Journal Film; GRAN TURISMO #ENSS

source: google images. The Movie Spoiler.


Telat sepuluh menit, gara-gara salah mengambil lintasan balik arah, namun keputusan untuk tetap melanjutkan beli tiket dan nonton tidak berdampak besar rasannya, walaupun di adegan tepat dimana gue mulai menontonnya, sesuatu sudah mulai intens, terasa menarik dan menyenangkan, balapan untuk menentukan karir masa depan baru saja dimulai.

Kursi bioskop ruang dua, terasa asing bagi gue, seolah sedang duduk di kursi khusus simulasi balapan, perlahan gue menyadari semua yang terjadi ini seolah fit in, dengan apa yang sedang gue tonton. Tapi menariknya, bahkan di adegan pertama yang gue tonton, sudah membuat gue menikmatinya dan penasaran, desain, suasana dan perasaan yang terbangun seolah sudah dipikirkan matang-matang.

Balapan ini nyata, Jann dan semua tantangan yang lewati seolah membuat ia bertumbuh sampai ia unggul dan diterima di akademi bagi para penikmati gim yang akan dilatih untuk menjadi atlet balap profesional, latihan yang tidak mudah, pesaing yang tangguh dari berbagai belahan dunia, namun insting yang sudah terbangun bertahun-tahun dari giatnya akan kecintaan dalam diri membawa ia melesat jauh.

Sungguh dari awal segalanya telah intens namun tidak terasa membosankan, semua kecanggihan dan teknologi itu sungguh menggiurkan, sampai akhirnya ia memenangkan kesempatan menjadi pembalap profesional jalur pemilihan akademi tersebut. Tentu jalan kedepannya tidak mudah, semua orang akan membencinya, meremehkannya, this is mental game.

Berbagai kekacauan yang telah ia lakukan hingga sampai terjadinya kecelakaan tragis yang cukup membuat bulu bergidik, apakah ia mampu bangkit? Atau ia akan kembali menjadi orang biasa dan mengubur mimpinya, tapi mungkin dengan dukungan orang sekitarnya yang juga tentu tidak menjadi mudah, hanya dirinya sendiri yang bisa menentukannya.

Kendaraan berteknologi, segalanya terasa satisfying, tombol-tombol itu, suara-suara yang membikin semakin mewah. Tapi, tidak ingin terlalu lama tersihir oleh kekuatan tersebut, tentu saja itu sudah cukup memenangkan dirinya, jika berbicara mengenai film balapan, itu sudah menang bagi gue, namun aspek lain seperti jalan cerita, musik pengiring, akting, naskah hingga konflik di dalamnya.

LE MANS 24 HOURS adalah puncak dari segalanya di saat ini, namun sesungguhnya intens di bagian sini cukup menurun dibandingkan menuju pertengahan hingga lewat sedikit, namun secara presisi dan estetika ini sudah tepat, mungkin seharusnya begitu, segalanya perlu mengalir dengan murni, sesuatu yang berlebihan takutnya akan menjadi machine error.

JOURNAL

Seperti biasanya, gue selalu mengatakan, gue senang dengan musik pengiring ataupun lagu ofisial yang indah-indah, ini dari awal hingga akhir padat sekali diberikannya, bukan masalah selera pada lagu tertentu atau apa, bukan masalah lagu hits namun menurut gue lebih kepada lagu yang tepat untuk momen yang tepat, itu sudah memenangkan banyak poin.

Visual ala gim yang juga tepat, tidak ada perasaan yang mempertanyakan kejanggalan karena dipaksakan, jujur, gue seperti menonton orang yang sedang asyik bermain gim kesukaannya, tenggelam didalamnya, intens yang cenderung naik, walaupun mendekati akhir seperti yang gue bilang tadi seolah cukup menurun, mungkin lebih kepada tidak semeningkat sebelum-sebelumnya.  

Konflik antar peran juga sungguh menyenangkan tidak hanya seolah bumbu-bumbu, namun memang ketutupan dengan segala fantasi-fantasi menyenangkan dari aspek yang lain tadi, sungguh, gue menyukai film ini, walaupun gue tidak mempersiapkan segala hal untuk karya ini, yang pada dasarnya gue memang jarang nonton film aksi balapan.

CONCLUSION

Film ini berhasil dalam menyuguhkan cerita mengenai gim dan fantasi, tidak ada komentar lain, menjadi masuk akal mengapa film ini memiliki musik-musik yang menyenangkan dan tepat sasaran, pada dasarnya di segala dunia gim-pun, kreativitas dalam memilih lagu yang tepat seolah adalah bakat alami, belum lagi ini akarnya juga mengacu pada budaya Jepang.

Pewarnaannya didalamnya juga gue acungan jempol, sangat tepat untuk membangun rasa yang memang ingin dibangun sesuai dengan kebutuhan, secara keseluruhan tidak terasa mengganggu, malahan gue ada beberapa kali melihat jam berharap masih lama lagi film ini akan usai, tidak ingin cepat-cepat waktu berlalu begitu saja.

Cenderung tidak ada drama-drama cheesy didalamnya dan seharusnya begitu, semuanya tentang balapan dan kecanggihan, fantasi hingga adrenalin, semua ada didalamnya, gue kekenyangan. Ini film yang akan gue nikmati sekali lagi, tipe-tipe film yang bisa gue nonton berulang kali, seolah bermain gim bola dengan Alex Hunter di dalamnya.

Penilaian sentimental pribadi: 9.6/10  


Joji & Benee - Afterthought

Komentar

Postingan Populer