August #throwback

source: google images.

September awal, semoga lebih baik dari yang sebelumnya, yang telah lalu juga baik namun kedepannya harus lebih baik lagi.

Entah darimana gue mau memulainya, tapi yang pasti penyembuhan adalah realita, naik dan turun juga pasti tak terhindarkan, namanya juga hidup. Sedang berusaha lebih baik lagi, Introvert yang juga sesekali belajar keluar dari zona nyaman, tak memaksakan keadaan, belajar untuk tak memusingkan, walaupun kendala-kendala seperti kecemasan dan kekhawatiran masih ada.

Gue sedang perlahan gali satu per satu emas yang tertimbun tanah, tertimbun sudah dari lama. Gue pernah mendengar satu quote yang keren, jika sukses memerlukan seribu pintu untuk dibuka, gue akan tetap berusaha membuka satu per satu pintu itu walaupun lama namun gue akan semakin mendekati, kurang lebih seperti itu, salah yah mohon maaf.

Perlahan keluar dan merangkak naik lagi ke atas, satu-satunya jalan. Iyah bener, banyak yang menasehati gue seperti itu dulu, bukan gue tidak mendengarkan mereka waktu itu, toh sebetulnya gue sudah tahu-menahu dari sejak lama tentang "perkataan" yang sering sekali mereka katakan kepadaku, namun mereka cenderung hanya berkata dengan ofensif tanpa mau memahami atau peduli terlebih dahulu dan cenderung sok tahu seperti hanya untuk kepentingan pribadi (eh), tidak tahu untuk apa dan tidak mau tahu untuk apa, makanya itu menjadi bagian yang paling menyakitkan dan menyulitkan buat gue.

Gue bukan bebal atau ego semata, gue sudah paham (tanpa berusaha ingin sok tahu, walaupun bahkan ini tentang gue sendiri) gue sendiri bagaimana, tak ingin memaksakan, yang gue lihat terlebih dahulu adalah kemampuan dan keterbatasan gue sendiri, apakah itu salah? Dan gue juga sudah perlahan berusaha menjelaskan sebaik mungkin namun tetap tak bisa tersampaikan dengan baik, anggap saja bukan mereka yang tidak mau tahu dan keras kepala, anggap saja gue yang kurang bisa menjelaskan atau sulit membuat mereka untuk memahami.

Gue tahu batas kemampuan gue sendiri, mereka selalu menganggap "demi kebahagiaan kita atau demi kebaikan kita", sebenarnya demi kebaikan kita atau mereka sih? Demi ego atau fantasi mereka saja sih? eh diingat loh gue bukan mesin, gue manusia-wi.

Okay, mungkin ada yang bilang, "kalau gitu ya jangan peduliin dan ambil pusing apa mau mereka, katanya bodo-amat tapi kok diri sendiri masih down dan sampai ga bahagia, jangan setengah-setengah kalau begitu, yang salah siapa dong?", Memang benar, santai, gue sudah seperti itu kok, cuma yang selalu gue pegang dan ketahui (sebuah pengalaman), apa yang mereka pikirkan ujung-ujungnya ke perlakuan mereka dan cara mereka men-treat kita (terkendalikan juga, vibe.), jatuhnya annoying bagi gue.

Justru gue tahu gue itu bisa ga enakan (syukurnya, gue adalah orang yang bisa kendalikan kemauan, mau iya ya iya, engga ya engga), dan mereka juga tahu gue ga enakan (agak politik arah vibesnya jadinya) dan mereka mungkin hanya tahu hal-hal tertentu (tapi krusial bagi mereka), dan justru ga semuanya (makanya jadi sangat tidak menyenangkan), dan mereka tahu mereka bisa dianggap keluarga jadinya bisa "menguasai", atau mungkin mereka hanya pada dasarnya keras kepala.

Gue hebat menurut gue, sebab gue tahu gue siapa (tanpa bisa mengutarakan), kemampuan dan keterbatasan, apa yang telah gue lewati dan rasain dan semuanya. Gue cups, gue ga berguna, malu-maluin dan apalah itu, bagi kamu yang tak mau mengerti, keras kepala, sok tahu, closed, dan terlalu hidup dalam gelembung bias.

Gue berusaha menghindar sebaik mungkin kata open-closed minded, gue ga mau sotoy, hidup itu seperti dua mata koin, penuh hitam, putih dan juga abu-abu (bahkan jika perlu, merah-kuning-biru-hijau-pink-ungu-marun-oranye-nila dan warna baru lainnya) Tak mesti batasan bangsat yang gue benci itu.

