tato

source: google images


jendela kamar tak lagi cukup menghiburku
kali ini. walau hujan datang silih-berganti
tulisan dan kata sudah menemaniku selama ini
seribu, dua-ribu kata, mungkin?
aku mudah sekali gegabah
aku benci diperalat orang
aku cukup sedih mengingat tragedi selama ini
omongan demi omongan cukup pedas 
walau sebenarnya mereka sendiri mengigau tak jelas
walau aku tahu itu semua tak masuk akal
tapi cukup sulit untuk tidak sakit hati

kembalikan semua memori
kata orang, jika ada satu saja hal indah
diantara sembilan mimpi buruk
berusahalah demi kebaikanmu
untuk pertahankan yang satu itu.

tapi terkadang memang tak semudah itu
dikerubungi dan di hajar rame-rame
tetaplah bonyok juga

seseorang juga pernah berkata
jika berada di peperangan yang sudah pasti kalah
menyerah adalah peluang.

walau perbandingan
seratus mimpi indah
dan
seribu tragedi

bagaimana mempertahankan hanya dua, tiga, empat bahkan lima saja,
pengingat, sebab  hal indah adalah sebuah harapan

kata orang merajam tubuh adalah salah satunya.
tapi jika suatu hari itu terpahat di kulit
aku ingin itu menjadi istimewa
pertama di mulai dari ;

; ; ;

sudah pasti, 
yang satu itu.

terimakasih kalian-kalian yang dahulu sudah menembakku
dengan perundungan, dengan penghakiman
dengan sinar mata menyala-nyala
selepas itu lupa, dan juga lupa
melepas dan mengambil peluru kalian.

sekarang semua telah kompleks, satu saja ketukan
leburlah semua kaca-kaca bangunan.

bahkan ini semua sulit aku cerna
tidak tahu lagi harus darimana
aku hanya ingin sinar dari harapan
senyuman orang-orang baik
yang berada di dekatnya 
memberiku alasan, kenapa aku masih hidup

Aku ingin mengutip satu ayat penguat.
izinkan aku Ayah, semoga tidak bermaksud salah.
"Lukas 23:34" 

Tentulah, aku tak berani untuk menjadikan ayat itu sebagai
penyerangan, terlebih sebagai pengingatku sendiri,
refeleksi diri dan penerimaan.

perspektif lainnya
sebab emang benar, mereka tak tahu apapun
jadi percuma juga menyalahkan
tapi tak bisa begitukan?
aku cukup butuh penenang saja
menyalahkan pun percuma, aku tahu
semua ada urusannya masing-masing
semua sama,

sebab adil itu bukan di bagi rata
namun,
pada porsinya.

aku tahu banyak perspektif
aku pernah mengalami
tapi tak mungkin kan selalu positif?
aku juga ingin memilih yang kumau
yang aku nyaman dan aku bersiasat.

terima kasih, 
paling tidak aku tahu
semua orang yang mengalami
rasanya, sakitnya, perihnya, 
harapan yang mudah hilang bahkan.

tapi jika itu menyebalkan 
aku juga punya sikap
karena mengerti, 
karena aku memahami
maka yang terlahir hanya
diam lalu jangan lagi disana.

Komentar

Postingan Populer