Terlalu amatiran...

source: google images.

Dalam gelap gulita
Aku yang selalu senang merenungi
Hidup, gejala gejala 
Sedirian sampai lupa diri

Apa memang harus seperti ini?
Aku yang senantiasa masih berjalan
Tak pernah bisa masuk peradaban kini
Apa memang harus selalu seperti amatiran?

Tak bisa 'tuk selalu menunjuk karma
Karena takdir itu beda cerita
Aku yakini hal itu
Aku harus selepas itu.

Besok apalagi? Gue sejujurnya -setakut itu menjalani hari esok, sulit buat gue untuk bisa pura-pura menikmati hari esok. Dan yah benar, momen-momen seperti itu kembali lagi saat ini, dahulu kala sudah pernah, makanya gue setakut itu, karena sudah tahu. Bukan sedang ingin membagikan perasaan negatif & bukan juga ingin melampiaskan pesimis, hanya ingin realistis.

Gue susah terbuka untuk orang lain. Bukan ingin menjahati dan merugikan perasaan orang lain, gue kenal sama karma jadi gue tak pernah tertarik untuk main-main. Ini hanya gue yang tidak sama & gue yang sedang menjadi diri-sendiri apa adanya, tapi kenapa malah dibilang gue yang tidak pernah jadi diri sendiri? Berkata ini dan itu padahal diri sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan.

Kenapa yah orang-orang suka sekali menunjuk-nunjuk orang lain padahal secara nyata mereka sendiri tidak pernah berlaku sesuai dengan apa yang baru saja mereka suarakan. Ironi, bukankah? Hal kecil yang gue alami, Orang-orang selalu menyalahkan gue yang tidak menjadi diri sendiri, tidak apa adanya dan tidak bisa menerima perbedaan manusia lainnya.

Padahal menurut gue, hal yang sedang gue lakukan adalah menjadi diri sendiri, justru gue terlalu apa adanya (gue tidak ingin secara mutlak membenarkan interaksi sosial yang biasanya gue lakukan  untuk/saat sedang bersama orang lain), dan juga justru gue sedang menghargai perbedaan besar mereka dari gue, kalau tidak, sudah pasti, gue bisa saja berbuat satire/sindiran, tapi sayangnya itu tak terjadi. Apa yang diharapkan?

Tapi memang dari awal gue sudah menduga (tapi karena baru awal dan hanya berupa "merasakan", gue tidak condong untuk membenarkan), tapi semakin kesini gue lebih meyakini, entah-pun dari insight baru dari diskusi ataupun sharing dengan manusia lain, dari bacaan buku-buku, dari sedikit ilmu kesehatan mental/psikologi. Inti kecilnya, simpelnya atau juga garis kecilnya, yah karena gue berbeda, gue yang diletakkan "di sisi satunya" saja, karena gue sudah tak masuk di akal "brilian" mereka.

Yang rupanya kekesalan yang mereka sedang -nampakkan adalah justru mereka yang solid tidak bisa menerima ada yang berbeda, (mungkin) mereka yang sebenarnya bermasalah, tidak ada manusia yang sempurna, bukankah begitu? Orang tak berjalan sesuai perencanaan pikiran kita. Bumi tak berputar di kita. Kalau ibaratkanlah, jika mereka yang orang besar, mereka yang sempurna-seharusnya, bukankah mereka yang harusnya mengayomi? Sometimes it's hurts...

Mereka yang mengaku ini dan itu, selalu menyematkan yang baik adalah milik mereka, mereka yang bertingkah-laku seolah mereka yang sudah paling mengerti dan memahami, paling mengangkat segalanya, capek dan sudah terlalu baik. Tapi bukan-nya kalau mereka adalah yang baik dan yang memang berada di atas rata-rata, bukankah mereka tidak akan men-judge & akan baik juga kepada orang lain? 

Segalanya mereka sudah tuntut, ini dan itu, tapi dengan cepat juga mereka berlaku sebaliknya. Apakah ego se-powerful itu? Apa memang seharusnya gue semakin yakin dengan pilihan gue selama ini tentang gue yang se-anti itu dengan ego? Padahal gue selalu mendikte, berkompromi dan berusaha selalu toleran terhadap nilai gue tentang konsep "anti-ego" ini. Tapi apa? Masih saja ego ini menjauhkan dan menutupi celah jika dia tak ada masalahnya.

Apakah gue sudah harus semakin percaya saja? Selama ini gue tak pernah ingin cepat cepat men-judge walaupun sudah mengganggu pikiran, mulai seyakin itu, bahkan berusaha selalu waras dan realistis dan selalu mencari kerusakan dari opini gue sendiri, karena gue percaya gue ladangnya salah, wadahnya salah paham, gue berbeda -jadi banyak kemungkinan untuk salah. Mungkin sudah waktunya untuk bisa percaya, kalau-kalau mereka ini sudah talk too much tapi tak tahu apa yang mereka sedang lakukan, mereka mungkin terlalu kurang ber-cermin.

Tapi back again, dalam ber-sosial gue memanglah terlalu amatiran, memang begitu, gue akui, itu harus gue amin-kan. Maaf bagi teman dekat yang kadang bisa kecewa dan berharap lebih. Tapi gue percaya kalian memang diciptakan untuk bisa terus bersama gue, sama-sama menjadi lebih dekat dalam frekuensi. Gue percaya gue masih orang baik dan layak.

Walaupun gue terlalu amatiran. Gue harus yakin, gue bisa benar, aneh tidak salah, berbeda bukan berarti sesat. Gue ga mesti menjadi sisi yang disalahkan jika ada yang retak dalam kegiatan interaksi sosial. Ga ga ga, gue pantas! gue layak! Gue tahu apa yang gue rasakan, gue tahu gue benar, gue pemikir, i know what am i doing. U bch, get the f out. 




Komentar

Postingan Populer