Juni #throwback
Tidak tahu mau bercerita dimulai dari mana,..
Mungkin dimulai dari ini saja, eee. Gue yang sudah menemui manusia pahlawan bagi diri gue, mencari titik terang dari problema yang menyedihkan bagi gue, racun yang telah bersarang selama bertahun-tahun dari diri gue, dari gue kecil lamanya, suram, gue keluarin segalanya, lamanya, karena gue hanya ingin lepas, gue ingin berkembang, engga ingin tertahan dan terpenjara jauh lama, di lubang hitam ini.
Tapi gue bersyukur siapa gue, gue menerima penuh personal kepribadian diri gue, gue se-cinta itu pada gue.
Yah.. sekarang gue hanya ingin meraih batu kokoh itu dan naik keatas itu terus-menerus, gue ingin bangkit, mungkin orang tak mengerti gue siapa dan gue kenapa, tak apa, gue harus tetap maju saja, gue hargai gue apa adanya, kalau bisa, gue juga ingin menjadi ladang cerita orang-orang yang serupa macam gue ini, walaupun gue tetap harus sadar jangan sampai terkesan sotoy apalagi menggurui.. kadang bisa saja kelepasan.
Gue harus bisa kendalikan "gue" yang sewaktu sendirian dengan "gue" yang sewaktu di dunia luar, sulit memang, sulit sekali malahan. Tapi gue tetap harus maju, sedikit apapun itu. Se-tidak cocok apapun gue dengan manusia luar sana, gue harus pertahanin yang terbaik sebisa gue (mungkin). Karena jika gue analisa lebih lagi, siapapun dan hal apapun adalah guru bagi rohani dan jasmani gue, gue aminkan hal itu.
Mungkin sekarang tinggal menunggu panggilan dari sang spesialis lagi, lihat apa yang terjadi, apa yang mesti dipersiapkan lagi untuk tetap bisa melangkah ke depan lagi.
Tapi tetap sama kok, di bulan lalu tetap sama, gue masih tetap bisa hilang dan tenggelam, karena tidak mungkin bisa naik dan melaju semulus itu, semua memang butuh proses, tapi mungkin gue yang sekarang lebih baik dari yang kemarin-kemarinnya lagi.
Luka, segala tekanan pada lubang hitam dan kehampaan perlahan akan membuat gue kuat, semua tak semudah kelihatan dan walaupun tetap, harapan masih ada.
Surga dan semesta tahu, bahwa anak-anaknya hilang, kesukaran dan sengsara yang dialami dan penghiburan yang dibutuhkan, semua mungkin telah diperkirakan dan dipersiapkan juga.
Bulan yang berlalu, naik dan turun dan warna hitam juga warna putih semuanya serempak saling erat menyatu. Seragam dan gue percaya, semua akan ada jawabannya, mungkin tidaklah sekarang, mungkin nanti, semesta yang menjawab dengan senyuman.
Belum lagi pekerjaan yang di-ekspektasikan ternyata berbeda dengan realitas, gue sedih pastinya, namun gue juga akan biasa saja, tidak terlalu terbawa perasaan emosional sebab gue sendiri sudah paham dan mengerti tentang permainan kehidupan seperti ini, gue paham, namun bagaimanapun juga gue manusia biasa, harapan yang tak terjadi walaupun tak secara ego-isme tenggelam dalam keyakinan harapan semu, gue tetap bisa patah-arang, merasa jatuh dan bersedih-ria.
Mungkin semua hal yang sudah terpikirkan, diidamkan juga diperhitungkan kebaikannya, tetap bisa kalah dengan realita apalagi takdir, padahal semua hal itu demi kebaikan diri dan sekitar, sudah diperhitungkan dengan keyakinan diri sendiri. Namun mungkin memang betul, baik bagi kita, tapi bagi semesta sang perancang, masih ada hal yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Gue yang tetap masih bisa menghilang, kesepian, hampa dan kekosongan yang tak menentu, gue yakin Surga tahu akan itu. Walaupun orang lain tak lah tahu...
Bulan ini gue hanya berharap bisa lebih baik dari kemarin, mungkin itu. Kesehatan dan kesejahteraan jasmani dan rohani, waras mungkin lebih dari cukup.
Mungkin sekarang tinggal menunggu panggilan dari sang spesialis lagi, lihat apa yang terjadi, apa yang mesti dipersiapkan lagi untuk tetap bisa melangkah ke depan lagi.
Tapi tetap sama kok, di bulan lalu tetap sama, gue masih tetap bisa hilang dan tenggelam, karena tidak mungkin bisa naik dan melaju semulus itu, semua memang butuh proses, tapi mungkin gue yang sekarang lebih baik dari yang kemarin-kemarinnya lagi.
Luka, segala tekanan pada lubang hitam dan kehampaan perlahan akan membuat gue kuat, semua tak semudah kelihatan dan walaupun tetap, harapan masih ada.
Surga dan semesta tahu, bahwa anak-anaknya hilang, kesukaran dan sengsara yang dialami dan penghiburan yang dibutuhkan, semua mungkin telah diperkirakan dan dipersiapkan juga.
Bulan yang berlalu, naik dan turun dan warna hitam juga warna putih semuanya serempak saling erat menyatu. Seragam dan gue percaya, semua akan ada jawabannya, mungkin tidaklah sekarang, mungkin nanti, semesta yang menjawab dengan senyuman.
Belum lagi pekerjaan yang di-ekspektasikan ternyata berbeda dengan realitas, gue sedih pastinya, namun gue juga akan biasa saja, tidak terlalu terbawa perasaan emosional sebab gue sendiri sudah paham dan mengerti tentang permainan kehidupan seperti ini, gue paham, namun bagaimanapun juga gue manusia biasa, harapan yang tak terjadi walaupun tak secara ego-isme tenggelam dalam keyakinan harapan semu, gue tetap bisa patah-arang, merasa jatuh dan bersedih-ria.
Mungkin semua hal yang sudah terpikirkan, diidamkan juga diperhitungkan kebaikannya, tetap bisa kalah dengan realita apalagi takdir, padahal semua hal itu demi kebaikan diri dan sekitar, sudah diperhitungkan dengan keyakinan diri sendiri. Namun mungkin memang betul, baik bagi kita, tapi bagi semesta sang perancang, masih ada hal yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Gue yang tetap masih bisa menghilang, kesepian, hampa dan kekosongan yang tak menentu, gue yakin Surga tahu akan itu. Walaupun orang lain tak lah tahu...
Bulan ini gue hanya berharap bisa lebih baik dari kemarin, mungkin itu. Kesehatan dan kesejahteraan jasmani dan rohani, waras mungkin lebih dari cukup.

Komentar
Posting Komentar