pengharapan - February #throwback

source: google images.


lembayung di pesisir pantai, sendirian dan bersenang-ria dengan sekotak boombox lalu melayang menuju pulau lain, transitnya ada di dalam kepala, tertawa dan menangis secara bersamaan menikmati karya TYME yang nyatanya mampu menyembuhkan luka masa lalu walau hanya seperempat atau kurang atau lebih sedikit namun itu menolong.

dari situ, gue jadi niat untuk meluangkan uang lagi (spare money) agar bisa jalan jalan, berusaha kembali sebab jadi ada tujuan lain, walau kata penelitian yang terbarukan, anak milenial di zaman sekarang jika ingin mampu membeli rumah di masa depan harus bisa berhemat atau jangan berkebiasaan untuk ngopi dan liburan, ada benarnya juga sebab rumah di masa mendatang akan sangat meroket.

tepatnya, lebih keras; tidak boleh ngopi...

nyatanya gue juga setuju, tapi kita sebagai manusia harus bisa pintar-pintar dengan mencari cara lain, atau paling tidak jalan tengahnya, sebab tak ada hukum alam pasti yang membatasi atau hanya memberi satu jalan, tetap ada pagar, namun ada jalan lain bukan? tapi kali ini liburan sendirian atau paling tidak, dengan orang yang bisa dipercaya, itu saja tanpa atap (maksudnya agar bisa melihat langit biru).

//.percaya.//

pengharapan kan datang, bagi yang percaya. 

Karena masa depan akan ada dan harapanmu tidak akan hilang,  Amsal 23:18

//.

berlatih untuk tidak menghakimi, sebab dirimu tak berada menginjak di sepatunya, sebab harapan ada jika dirimu mengerti, harapan 'kan ada bila percaya. proses memang sakit, sebab dunia ini adil. hal yang gue percaya dan sadari betul sejak lama, diri gue bukan satu-satunya. jangan merasa spesial betul kan, alfie-boy

sedikit hal lucu saja;
semua orang merasa hidup tak adil, bukankah itu jadinya adil?

haha, right?

pertengahan malam dan banyak makan, untuk nge-push semangat, sebab memilih jalan yang benar adalah mustahil, maaf gue terlambat datang, sebab gue tersesat di lorong yang namanya kehidupan. cukup berdiam diri disamping gue dan jadi support system tanpa menggerutu dan niat merubah, sebab sudah ada seribu orang lain di masa lalu yang niat merubah gue, dan gue sudah mendengar setengahnya, itu merusak diri gue.

bukan menolak, atau bermaksud denial sebab hal itu memang tidak benar, baik jika sudut pandang dirimu lebih terarah pada "pemeran utama di diri sendiri" tak masalah, namun jangan bawa itu ke planet lain/hidup orang lain. ritual-ritual sudah sangat melelahkan, kebiasaan yang ingin dihilangkan juga sudah sangat buruk, rupa mana yang ingin gue dustakan lagi?

hanya ada satu jalan pasti walau sangat halus, sehalus cahaya. jalan dari bawah menuju ke-atas dan sebaliknya, pengharapan kepada Bapak sekaligus kasih sayang tulus dan ikhlas se-sosok Bapak kepada anaknya, perlahan tapi pasti, akan ada hasil walau belum ada hasil tetap akan ada pengalaman yang berharga itu.

 

Komentar

Postingan Populer