lembar daun

source: google images.


kepada mentari yang sinari
kabut tebal siang tadi 
bergegas membawa pergi
demi terwujudnya mengganti hari

kita biasa saja
tidak akrab juga
jangan diambil hati
jangan dibawa mati

pikiranku sangat kalut
mengawang-ngawang
tak jelas, tak tentu arah
sakit disini, sakit dimana saja

kata seniorku dahulu
hidup perlu lihat yang hijau-hijau
jangan terus di ruang
jangan terus tenggelam karenanya

gayaku seperti ini
tak semua orang akan merasa cocok
maka itu aku sangat berterimakasih
padaku sendiri, yang tetap tinggal
dan menghargai pesona yang ada
yang mencoba memahami
tanpa menghakimi
sebab ia adalah diriku
yang kadangkala juga-
akan bisa korslet

mau di kota
ataupun di desa
aku hanya butuh kesendiran
namun bukan kesepian

jangan jebak aku
demi membungkamku
memutar-balikkan, mempermainkan
semua kata-kataku menjadi tak masuk akal

aku juga sendiri tak tahu lagi harus bagaimana
aku juga ingin menikmati perjalanan ini
seperti daun yang jatuh bebas
sebelum ia me-layu dan menjadi kering-usang

mereka hanya orang-orang di stasiun
yang melirik ke dalam kereta 
dimana aku akan melaju menuju
stasiun berikutnya,
semuanya juga akan begitu
hanya tatapan sementara
lalu saling melupakan kemudian
dan menjalani kehidupan
yang sendiri-sendiri itu
hingga akan terbengkalai
terpenggal terkecuali
surat-surat 
milik masa lalu
arsip, 
yang akan dikembalikan
kepada pemiliknya, dunia.

Komentar

Postingan Populer