Jurnal Film; THE EXPANDABLES 4 #ENSS
Source: google images. IMDb.
Aktor Iko Uwais di trailer yang membuat gue ingin tahu lebih dalam tentang film ini…
Film bertabur bintang yang satu ini benar-benar tidak hanya mengandalkan "kebintangan" tersebut, adegan-adegan yang sungguh menyenangkan, bahkan sedari awal, gue sudah merasa disuguhkan oleh aksi dramatis yang tidak main-main, cukup tidak ada jeda yang membikin ngantuk, tentu saja, film ini mengandalkan laga dan tarung ketimbang dialog.
Perseteruan yang sudah separuh jalan, ada kelanjutan dari masa lalu yang tidak gue ketahui, walaupun begitu, tidak ada perasaan yang mengganjal atau ada miss yang berarti, maklum, gue tidak menonton sesi 1 hingga tiga dari film ini, duet Barney dan Christmas yang savage menambah keriuhan dramatisasi dan ekstrim berbalut hal yang "biasa saja", sungguh-sungguh epic.
Adegan pertama, Rahmat, seolah diatas rata-rata harapan penonton tanah air, mimik wajah dan yang disorot yaitu aksi tarungnya bagus sekali, dialog yang tidak banyak terucap menambah sisi misterius dirinya, begitu brutal dan berdarah dingin, menyenangkan sekali beliau yang satu ini. Namun ia pula yang menjadi dalang agar siasat cerdik sang aktor utama terealisasikan dengan balutan menyedihkan.
Setelah runtuhnya duet Barney-Lee, semua begitu terpukul, amarah tersebut jugalah yang melahirkan dendam dari para kawan-kawan lama Barney, misi balas dendam, menghentikan bibit perang dunia ketiga hingga menemukan rahasia sang Ocelot yang selama bertahun-tahun tidak ada yang tahu-menahu.
Disini Megan Fox masih seorang pemeran yang luar biasa, terjelaskan melalui akting yang ia tunjukkan. Dan sisi lainnya, panggung yang dipakai terasa tidak banyak mungkin itu juga yang membuat gue sedikit merasa jenuh dan terasa lama tapi semua hal yang ditampilkan surprise mampu menutupi itu semua.
Syukurnya, ini film yang berakhir bahagia, walaupun untuk menutupi lubang-lubang terasa terasa tidak sempurna, terasa sedikit tidak masuk akal namun bagi gue, gapapalah, tetap tidak di bawah standar, tapi gue ada merasa juga, ini sudah mereka pikirkan sepertinya, mereka membangun suasana dengan duet Barney-Lee yang penuh komedi di awal, sehingga punya rasa termaklumkan.
Iko Uwais sebagai Rahmat di film ini, benar-benar sangat bagus sekali, ia memunculkan kemampuan dirinya sebaik-baiknya, tidak ada ketimpangan, semua terasa sama, benar-benar mahal, walaupun saat-saat terdesaknyapun sungguh indah sekali akting yang ia tunjukkan, tidak sekadar laga, ada kesenian lain yang ia tonjolkan.
JOURNAL
Film yang tidak gue ketahui sesi-sesi sebelumnya, tetap enak buat gue nikmati, bahkan ada momen-momen dimana gue mampu merasa ngilu dan kaget, detil-detil semacam ini yang sejujurnya menyenangkan, siasat perang, gaya bertarung yang berbeda-beda, arah percakapan yang mengecoh, adalah kado kecil yang selalu gue nantikan.
Lagu iringan yang tidak banyak namun hadir di waktu yang tepat, ini rupa-rupanya menyenangkan juga, tepat sasaran untuk membangun perasaan yang diinginkan. Film perang semacam ini, ternyata bisa gue nikmati juga, soalnya gue jarang juga menonton film aksi perang, nyatanya asik juga, tidak ada terasa jenuh dan bosan, ini sungguh menyenangkan.
Pewarnaan yang terkesan ceria dan tidak sendu, terasa berkelas, walaupun isu perang yang terasa sudah ada dari zaman dahulu, namun mereka meriasnya dengan cukup pop dan kekinian, tidak berlebihan lebih cenderung pada porsinya, terasa berbaur dan fleksibel namun tidak terasa juga adanya sinisme ataupun sentimen negatif.
CONCLUSION
Film ini semacam comfort food saja, tetap enak buat gue tonton sekali lagi, dan gue masih berharap film ini akan ada sesi selanjutnya lagi, namun gue tetap ingin menonton film-film sesi sebelumnya, namun yang gue sadari juga, sedikit ada bumbu sentimental dari tengah menuju akhir, terutama bagian akhir, kesedihan juga keputus-asaan detik sebelum merasa ia telah usai.
Tapi sepertinya memang tidak ingin ada kesedihan yang berlarut-larut dari sang penulis naskah, mungkin ia ingin film ini tetap fun buat ditonton, saat waktu mulai terasa lama, ia langsung memberikan kejutan yang epic tersebut, namun yah seperti itu, bagian akhir yang menggantung cukup memberikan lubang namun tidak berarti apa-apa.
Yang menjadi spotlight disini salah-satunya adalah pewarnaan dan pencahayaan, jujur saja, gue cukup peka dan sensitif akan sisi ini, tidak berarti apa-apa juga, ini hanya nilai plus pribadi yang hanya bisa gue nikmati sendiri, membangun kreativitas dan sudut pandang dalam pikiran sendiri, dan yah, gue akan menunggu film ini di Netflix, semoga ada.
Penilaian sentimental pribadi: 9/10.

Komentar
Posting Komentar