Kelak #SigapCerita
Hawa hari ini sungguh panas, kemarin padahal hujan gede banget disini. Tapi hari ini tanpa sedikitpun membekas hawa dingin dari kemarin, Mood mulai terganggu dan hawa panas tak kunjung hilang sebagai tanda belas kasihan.
Mandi barusan mandi, keringat sudah mengucur kembali. Gue harus tenang dan tak boleh kepancing mood negatif, banyak yang bisa diulik dan banyak yang bisa gue lakukan. Tenang sejenak, refleksikan sesaat di pusat pikiran dan hembuskan negatif itu keluarkan.
Bulan ini baru menyentuh februari. Gue begitu tak bisa rileks dan sedih selalu merasa terpenjarakan. Gue hanya ingin rehat sejenak dan menghilang hanya untuk diri sendiri namun tak ada yang bisa memahami gue, tak ada restu yang baik kepadaku tak ada belas kasihan yang memang tak kuinginkan dan tak ada pikiran terbuka disini-disisiku.
Dunia terlalu luas untuk mencari orang yang sejenis, komunitas yang mengerti dan sepaham untuk tidak sepaham. Yang ingin dengan ikhlas untuk saling mendorong dan agar bisa menikmati hidup yang tercipta sendiri rasa bersyukur dan tak selalu duniawi.
Gue tak sempurna tapi gue bukan tak berguna, gue punya jalan sendiri. Terkadang memang lebih baik untuk tak membahasnya daripada tercipta persepsi baru yang menghancurkan psikologi apalagi itu datang dari orang terdekat yang mungkin bisa gue percayai, datang dari saudara sendiri. Tak bisa gue bayangkan.
Gue tak mudah mempercayai orang, tapi jika gue terbuka untuk mereka-mereka ini. Betapa beruntungnya seharusnya mereka-mereka ini, Tapi ketidak-mengertian mereka terkadang aneh walaupun tentu itu hak mereka dan gue bisa pahami itu.
Meski begitu, gue akan sabar lagi dan lagi, diam dan mengamati semua ini, mau kemana semesta akan membawa jalan, gue pantau saja harusnya. Sampai kelak gue akan speak up lagi dan kita akan lihat bagaimana dunia ini merubah ceritanya. Adil tetap akan ada, pijakan akan tetap kokoh nan jauh disana...

Komentar
Posting Komentar