Seperti kemarin
source: google images.
Perasaan gue saat ini, tidak tahu. Susah untuk bisa menjelaskan secara detail-nya, gue tidak tahu perasaan apa ini sebenarnya. Tapi yang sering bisa dirasakan dan selalu ada, perih dan menyakitkan di daerah sini, di dada. Sakit tapi tidak berdarah, hampa dan kekosongan, seperti tidak ada apa apa di dalam sini, terlalu gelap dan tak ter-deskripsi-kan.
Sangat sakit. Gue tidak ingin mati sia-sia seperti itu, gue ingin punya andil buat yang membutuhkan, suatu hari nanti. Gue ingin berbuat sesuatu buat yang serupa dengan gue. Gue tahu ini sakit makanya gue ingin ada yang bisa diambil dari gue, gue ga ada bilang gue paling tahu, paling elit dalam perihal ini. Mungkin ini yang dimaksud empati, gue tidak tahu pasti. Intinya siksa seperti ini adalah sakit.
Langit senja siapa yang punya? (sudah pasti semesta, selain itu), Dia sang pemilik rasa sakit atau yang banyak rasa kecewa-nya siapa-pun itu, kalangan manapun itu. Mungkin, gue tidak tahu pasti. Tapi yang dia berikan sangatlah menjanjikan. Kenyamanan dari sebuah ketenangan, dingin yang bisa menyelimuti panas-nya lubang hasil luka karena selalu dikeruk semena-mena.
Dingin yang tak menyiksa, dingin yang tak menggigil menderita. Dingin yang sejuk dan nyaman...
Kota-kota besar itu melahap habis sang sesepuh alam, tak tahu apakah terlalu salah atau tidak. Apakah memang ini sudah jalan-nya, kebutuhan yang terlalu dibutuhkan oleh makhluk. kenapa makhluk? Karena belum tentu juga yang melakukan ini semua murni dia adalah manusia, bisa saja alien. Tapi yang gue tahu, sisi yang tak mendapatkan bahkan sisa keadilan adalah yang salah.
Ubah gue, jika ada yang lain...
Ketakutan melanda kota-kota, makhluk-makhluk, orang-orang, sapi-sapi, kuda-kuda, para kucing jalanan dan tumbuh-tumbuhan dan ilalang-ilalang yang merapat dengan bangunan kost-kostan jelek. atau tembok yang dibangun karena semena-semena tapi kini kosong dan menjadi polusi. Lumut terpaksa tinggal disana, daripada tidak dipakai.
Hati yang sakit siapa yang tahu, bumi tak berputar di orang-orang satuan. Bumi cukup adil, walaupun begitu, bolehkah gue menikmati jika ini macam adalah memang kesakitan yang boleh kita keluhkan, jangan egois dengan melemparkan budaya sedari kecil kau seolah realita yang harus kita takutkan, kita ini anak bumi, bumi juga ibu kita, ibu alam.
Ketakutan tak berdasar, keraguan yang tidak ada ujungnya, bahkan tak pernah ada yang benar-benar terjelaskan, yang semuanya kita dipaksa memakan-nya bulat-bulat dan lahap tanpa tahu itu apa karena memang sedari awal kita dicekoki, kita tak pernah mendapatkan pengertian ataupun penjelasan lagi, tidak pernah ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kecil dalam kepala kita, karena memang kita tak pernah diajarkan cara-caranya, tak pernah dibiasakan untuk mengenal hal-hal semacam membuat pertanyaan jika kita keheranan, tanpa pernah diberikan ruang yang bebas sebuah ide tentang masuk akal. Selama itu, secara turun-temurun.

Komentar
Posting Komentar