July #throwback

source: google images.


hidup seperti apa yang gue inginkan, semakin mencari terasa semakin berat, seperti sedang melakukan hal yang sia-sia, seperti sedang melakukan sebuah kesalahan namun tidak jera-jera juga. baru saja berulang-tahun, merayakannya dengan salmon dan bir, namun cukup sampai disana rasanya, seperti meniup lilin perayaan, namun ketika api itu mati, semua kembali gelap gulita.

namun, kehilangan hal-hal yang dipunyai terasa lebih ringan saat sedang memiliki hal-hal yang ada, dalam gelap, mata perasaan ini seperti lebih peka terhadap adanya cahaya terang, sekecil apapun, namun saat abu-abu terasa banyak khawatirnya, terasa kecemasan yang hebat dan ragu-ragu yang perlahankan mendinginkan lentera yang hangat.

memang sangat nyata, yang ada di dunia ini, tidak semua hal mengenai diri kita, sekira walaupun terasa sudah melakukan yang terbaik, namun tetap menganggap semua yang ada di dunia adalah mengenai kita, mungkin memang benar begitu adanya, maksudnya, ada sesuatu yang ada dalam diri kita yang sedang bersuara dengan keras dan lantang, dan itu terasa melelahkan.

semuanya menyuarakan masa lalu sudah berlalu, yang dari masa lalu sudah terjadi. namun mengapa tak ada yang mau menyuarakan, sesuatu yang berlalu itu tercetak nyata dan terkadang mengerikan, sebuah bayangan yang mengalih-fungsikan dirinya adalah sebuah kenyataan, kenapa tidak ada yang mau mencoba saling memahami dan mengerti?

terkadang kenyataan yang tidak berwujud lebih menakutkan ketimbang kenyataan yang berwujud, mungkin mereka-mereka ini belum sampai di tahap yang jauh di sana. tidak masalah, namun terkadang sungguh menyebalkan orang-orang ini, kapasitas tidak besar namun bersuara layaknya pipa pabrik, debu semua dan merusak.  

maaf, seribu maaf, pada akhirnya gue memang valid sekali hanyalah manusia biasa, yang butuh mengeluh dan membuat situasi dimana gue bisa kembali dari bawah dalam perihal berharap, bukankah semua perasaan itu valid, mau sisi kiri maupun sisi kanan. tidak bisa dan tidak adil menyematkan yang satu itu buruk yang satu itu baik.

walaupun begitu, gue terus ingin mendekatkan diri pada pengharapan, gue ingin percaya, paling tidak belajar untuk percaya, kiranya bulan-bulan ini gue sehat walafiat, tetap kuat saat menghadang gempuran yang menakutkan ini, tetap taat berdoa, seperti sedang menangis, terkadang yang tak berkata-kata, energi doanya lebih murni dan kuat signalnya, amin.

Komentar

Postingan Populer