Gelembung bias dari senja masa lalu.
source: google images.
Tak bolehkah aku mengeluh?
Aku dan topeng yang harus baik-baik saja
Demi memaksakan senyum yang engkau inginkan
Dan ini bukan maksudku menyesalkan yang sudah berlalu
Tidak ingin berlebihan
Yang sudah terjadi, baiklah
Hanya ingin melihat ke belakang-
Untuk tersenyum, lalu melaju
Kau terlalu tenggelam,
Imajinasi berharap kau spesial
Engkau siapa?
Merubah jiwa lain sesuka-hati
Jujur saja bahwa ternyata kau begitu merusak,
Aku, kau ubahkan se-enak ego main-mu
Menyebalkan sekali dikau waktu itu,
Tuan puteri dalam gelembung bias.
Aku yang dahulu tak pernah punya ruang
Menekan jiwa sampai perlahan bersiap untuk mati
Kesadaran di luar akal, berteriak, terpenjarakan atas nama kepalsuan.
Mungkin memang di dekatnya dahulu adalah takdir yang pasti
Ego-mu membuat aku mati peralahan
Kehilangan yang namanya jati diri
Membunuh anugerah yang terpendam
Mencipta musuh dari relasi sejati.
Hanya ingin bercerita
Membebaskan yang terpenjara
Racun yang bersarang
Cinta yang salah arah.
Jujur, bahkan setelah melihat jauh ke belakang.
Aku lega tak menyesali apapun, apapun~
Kupikir yang terjadi, terjadilah.
Berlalulah, belajarlah~
Bukan siapa-siapa
Menyebalkan memang~
Namun apa daya.
Biarkanlah di belakang.
Ini mungkin harus terjadi
Aku perlu sedikit hitam dan gelap
Begitu kelam, bahkan di-penjara ketika mengeluh,
Masih tetap tak bolehkah aku mengeluh?

Komentar
Posting Komentar