February #throwback
source: google images.
bulan ini dan pengalaman berbeda, tidak terasa juga sudah mau akhir bulan, berpetualang dari barat ke timur untuk mengalami pengalaman baru itu sendiri, juga penyegaran pikiran dan jiwa, hal-hal baru yang indah untuk dirasakan, juga sedang berada di masa-masa pemilihan umum, mengalami waktu berkualitas bersama kekasih tersayang juga.
memang tidak terasa, tahu-tahu satu bulan sudah terlalui, baru memasuki tahun 2024 sekarang sudah bulan dua, dari momen adik yang merantau, keliling bersama kekasih di DIY, ke kota wangi nan dingin yang membuat gue kangen akan cireng dan buburnya, hingga panasnya kota dua hewan buas, momen yang gue biarkan seapa-adanya, agar nikmatnya sungguh menawan.
imlek kali ini tidak ada perayaan khusus di sisi gue, tapi sudah cukup dengan apa yang gue alami malahan lebih indah dan berharga, walaupun menguras dompet tapi tidak masalah, momen seperti ini sekali dari seratus, sebelum kembali ke realita sesering-seringnya, terkadang sekali momen hal indah cukup merawat pondasi yang sering terkena teriknya realita kehidupan.
terutama sekarang, film agak laen yang sedang naik daun, film komedi yang mampu menyegarkan jiwa dan meredakan panasnya masa-masa politik, komedi yang menyenangkan, gue yang sudah menontonnya hingga dua kali, tetap terasa senang dan bahagia akan adanya karya ini. jika tembus hingga sepuluh juta lebih penonton, benar-benar agak laen film satu ini.
ada ketakutan dari dalam diri gue, kesalahan yang gue sadari, namun diperparah dengan budaya moral negeri ini, gue hanya berharap yang satu ini tidak terjadi, orang terdekat gue tidak se-supotif itu, gue hanya akan menjadi sampah di lingkungan gue, hal-hal seperti inilah yang semakin meyakinkan gue, untuk segera cabut diri dari mereka-mereka yang katanya keluarga.
apapun omongan mereka nanti, pembelaan gue cuma satu, mereka berkata, mereka yang membangun gue, seharusnya gue tahu diri, tapi mereka lupa, yang mereka bangun telah mereka rubuhkan lagi, yang mereka rubuhkan tetap indah dan pantas katanya, malu-maluin pandangan seperti itu, ego dan penolakan yang subur karena kemalasan mereka sendiri.
keluarga seperti ini yang sungguh tidak ingin gue bentuk, batas gue hanya sampai untuk tidak ikut campur, sudah bukan urusan pribadi, karena kelak gue tidak ingin dicampur-tangankan, sungguh tidak mudah hidup di tengah-tengah mereka, pinggir saja sudah hancur lebur, kepala gue sakit, badan gue panas, pernapasan gue sesak, sudah saatnya gue pergi.

Komentar
Posting Komentar