Jurnal Film: DUA IKAN DAN SEPIRING NASI #ENSS
source: google images. film-solo. soloraya-solopos.com
untuk beberapa waktu…
Gue memilih tontonan ini untuk kembali melanjutkan apa yang telah gue mulai, menyenangkan untuk kembali melanjutkan jurnal film ini, walaupun ini singkat tapi siapa menduga, moral yang film pendek ini ingin sampaikan padat se-padat-padatnya. Semua terasa begitu tepat, saling tumpang-tindik, bergemuruh seperti ombak di tambak.
Pada awalnya satu hingga dua menit pertama terasa begitu lama dan hening, sesungguhnya ini menarik, cukup menggambarkan jika ini sedang peralihan waktu dari subuh ke pagi, berbicara melalui visual, dan menyadari sesuatu seorang diri cukup menyenangkan setelah gue pikir-pikir lagi, ikan yang sepertinya ingin di jual di pasar tempat dua lelaki ini meraup pundi-pundi.
Bahasa Jawa yang digunakan cukup membuat gue kesulitan dan walaupun teks bahasa inggris cukup membantu, tapi perasaan yang ingin gue setarakan cukup terasa sulit, tapi tidak masalah, adegan terus berlanjut sebagaimana mestinya, pembangunan emosi yang terasa lama diawal seolah memang menyiapkan gue yang sebagai penonton untuk siap dengan hidangan yang diberikan.
Sang istri yang mampir, dengan menjumput sebatang rokok nikmat sebagai pengenalan dan mencairkan suasana, cukup untuk mengisi beban pikiran dan merubahkan segala macam ekspektasi-ekspektasi, Rosman rekan Paimo si bakal mantan sang istri, penggambaran tentang dirinya yang ingin dibentuk juga memiliki pondasi yang baik dan kental, bagian ini gue menikmati sekali.
Pengakuan saat di tambak tersebut, membuat klimaks, dimana penerimaan perlahan mulai dipersiapkan, entah dari sisi sang istri ataupun gue sebagai penonton, ekspresi ganda yang selalu ditampilkan membuat beban dipikiran gue, adegan berlanjut terasa cepat dan menarik, luka di kaki sang istri seolah mampu diri gue rasakan dengan berbeda.
Level dialog dan saat diam mampu gue rasakan jikalau dua-duanya tiada artinya, semuanya adalah tentang penyampaian, terasa banyak suara di kepala masing-masing, memikirkan masa depan dan langkah apa yang ingin dijalankan, perasaan ini sama seperti memancing di kolam yang hening dengan pikiran-pikiran masing-masing, yang pasti membuat gue sakit kepala sendiri.
Adegan terakhir membuat gue merasa perih meringis di hati, saat menulis ini gue masih merasakan bengong, menikmati diam dan menyadari kenyataan ini akan banyak terjadi di kehidupan nyata, realita di sekitar diri gue, bukan gue anti apalagi benci, tapi tentang akan ada pihak yang tersakiti jikalau kejujuran tak pernah ingin disampaikan.
JOURNAL
Siapa sangka, film pendek akan menjadi sepadat ini, karya anak Solo yang cemerlang, adegan yang berjalan sedemikian sederhananya, mengajarkan dan mengingatkan gue kembali sederhana memang akan terasa nyaman sekali, bersyukur dengan ruang yang merekam, bersyukur dengan apa yang bisa diri gue kendalikan sendiri, gue rasa gue merasa kecukupannya.
Ada satu yang menarik, ekspresi dalam akting yang selalu gue impikan untuk kuasi, yaitu satu mimik yang melahirkan banyak makna, banyak menyusur pelan hingga ke gestur, ini indah bukan main, entah itu menangis ataupun tertawa, sulit menerka dengan pasti, membuat film pendek Dua Ikan dan Sepiring Nasi menjadi salah satu film pendek kesukaan gue.
Beruntung dalam waktu dekat gue bisa menyaksikan dua film bagus sekaligus, satu di bioskop satu dari internet berbayar, ruang yang sama, dapur yang sama, dengan tambahan tambak ikan dan sepotong jalan lintas, semua pengambilannya begitu nyaman dirasakan, tampak nyata, kecuali ada satu, saat sang istri tenggelam secara nyata dan secara makna (tenggelam di tambak bersama kekecewaan).
CONCLUSION
Gue pasti akan membahas tentang pewarnaan di film pendek ini, dimana gue suka sekali dengan yang satu ini di film ini, sesungguhnya pewarnaan ini nyata, bisa gue temukan di kehidupan sehari-hari juga, terasa sederhana dan memukau, membuat bintang-bintang terasa hidup di siang hari, memberi sensasi dari masa lalu yang entah apa itu.
Akting dari aktor yang bermain juga gue nikmati, mungkin saja dari sang istri ada beberapa kali terasa kaku di gue, tapi apa mungkin itu sengaja diciptakan, memang setelah gue pikir ulang, itu tampak nyata bagi orang-orang yang punya pengalaman dengan orang semacam itu. Ada hal unik, untuk satu hingga dua detik gue bisa merasakan bau ikan goreng di film ini.
Adegan berat dan tabu bagi sebagian orang terasa natural mereka aksikan, gue menikmati karena terasa nyata, gue akui sulit jika gue yang memerankannya, tapi ini ilmu dan sudut pandang bagus bagi gue, perlahan tapi pasti, menjelang akhir semua begitu indah, bagian kreatif juga berhasil dengan kerja kerasnya, penyampaiannya tepat sehingga mampu mengangkat moral yang ingin dimaksud.
Penilaian sentimental pribadi; 8.7/10

Komentar
Posting Komentar