flossing {4}
source: google images.
kehancuran yang telah gue rasakan beberapa waktu ini, yang melahap jiwa gue serta-merta, telah membuat gue kelelahan, tapi bisa ada diposisi saat ini juga membuat gue merasa sedang berada di sesuatu yang penuh keajaiban, sesak, haus dan kering membuat gue seakan-akan memang sudah mati dari beberapa waktu lalu, dan ini sakit sekali.
hari ini, tepat di hari ini, gue baru selesai konsul dengan psikolog, hari pertama lagi setelah sekian lama waktu yang lalu, sore ini dimana gue menulis ini, apa yang sedang gue rasakan? hampa, sama seperti waktu-waktu yang lalu itu, getir, pahit dan merasa bosan, tapi harapan itu sedikitnya ada di genggaman gue dalam wujud lain yang lebih padat.
amarah gue harus selesai, caranya bagaimana, gue sendiri tidak tahu, gue sedang mencarinya, gue sedang mengusahakannya, kenapa ini harus terjadi pada gue? pikiran seperti ini masih ada sampai saat ini, rasa tidak ikhlas dan marah, walaupun gue tahu dan ada pendapat bijaknya, hanya saja dengan berpikir seperti itu, bisa membuat gue lebih terpuaskan.
terimakasih tenaga medis, mau mendengarkan curahan hati gue, terima kasih banyak untuk energi yang kembali lagi kepada gue, energi dari waktu-waktu yang telah berlalu itu, menyelamatkan gue, maaf gue banyak salah, maafkan gue, diri gue sendiri, di usia yang sekarang gue juga banyak takutnya, terkadang gue hanya perlu didengarkan dan mendapat dukungan.
gue ingin melangkah jauh, gue ingin menari-nari dengan bebas tanpa takut merasa bersalah, tanpa takut dihakimi, gue ingin bisa mengendalikan diri gue sendiri, gue ingin juga mengenali diri gue sendiri, sebaik-baiknya, sepatut-patutnya, gue hanya ingin menjadi manusia yang sejati, apakah gue boleh menangis sesegukan kembali?
pikiran sempit yang tercipta sekarang semakin membuat gue membenci diri ini sendiri, ujungnya kepada keluarga yang itu lagi yang itu lagi, gue hanya ingin pergi dari semua ini, masalah ini memang tidak bisa diselesaikan, gue ingin belajar menerima semua ini, gue ingin bisa berdiri di kaki sendiri, tersenyum kepada luka lama yang tidak main-main pedihnya.
Tuhan, apakah diri ini bisa Engkau ampuni? apakah masih pantas untuk terampuni? sosial telah membuat gue merasa kalah, sekali kalah langsung pada raja terakhir, apalagi yang bisa gue kejar? apakah gue bisa sembuh? biarlah gue bisa mempertanyakan semua jenis pertanyaan ini, tanpa dihakimi dan cukup dengan dukungan saja.

Komentar
Posting Komentar