konfirmasi
ketakutan itu seperti apa, wujudnya? ia auranya menyeramkan dan merundung, namun secara fisik ia tak ada, apakah ia sejatinya kuat? atau gue saja yang telah jatuh terlalu dalam dan berada di level yang juga jauh di bawahnya sehingga kalah secara kekuasaan. apa yang kurang gue miliki, untuk bisa lolos dari penjara ataupun jebakan dirinya.
langit begitu kuning dan angin begitu sejuk menderu, lalu melintasi diri gue sembari membawa ingatan-ingatan mengenai hari baik bersamamu? seolah terasa begitu hidup, seolah terasa begitu nyata, seolah terasa begitu dekat. gue ingin terbang kembali ke masa-masa indah, yah, walau situasi di masa lalu itu begitu sempit dan singkat.
diam ini, pilihan yang gue pilih, barang baru yang masih perlu banyak gue pelajari, mengerti hingga dalam-dalam, mengerti hingga gue menjadi diri gue seutuhnya. kesalahan juga banyak terjadi, salah waktu, salah situasi, salah kendali, tapi jika yang memiliki diri gue ini adalah sudah bisa gue sendiri seutuhnya, gue pasti bisa dengan leluasa menikmati trial and error nya.
ilmu diam ternyata tak semulus teorinya saat pertama kali gue menemukannya, saat pertama kali gue membuka sampulnya, saat pertama kali gue buka halaman depan. ini rumit dan gue masih harus suffer more. gue sudah sering sekali hampir menyerah dan jatuh ke lubang yang sama, tapi sebegitupun, prinsip diam tak pernah bisa buat gue pergi ke mana-mana.
apakah benar matahari megibarkan sinar ungunya adalah ketika kota itu begitu manis dan cantik, seperti dirinya di ranjang waktu itu, ia begitu harum dan seolah ia sedang bukan melokal, ia begitu memukau, auranya membuat hati ini terbang, semua kata-kata dalam percakapan pada hari itupun seolah adalah kata-kata yang sama sekali tak pernah singgah dalam isi kepala gue.
warna kulit begitu elegan, celak mata campuran lemon dan merah marun dan bintang-bintang emas, sehabis ia mengikuti kompetisi kala itu, tubuhnya tetap beraroma kesukaan gue, ia begitu hidup, ia begitu sederhana, senyumannya membuat gue sayang dengannya, jadi gue tak pernah kekurangan itu dari dirinya.
sejujurnya, kota itu, mampu memberi gue banyak kisah yang membuat gue naik kelas. banyak orang yang merendahkan gue, jika gue pikir lagi dan sudut pandang gue, mampu gue geser ke hal lain, salah satunya negeri itu, yang penuh warna kelabu dan krim tua, gue bisa gembira ria kembali. jika gue sudah mampu hidup lebih baik lagi, gue ingin menemuinya kembali.
tidak mampu menjadi rekan sehidup semati, kekasih hatinya cukup bersenang hati.

Komentar
Posting Komentar