flossing {3}
source: google images.
dugaan-dugaan terburuk datang, gue tidak tahu cara menangkalnya, berhari-hari gue lalui dengan rasa khawatir dan rasanya setengah mati, atau mungkin inilah bayang-bayang dari kematian itu sendiri, merasa sendirian dan kesepian, terpuruk seorang diri, mau mencari pertolongan yang tidak pernah tahu datangnya darimana dan harus kemana yang di lain sisi pikiran terus saja menyempit.
sesak dalam diri, gue yang menjadi pelupa adalah bentuk dasar dari tekanan yang tidak main-main, gue juga sudah berusaha, siapa bilang gue tidak berusaha? ujungnya memang tidak pasti dan arahnya kemana-mana tapi itu juga karena pondasi dan akar dari kehidupan gue, orang-orang nomor satu yang seharusnya suportif itu tidak ada sama sekali, bantalan hidup itu pada dasarnya hilang sejak awal.
apa yang mesti gue lakukan lagi, pergi dari sini selalu jadi impian, tapi racun itu sudah mematikan motivasi yang seharusnya jadi api dan keberanian telah lama hancur dan mati, sakit se-sakitnya, kenapa hidup gue seperti ini? gue punya mimpi, gue punya angan-angan, tapi apakah yang usang ini masih bisa hidup kembali, gue ingin menyudahinya sejak lama tapi gue tidak tahu lagi harus kemana.
gue berdoa dan berharap, yang gue takutnya tidak terjadi, gue tidak mampu, untuk soal ini, gue benar-benar minta maaf, gue tidak mampu. orang tua tidak bisa diharapkan, mereka sendiri saja sedang kewalahan dengan masa kecilnya mereka sendiri, sedang terperangkap dan bermain-main dengan pikiran intrusif mereka, gue ketakutan, harapan itu seolah-olah tidak ada lagi di diri gue.
gue ingin bisa menari-nari lagi, sewajarnya hidup, sewajarnya anak manusia menjalani kehidupannya sendiri, gue marah dan kecewa seperti ini sepertinya tidak ada hal baiknya, hanya melahirkan dosa-dosa mengerikan dan batu sandungan untuk masa depan diri gue sendiri, kesulitan bersosial ini menghancurkan mental gue sendiri, semakin dipikirkan semakin runyam saja.
oh Tuhan semesta alam, berikan diri ini kebaikan, belas kasihanlah kepada hidup ini, terlalu takut, banyak ketakutan yang menumpuk, melahap diri ini hidup-hidup, apakah tidak boleh saat terluka itu diri ini sedih, nangis, marah dan meraung-raung? hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna, mental jiwa telah lama hancur dan rusak, menjalani hari selalu dengan mati rasa.
kendaraan berjalan, orang-orang yang bergerak, suara-suara yang terdengar tapi gue sendiri, menggila dan mati rasa, bertahun-tahun menjalaninya dengan sakit dan tak hidup, hitam dan putih masih cerah ketimbang abu-abu, usang dan pudar. bagaimana ini, umur dua puluh delapan terasa panjang dan mengarah ke belakang, ini melelahkan, sungguh melelahkan.

Komentar
Posting Komentar