sebuah asrama, kejadian-kejadian mistis dari bocah-bocah nakal yang menyekap rekan lainnya.

Yang walaupun adegan pertama dimulai dari sebuah gereja tua di suatu kota di Prancis, kejadian pertama dimulai, jujur ini mencekam bagi gue, pengambilan gambar dan vibe yang sedemikian rupa rasanya tepat sekali untuk memulai segalanya, membangun perasaan penonton tahap demi tahap, disini sang iblis tersebut tidak langsung muncul (yang pada akhirnya muncul dari kumpulan asap huhu).

Membakar habis sang pastor, disini perasaan gue cukup pasrah mengingat film ini baru saja dimulai, matilah gue, yang masih ada sejam lebih lagi, seolah roller coaster yang baru bergerak tiga detik, mau melepas tali pengaman sudah tidak mungkin, begitulah kira-kira kesan gue pada waktu gue duduk di bangku bioskop.

Disini menceritakan suster Irene di masa muda, sepertinya, koreksi jika salah ya, dia diminta oleh pemimpin agamanya untuk menyelidiki kasus kasus yang baru muncul ini, awalnya dia enggan, dia enggan memulai sesuatu yang telah membuat trauma dirinya seperti itu dari masa lalu yang pernah ia rasakan sendiri.

Sesuatu mulai tiba di akhir kisah, ternyata teman masa kecilnya itu, teka-teki mulai terpecahkan, sang iblis, yang enggan gue sebut namanya itu, telah merasukinya sejak lama, demi mencari sesuatu milik Saint Lucy. Walaupun rasa gue tensi menjelang akhir sedikit menurun, mungkin karena yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dan sedikit dibawah ekspektasi. 

Apakah ini akhir dari segalanya? Atau masih akan ada lagi lanjutan di film-film berikutnya, gue kurang tahu, tapi disini gue bersyukur, sedikit happy ending, tanpa bermaksud melupakan korban-korban dari sang iblis mengerikan ini, tapi paling tidaklah, sang iblis terbakar habis dengan kuasa yang baik dan suci dan tidak berdampak semakin parah setelahnya.

JOURNAL

Gue menerima ajakan film ini dari sepupu gue, lagian menonton film horror juga termasuk terapi kesehatan mental yang baik, selagi tidak ada dampak buruk yang muncul, mungkin tidak cocok bagi sebagian orang, tapi ini cocok bagi gue, refreshing yang menyenangkan juga kalau berbicara genre film horror.

Seolah dari sejarah murni, ini salah satu aspek yang menyenangkan dan cocok untuk gue, jalan cerita yang masih menegangkan, namun masih terdapat banyak sekali unsur jumpscare, lumayan banyak menurut gue, juga masih menghadirkan alur yang bisa di improve selain dari sesuatu yang polos datang hanya untuk memenangkan misi dari sang iblis.

Dari sisi penderitaan, ini cukup banyak sekali, mungkin ini nilai plus tersendiri, penderitaan dan rasa sakit dari serangan sang iblis, cukup brutal dan mengenaskan, tapi dari durasi semua terasa cepat, seperti ingin mengejar waktu, ada kurang di sisi detil, kalau seram sudah sangat masuk kategori seram, kok.

CONCLUSION

Efek suara untuk membangun suasana yang paling penting disini, harapan gue sih jangan lagi dong berharap pada jumpscare yang remeh, tapi yasudahlah yah, lagian gue jarang juga nonton film bergenre horror, efek suara syukurnya cukup baik disini, para pemeran juga bermain dengan menyenangkan, semua melahirkan ciri khasnya sendiri.

Nah, gue baru ingat, di film ini para peran bermain dengan sungguh baik, terlalu baik, mengesankan, sedikit dramatis, ekspresi wajah yang mantap banget, gerak mata yang ekspresif dan hidup, pintar menempatkan situasi, cukup mudah membedakan apakah ini masuknya takut atau menguasai, keberanian atau sebuah rasa trauma yang muncul.

Ini murni horror tidak ada unsur tekanan psikologi yang dahsyat, murni membahas "sejarah", kalau gue lihat di situs internet ini masuk kategori, horror dan cerita seru, keduanya sudah tepat dengan apa yang ingin disajikan, dari seru sudah cukup seru, efek-efek yang sekali-dua kali membuat gue berperasaan ini keren sekali, ini sudah sesuai porsinya.

Penilaian sentimental pribadi: 7.6/10



Komentar

Postingan Populer