Jurnal Film; EXHUMA #ENSS

source: google images. tix id.


Sedikit banyak terdorong ekspektasi yang dibayarkan kontan dengan pengalaman.

Exhuma merubah warna tersendiri bagi gue tentang kesenian horor Korea, yang walaupun gue mengerti segala bentuk seni horor Korea itu salah satu yang terbaik. Entah mengapa gue merasa, Seniman Korea selalu paham cara bereksperimen dengan rasa takut dan titik sentuh psikologi, berpadukan ritual dan sejarah melahirkan propaganda yang elegan.

Saat dimulai, pengambilan adegan begitu menakjubkan, perspektif yang gue terjemahkan adalah tentang eksklusifitas seorang spiritual, hening yang ingin diciptakan sama seperti orang yang telah duduk di kursi wahana roller coaster yang siap turun membelah sebuah rasa, perlahan terbukti sekaligus yang paradoks, sebab semakin akhir rentan dan runtuhnya menciptakan bahwa mereka itu manusia juga.

Pasangan satu berjumpa dan berkolaborasi dengan kolega lainnya, untuk memecahkan masalah klien, namun para dukun ini sedari awal memang telah curiga dengan permintaan yang diajukan, gerak-gerik dan ada emosional yang disembunyikan, awalnya salah satu dari mereka, sang ahli fengshui menolak dan ia juga yang menjadi penentu untuk garis besar film ini.

Siapa dapat mendugam perlahan mereka mengelupas kulit-kulit yang tersimpan begitu lama di dalam tanah, mereka semakin ditampakkan bahwa ini menyangkut semesta mereka sendiri, sebuah aura jahat yang bisa melahap hidup-hidup mereka semua, di internet ada yang berkata Gisune adalah Buddha, menurut gue ia masihlah pertapa.

Kode dibalas kode, pak Kim Sang Deok selaku ahli fengshui, yang paham dan mendetil mampu memecahkannya, semakin dalam semakin menakutkan, yang mereka hadapi adalah siluman bukan lagi jin ataupun hantu-hantu belaka, yang punya jejak di tanah dan bayangan, sejujurnya, film ini terlalu sastra dan sukar untuk dimengerti hanya dalam sekali putaran.

Episode 4 gue pergi ke toilet, ada yang ke skip... 

Ya walaupun begitu, kengerian yang ditampilkan tetap berada dimana-mana, jenis film yang tidak mengandalkan sosok hantu, besar, dan jumpscare, yang ironinya juga sosok tersebut seperti hantu dan ia besar, juga sesekali terdengar jeritan dan suara keras, namun menurut gue, hal terseram justru tidak datang dari sana, melainkan "menjelang", ataupun dialog.

Korea mencintai negerinya, bahkan sedang propaganda sekalipun, film ini seolah mampu menjadi tali tambang yang sedang menarik kedua sisinya, setelah gue pikir-pikir, ini naskah yang hebat, pewarnaan yang hebat, akting yang hebat, tangan gue sendiri beku dengan yang ada di layar, wujud film ini karya yang menyenangkan untuk ditonton.

JOURNAL

Gue menontonnya satu hari yang lalu dari saat gue menulis jurnal ini di hari ini, Exhuma adalah film pertama yang menjadi kesukaan gue melalui tone warnanya, jarang sekali dari film-film yang telah gue tonton yang pertama kali mencuri perhatian gue adalah dari tone warnanya, Exhuma menjadi salah-satunya, mengambil hati sejak awal memudahkan untuk memuji sisi lainnya.

Pada episode empat gue sempat mampir ke toilet, sekiranya ada adegan yang terlewat juga tidak menganggu atau menciptakan kebingungan, bisa jadi, film ini juga menyusupi teknik adegan per-bab-nya sehingga rapi dan tidak merusak alurnya yang entah mengapa mengingatkan gue sekilas pada teknik yang dipakai sama Jatuh Cinta Seperti Di Film Film.

 Film ini menjadi salah-satu lagi film yang ingin gue punya benda fisiknya, sebagai koleksi dan ternyata gue menyukainya, film ini keren dengan cara tersendirinya, menciptakan imajinasi di kepala gue, imajinasi yang baru, imajinasi mengenai jika telah ada sebuah bentuk kreatif yang baru yang telah gue alami sendiri melalui film Exhuma.

CONCLUSION

Pewarnaan, yang khas atau paling tidak gue sering menemukan warna seperti ini di perfilman Korea, dengan sentuhan modern juga, Exhuma menjadi begitu hidup dari penulisan dan akting yang saling bersatu-padu. Suara, tema nada yang begitu mendukung dan terasa begitu misterius, enak sekali untuk menikmati Exhuma seperti kemarin.

Akting, sepertinya gue jarang sekali jatuh cinta banget dengan akting di film-film yang gue tonton, inget, banget, tapi di Exhuma, mereka membuat gue jatuh hati menggebu-gebu, jangan salah, mimik wajah Hwa-Rim mungkin akan ada yang merasa polos-polos saja, tapi itu adalah sebuah mahakarya ekspresif, buktinya, tidak akan lepas dari ingatan anda.

Ritual, yang membangkitkan selera gue tentang film ini, yang membuat gue sangat menikmati dari awal hingga akhir adalah mungkin ini menyangkut ritual, budaya dan sejarah, paket lengkap seperti buku rpul, ohya, dan juga bahasa jepang Kim-Go-Eun bagus juga ternyata, jika itu nyata hasil belajar, gue acungin dua jempol, keren!

Penilaian sentimental pribadi; 9.8/10.


Komentar

Postingan Populer