Journal Film; OPPENHEIMER #ENSS


source: google images. Wikipedia.

Sejujurnya gue ragu untuk menuliskannya...

Ini mungkin semacam riwayat hidup dari seorang yang dijuluki sebagai "bapak bom atom" atas perannya dalam memimpin proyek Manhattan, dalam riset dan pengembangan yang berujung dalam terciptanya senjata nuklir yang pertama. Ia sepertinya orang yang sangat mencintai bidangnya dalam fisika-teori. Namun berjalannya waktu ada takdir yang harus ia terima.

Ia mengambil langkah pendidikannya di luar negeri, bertemu orang-orang kenamaan dalam bidangnya, ia seperti tahu apa yang ia inginkan, ambisi dan perfeksionis yang terasa menyenangkan baginya. Namun perlahan-lahan dalam masa pendidikannya, ia sangat kelelahan dan mentalnya mulai roboh, ia terlihat seperti orang yang tidak banyak tidur.

Pikirannya berkutat dalam menjelaskan rahasia alam semesta, tekanan itu sangat menyiksa, gue tidak tahu, apakah karena kecintaan atau hasrat yang lebih tinggi, atau berbanding lurus dan menyentuh pada titik tertinggi dalam mentalnya. Tapi yang gue tahu, ini semacam wujud cintanya pada negerinya. Bahkan di masa ini dalam kisahnya, Albert Einstein sering menasehatinya.

Perang dunia kedua, sangat tragis, setiap negara ingin mencapai posisi tertinggi demi memenangkan negaranya, namun Oppenheimer tahu, apa yang terjadi jika negara musuh yang menemukan senjata kartu as unggul, maka tidak ada berita baik yang akan di dapati. Namun bagaimanapun, sekalipun sebelum kenyataan terjadi, pilihan penemuannya juga sungguh merusak.

Los Alamos, New Mexico. Tempat yang menjadi mimpi idealnya untuk menyatukan antara mimpi dunia fisika dan tempat tujuannya menjadi kenyataan, semua usahanya untuk menemukan "bom dahsyat" dengan bantuan rekan-rekan fisikawannya, dan tinggal disana, dengan membangun sebuah kota di lahan kosong, semua usaha itu baru dimulai.

Semua mimpi akhirnya terwujud dan Jepang hancur, ternyata ketakutan dan perasaan bersalahnya perlahan merayap ke dalam dirinya. Tentu, tidak ada yang akan senang dengan pemusnahan massal tersebut, hati nuraninya lebih unggul, namun ia tidak ingin tenggelam dalam kesia-siaan putus asa, ia mesti bangkit dan menerima takdir.

Belum lagi, ada musuh dalam selimut yang menggrogoti kehidupannya, namun ia punya prinsip sendiri untuk ia pegang, nasehat dari teman lama, Albert Einstein yang ternyata juga menjadi bibit kesalah-pahaman yang berujung dendam, semacam lingkaran setan namun itu sepertinya hanya bagian dari takdir kehidupan yang mesti ia jalani.

JOURNAL

Sejujurnya, gue tidak ingin berekspektasi terlalu dalam dengan film ini, dengan maksud, tidak memaksakan kemampuan yang lebih dari itu dalam menonton dan menikmati film ini, biarlah apa yang gue dapat itulah yang gue terima, sehingga tiga jam duduk menghadap layar menjadi tidak terasa melelahkan dan menyiksa.

Gue menyukai apa yang gue terima, tentulah sesuatu yang tidak netral, banyak pemeran bintang di film ini, salah satunya Cillian Murphy yang memang gue favoritkan. Dialog yang gue sukai, pengambilan gambar hingga akting itu sendiri. Apa yang gue bisa itu yang gue tonjolkan, gue tidak menyesal menonton Oppenheimer, semoga itu cukup menggambarkan isi hati ini.

Malahan gue ingin menontonnya sekali lagi, menikmati pewarnaan yang cukup menonjol itu sendiri, sinematografi yang sangat mengesankan itu sendiri hingga drama juga aspek natural di dalamnya. Siapa sangka walaupun banyak kosa-kata yang terasa nihil saat gue terima tetap gue ikhlaskan, nihil karena sangkin beratnya jadinya tidak terserap dengan baik.

CONCLUSION

Gue sangat menyukai pewarnaan di film ini, bukan soal kontras antara dua pihak sisi yang dibagi atas bewarna dan hitam putih, kalau yang bagian itu sudah mencolok sekali, namun pewarnaan dalam sepanjang film tersebut yang semakin memperjelas maksud yang ingin dicapai, pesan-pesan tersirat yang membantu memperjelas maksud dan tujuan.

Ledakan yang katanya menarik sudah berseliweran dimanapun entah di sosial media, artikel hingga video-video di segala platform, ternyata memang sungguh indah apa adanya. Seolah bunyi bunga mekar di neraka. Kehancuran setiap perasaan tokoh, air muka yang menjelaskan, ketakutan, putus asa, bahkan perayaan suka-cita yang penuh akan kesedihan itu sendiri.

Konflik yang menyakitkan menjadi sesuatu yang gue sukai, hingga perkataan dalam dialog yang entah kenapa cocok sekali menjadi kutipan-kutipan, entah itu motivasi maupun harapan. Perang psikologi yang membikin diri sendiri menjadi gelisah, seolah terserap sempurna dari sang tokoh peran yang memainkannya dengan gue yang sebagai penonton.

Penilaian sentimental pribadi: 9.6/10

Komentar

Postingan Populer