September #throwback
source: google images.
Detik dan malam beradu cepat untuk menggapai pagi, ketakutan menyelimuti diri, yang menahan dinginnya sesuatu perasaan lalu mengerubungi terus-menerus tanpa celah. Sungai yang mengalir tak kenal lelah, bisik-bisik merdu itu adalah tentang kebahagiaan mereka, karena seumur-hidup menikmati apa yang telah mereka sudah lakukan, sesekali keluh sesekali keruh.
Diri ini belum mampu menikmati hidup yang kebanyakan orang mengatakannya semudah menghiraukannya, tak apalah, memang diri ini belum matang, tidak juga, orang-orang seperti ini itu spesial, tidak juga, orang-orang ini hanya berbeda. Ruang hampa adalah keadaan yang dimana diri ini selalu ingin menghindar, bahkan saat menghindar belum tentu sedang dalam keadaan tidak hampa.
Paling tidak sudah mencoba, walaupun gelisah timbul karena tidak menemukan ujungnya, sesekali harapan itu, mengayunkan tangan demi meraih tangan ini dari lubang gelap tanda kehancuran siap menerkam akal dan cinta. Seribu pilihan hanya bisa pilih satu, selesaikan atau tinggalkan, hiraukan kebiasaan budaya yang memang tak ideal, makanya pilihan dibaliknya sebetulnya mudah.
Pengkhianat itu masih berani mengetuk pintu rumah kepala suku, tatapan kosongnya seolah memberikan ilusi indah bagi tuan di depannya, melahap seolah tak terjadi apa-apa, bahkan meninggalkan jejak saja nihil, jiwa raga tak tersentuh, ruang tak berujung, silau warna abu-abu pucat, lalu dari sisi tak terduga, muncul cahaya lain, itu namanya kerusakan di dalam.
Curahan hati seorang yang terdengar adalah murni kebaikan, tapi sayangnya karena suara itu tak terdengar, ia mulai ditinggalkan, kasihan dia, kasihan dia, kasihan dia... Ucap hati ini seolah baru saja jatuh lalu menyerempet suatu pohon tua yang akarnya tak beraturan namun gagah. Luka-luka belum terlihat namun fantasi kita membawa ke sesuatu yang mengerikan.
Cinta adalah obat manjur, peras ia sampai air terakhir, demi sembuhkan kawanan anak semut yang sedari awal tak mengerti apa, kenapa ia disana seperti orang linglung, berjalan seirama... Itu menurut kita, kita paham betul, pikir kita. Padahal bisa saja, ia sedang mencari jejak temannya yang baru dua detik lalu berjalan berbaris dengannya, yang padahal sudah berada di bagian sela sepatu kita, syukurnya hidup.
Selamanya, berjuang, merdeka, kebebasan, keempat jagoan ini sedang kenyang di dalam sangkar burung Phoenix, memakan semua hingga tak tersisa, sesekali memanggang dengan bulu halus bara api miliknya, temani ia sampai terbiasa dengan sendirinya, lama-lama pasti bisa, sebab bisa pasti lama-lama, semoga ini semua berakhir menjadi masa lalu. Lekas masa lalu.

Komentar
Posting Komentar