Mereka pada dasarnya (sadar atau ga sadar) seperti ingin mengendalikan, hidup pada imajinasi sendiri, menganggap kebahagiaan selalu dari hal pada umumnya (padahal kebahagiaan dan suksesnya orang beda-beda). Sakit rasanya. Dan juga ada benarnya kok kata orang bijak lainnya, lepaskanlah maka kamu akan bebas, gue tahu itu bahkan gue mengerti. Tapi hidup ga semudah itu, gue ada tekad dan pilihan tersendiri.

Jika kamu menganggap gue salah karena kejadian barusan, justru kamu yang kaku disini dan cenderung sok tahu, kalian menganggap gue ini dan itu, tapi nyatanya? 

Jika gue mudah melepaskan, gue juga akan dianggap mudah terombang-ambing, tak punya prinsip dan bahkan tak punya hati dan banyak lagi hal lain yang sulit gue utarakan satu-satu disini, oleh orang lain, mungkin saja dari cangkem-mu itu, namun pas realita itu betulan terjadi, kamu akan lupa dan tidak sadar, bahkan kamu menganggap dirimu dan opini-mu yang benar, please, jika kamu menikmati hidup dalam gelembung bias jangan bawa-bawa orang lain ( gue sendiri juga selalu berusaha sadar diri, jadi jangan di-susahin lagi).

Gue yang kamu lihat selalu seperti dulu, yang sisi negatif (mungkin juga terpintas ah si bocah ini ga bakal bisa berubah) okay, its hurt but okay. Nyatanya, kamu bisa salah, kamu selalu anggap gue polos, bodoh, ah selalu bocah, bikin malu dan ilfeel its okay, bahkan jika kamu lihat gue yang sekarang (tanpa duduk bareng, diskusi, ngopi, mau memahami dan berpikir terbuka), mungkin bisa saja tetap berpikir sama jika batasan dirimu yang kamu anggap tinggi hanyalah se-cetek itu.

Gue tidak bilang gue bagus kok, tapi gue cap gue edisi terbatas, bahkan gue cap gue hebat sesuai gue sendiri tanpa membandingkan diri gue ke yang lain (bukankah setiap manusia itu semua hebat?).

Silahkan saja kamu mengecap gue habis-habisan namun tetap tutup kuping, hati, jiwa dan raga, gue ikhlas berarti kita memang beda jalan dan tak bisa bertemu. Gue juga sedang berada di fase mana kawan dan mana tidak kawan, tidak bermaksud ofensif, hanya ingin lebih baik lagi menjalani hidup yang singkat dan mau memiliki diri ini seutuhnya.

Gue terlalu sakit menghadapinya, latar belakang dan senja yang telah berlalu. Gue pernah dihancurkan habis-habisan oleh mayoritas, batasan yang tak ada ujungnya, ego yang mematikan. Dan sekarang gue menyusun rangkaian hati yang baru sendirian, kini kamu datang ingin merusaknya, bahkan pas gue usir kamu, kamu bilang gue yang tak punya hati (its okay, benar juga), maka semakin yakin juga gue sama prinsip (?) gue. Kalau memang pantas kamu (toxic) gue usir.

Gue yang juga merasa krisis identitas, ingin mencari diri gue sebenar-benarnya, membuang, mencuci dan memperbaiki diri dari toxic yang pernah menghinggapi gue, dan kini gue sangat down, please mau pergi-pergi dan mau stay-stay, saling respect saja kita cuy.

Jika benar dan salah hanya se-cetek itu, gue lebih pilih semakin percaya sama pilihan gue.

Maaf jika ada kata yang ambigu dan sukar dimengerti, atau juga ga pas to the point, maaf seribu maaf, gue kurang pandai mengungkap kata (disini makanya gue juga belajar), kurang pandai mengungkap kata jika mau sesuai moral dan manner (masih belajar), karena jika mau blak-blakan bisa saja, tapi jika itu terjadi jatuhnya akan sangat kejam dan bertangan besi, makin runyam gue tak mau.

Bulan lalu, bulan yang banyak pembelajaran dan berwarna, penyembuhan bertahap membaik, bimbang tetap akan ada, sambat juga bagian dari hidup kok.

Semoga bulan ini bisa lebih baik dari kesehatan pikiran, mental, jiwa dan raga, positive vibes terjaga, mental juga dan keluarga kecil gue, adik gue yang kuliah, berkati juga gue ya Tuhan dan semesta, gue ingin sembuh dan gue-nya sendiri juga berusaha kok, amin.

Gue cinta hidup gue, tapi gue benci kebiasaan buruk gue huehehehe :(

Komentar

Postingan Populer