Jurnal Film; KISAH TANAH JAWA: POCONG GUNDUL #ENSS
source: google images. IMDb.
Pada awalnya gue mengetahui film ini dari iklan di film lain di bioskop yang gue tonton, sejujurnya sejak iklan di bioskop itu, bagi gue kurang menarik, jadinya tidak ada keinginan lebih buat mau menontonnya, lagian untuk genre horror kurang jadi pilihan di diri gue, lebih senang genre yang lain begitu, karena gue horror takutan banget orangnya.
Nyatanya menyenangkan, adegan awal terasa humble dan nyaman sekali, seperti aura Jogja pada umumnya, pada seharusnya. Lagian film ini juga berlatar penuh di daerah jogja, semuanya terasa natural, adegan berlanjut satu demi satu, Deva Mahendra disini terasa tepat sekali menjadi sang om Hao, Deva begitu mahir dengan apa yang sedang ia kerjakan, dua jempol.
Sedikit kelupaan, adegan paling awal entah percakapan om Hao kecil dengan sang kakek atau ritual perdukunan, tapi anggap saja, gue mulai dari percakapan dari om Hao kecil dengan kakeknya, disini akting om Hao kecil begitu bagus, editing kertas melayang juga begitu enak sekali, wah awal sudah ok banget pikir gue.
Memasuki bagian dramatis, saat salah satu siswi yang menghilang, secara alur cerita maupun alur petualangan, jujur menurut gue, gue suka sekali. yah, walaupun disini secara konflik dan "pertarungan" memang sedikit terasa janggal, tapi syukurnya selama adegan berlangsung, gue bisa lebih mengamati alur ceritanya dan percaya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Konflik disini jika melihat dari sisi story sungguh bisa dinikmati sekali, namun ada sedikit miss seputar editing, tapi ywdlahya, semua ketutupan story, dan gue masih enjoy untuk menikmati film yang satu ini, jumpscare masih dimana-mana, tapi masih ada yang krusial, aksi penghubung point masih kurang enak bagi gue, itu saja sih.
Iwa K, yang berperan sebagai sang hantu, terasa begitu jenius, ia seolah ahli jika soal sosok-sosok jahat seperti itu, di film lain seperti sayap-sayap patah, ia terasa begitu menakutkan, gue menonton dengan begitu kewalahan dan tak berdaya, T O P S I R, editing pocong gundul disini juga kurang sedap, tapi sudut pandang lain, pocong ini bisa menjadi brand tersendiri.
Akting Deva Mahendra, gue suka sekali, terasa sekali jiwanya, bagi gue yang takutan dan kagetan, mudah sekali untuk terpancing, tapi gue sadar, film Kisah Tanah Jawa memang bagus secara penulisan dan petualangan, dimulai dengan baik, tapi secara editing bisa lebih baik gue merasa yakin, adegan perdukunan disini juga punya aura tersendirinya, dan mampu membangun suasana.
JOURNAL
Kami janjian kumpul di bioskop jam 4 sore, dengan niat awal bisa mengejar sesi 4.25 sore, pada akhirnya jam 7 malam juga, gue baru sadar hari itu, hari libur, ternyata bisa serame itu, padahal bukan masuk penayangan pertama dan mungkin sudah berjalan semingguan berlalu, dan secara keseluruhan, hari itu, hari yang menyenangkan.
om Hao sendiri, gue sudah sering mengikuti youtubenya, dengan nama channel yang sama, Kisah Tanah Jawa, pengagumnya ia sebut Javanica, eh, iya ga sih? beliau memang senang merangkum sisi sejarah dengan supranatural jadi terasa ada ciri khas lain dan ada ilmu yang bisa gue ambil, gue yakin begitu pula dengan penikmat-penikmat lainnya.
di sesi yang lain, namun tidak sama, ada Kisah Tanah Jawa berjudul Merapi, pemerannya juga Deva Mahendra, jujur gue lebih menyukai Deva di Pocong Gundul. film yang satu dengan yang lain, tidak saling berkaitan, tapi mungkin tetap satu semesta bagi sang penulis dan berupa pengalaman pribadi, lebih enjoyable bagi gue masih tetap KTJ: Pocong Gundul.
CONCLUSION
Film ini tentu tidak banyak lagu pengiringnya, hanya satu palingan yaitu di akhir film dan lagunya keren sekali, penyanyinya salah satunya adalah Iwa K sendiri, tapi ga masalah, kalau film horror begitu banyak lagu pengiringnya, terasa gimana gitu, kali ya, dan katanya video klip dari lagu ini di lokasi yang cukup angker, kurang berjiwa apa lagi lagunya.
Secara pencahayaan selain saat adegan konflik dengan sang hantu, semuanya terasa mahal dan nyaman sekali, seolah "Jogja" banget gitu, terserah juga kalau ada yang mau bilang terlalu meromantisasi Jogja itu sendiri atau tidak, tapi maaf, kali ini, itu yang gue rasakan, dan maka dari itu, ini juga yang gue tulis, begitu apa adanya.
Bagi gue yang kurang nyaman dengan genre horor, film ini masih menawarkan titik kaget yang annoying, tapi pikiran positif gue, ia menaruh titik kaget itu dengan mudah ketebak, pikir gue ini seolah sengaja untuk membantu sisi penulisan itu sendiri, menyentuh sesuatu yang hanya bisa tersentuh oleh bagiannya, mengingat ini bukan buku, sebab ini karya visual.
Penilaian sentimental pribadi: 7.5/10.
Iwa K & Madukina - Mantra Dahana

Komentar
Posting Komentar