September #throwback
source: google images. hope.
banyak hal yang dicoba dan tidak sepenuhnya berhasil, yang berhasil juga tidak mulus, tapi tak apa, nanti gue coba lagi, kita lihat lagi bulan ini, sebab dalam usaha untuk diam tak semudah yang dikira, semakin jauh dari peredaran, tapi bertahan dulu, menyentuh tiga hari saja belum, sebenarnya jenuh juga gue kira, saat terus-terusan kehilangan diri sendiri.
bulan lalu lumayan sering sakit, beban pikiran seperti menggerogoti diri dari dalam, dari isi kepala, melahap bulat-bulat jiwa dari atas kepala, saat gue melakukan peregangan barusan ini, sembari menatap langit-langit, gue mengira lampu gantung akan langsung jatuh mengenai kepala gue dan segalanya mungkin usai, dan segera mengetahui tentang selama ini yang menjadi tanda tanya.
hari ini saja gue baru mau pulih-pulih dari beberapa hari meriang, belum lagi minggu-minggu lalu jatuh dari motor juga penyebab salah satunya adalah banyak pikiran jadinya ga fokus. ketakutan itu wujudnya lemah namun kelicikannya mampu membungkam orang-orang terbaik di negeri ini, dan membikin ia menjadi bukan siapa-siapa.
tenanglah, ini akan usai, semua akan reda dan segera memasuki masa sepi, gue akan segera pergi dari sini, gue harus berani, gue harus menahan rasa sakit, rasa sakit cangkang yang ingin gue lepaskan, gue harus hidup, menangis sejadi-jadinya, layaknya hidup di hutan luas tak ada siapa-siapa, menangis jadi semelegakan itu.
lemah itu seperti membakar bendera kemerdekaan, membungkam suara-suara kebebasan, melenyapkan realitas eksistensi itu sendiri dan menangis karena menyadarinya menurut gue adalah plang penunjuk jalan untuk merebut kemerdekaan itu sendiri, masa lalu sudah banyak melenyapkan diri ini, karena ini juga, gue memutuskan sendiri sampai tua.
sebab gue tidak ingin menyakiti siapa-siapa, menularkan virus dari suatu hal yang telah bernoda, kedua sosok itu terlalu menakutkan, bahkan orang-orang di belakang kedua sosok itu, tidak, kalau yang di belakang hanya salah satu dari mereka, sedangkan satu lagi, jika ia seorang teman, paman, kakek ataupun seorang sahabat, tak apa, tapi bagi bagian sosok ini, ia terlalu keras.
gue lelah sakit, gue lelah takut, gue lelah hilang diri sendiri, dan jujur gue tidak tahu harus bagaimana, sejauh apa lagi untuk ini, berlari atau bertahan, kedua pilihan terasa salah, jika menciptakan manusia mereka gagal, jika menciptakan sosok kedua mereka, mereka berhasil, itu saja. namun gue ingin menghancurkan masterpiece mereka, sungguh-sungguh.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar