Indonesian Dream: Not That American Dream



source: google images.


Gue sadar ini adalah tentang marathon bukan lari cepat. Sekarang memang semua tampak buram, seperti roller-coaster yang treknya menuju awan di langit lalu laju meluncur dengan ekstrim kembali dari langit menuju tempat terendahnya di bumi. Semua seakan mudah mematahkan rasa semangat, kayu mati yang bahkan tak mampu menyalakan api unggun.

Kenyataan demi kenyataan silih berganti berubah seolah sedang memilih mana yang paling tepat buat diri ini, tapi gue ingin terus mencoba menatap ke langit lalu melempar tombak api ini sampai jauh, terus mencoba dalam kebiru-biruan luka pada badan ini, gue yakin gue akan mencapai pada salah satu bintang-gemintang itu, tidak harus ada penyesalan soal ini.

Gue tahu gue mampu dan gue sadar akan ini, air mata akan siap gue habiskan dengan banyak menangis, biar saja menetapkan masa depan di masa depan, sekarang semua masih kabut yang tebal. Gue juga siap untuk memperbaiki diri penuh dan sabar-tulus menghabiskan tabungan karma yang mungkin perlu dalam meraih cita-cita.

Ingin lebih sabar lagi menjalani hidup, tidak semua harus gue tanggapi, belajar melupakan dan merelakan, juga belajar untuk menganggap seolah tak terjadi apa-apa, ini lebih jauh lagi, tentang Indonesian Dream, terinspirasi dari kalimat American Dream namun juga jauh dari serupa dengan makna sebenarnya, tapi sesungguhnya bagi gue kalimat itu punya daya picu semangat.

Indonesian Dream ini gue ambil sebagai perlambangan mimpi untuk terus naik ke atas, gue ingin hidup dan mengejar mimpi gue, dari masa lalu yang tak lagi mau gue pertahankan, gue ingin mencarinya ke dalam diri dan di masa depan. Kebebasan yang nyata adanya, bukan tentang keberhasilan atau kegagalannya, tapi kebebasan dalam berjuangnya dan hidup di jalurnya.

Walaupun ide ini sekilas mirip American Dream, tidak juga harus berakhir indah di tanah Amerika, gue suka Jepang, Jepang menarik, atau Kanada, New York? Okinawa? Toronto?. Yah.. Bagi gue kini New York adalah sesuatu tentang meraih mimpi, sebab tokoh yang gue pandang sedang meraihnya disana. Lainnya, gue masih selalu tertarik akan Taiwan Formosa, bahkan Australia, juga negeri Inggris.   

Sebab kebebasan dalam perjalannya terkadang lebih indah di kenang namun lebih indah lagi jika hasilnya bisa sesuai. Gue tidak tahu di masa depan kelak akan bagaimana ini semua, tapi gue putuskan, ingin hidup penuh senyuman dan lentera hati yang kembali bersinar. Kelak suatu saat nanti gue tak sengaja teringat dan membaca kembali jurnal ini, gue akan menyadari sudah sejauh mana semua.

Semua akan hebat nantinya, semua perubahan besar yang mengguncang namun tidak akan buat mati, pengorbanan besar untuk sebuah air mata bahagia, dan ditutup tertawa yang manis, semoga gue tak menyerah, tidak menyerah sehingga mati, secara badan jangan mati, dan mungkin tak mati, semoga. Lebih buruk lagi jangan mimpi yang mati, sebab ia tak bisa mati...

Ia tak bisa mati, ia akan bangkit lalu memukul gue di hari tua, sampai semua benar-benar mati.

Komentar

Postingan Populer