Dialog telah malam #2
Gue mencoba, mencoba apapun yang gue bisa, yang gue mampu. Gue berusaha tak memaksakan keadaan, bumi tak berputar di gue satu orang ini. Percaya, percaya apa lagi? Pada rasa sakitnya? Yang nikmat, yang penuh dengan hitam, debu yang hitam, seperti bekas arang bakaran. Jika mungkin, serendah-rendahnya yang telah gue lakukan, yang gue lakuin masih sebuah kejujuran dan hasil berpikir.
Halo kecemasan, kamu selalu datang tanpa pernah gue undang, datang masuk sebelum mengetuk pintu. Gue mencoba kabur, lari kabur jika mulai bertemu -bahkan masih berwujud bayangan, tapi jika selalu begitu, bukankah ini akan menjadi hari yang panjang buat gue? Gue ingin jaga jarak, gue harus ambil sikap dan berbicara kepada dia, sang tuan kecemasan.
Terlalu gelap di dalam sini. Gue takut sesuatu yang tidak benar-benar gue lakukan secara fisik, bisa membawaku ke dalam sengsara abadi. Gue hampa, setiap kali merasa seperti ini. Gue tak punya kawan, bukan yang seperti itu, benar, bukan yang seperti barusan kamu pikirkan. Gue cuma ingin bilang, jangan hiraukan gue, gue hanya ingin bernapas lega...
Sesuatu yang nyata yang bisa dirasakan. Bagaimana jika? Yang gue utarakan, yang gue rasakan & ide-ide segala bentuk itu benar? Apakah gue akan tenang, apakah itu yang gue cari? Sepertinya tidak. Gue hanya manusia biasa, proses panjang & semoga umur panjang, amin. Gue dan keluh kesah yang selalu engkau hina ini, gue yakin kelak akan menjadi bunga cantik yang menenangkan bumi. Semoga semesta mendukung. Jika ini niat baik.
Yang kiri telah mati
Mati sementara
Mencari jati diri
Takluk & berbicara
Sesuatu yang bisa aku rasa
Aku ingin menunjukkan
Selain hanya dalam doa
Yang bisa diutarakan
Sedih dan senang
Kumbang koksi dan bunga matahari
Cinta dan secercah harapan
Nurani dan Pikiran

Komentar
Posting Komentar