Journal; 26 november

source: google images.


fluktuatif adalah sesuatu hal yang gue enggan untuk merasakannya, tapi jika datar itu tanda mati, gue juga enggan pastinya. Maka fluktuatif sendiri lebih baik dari yang satu itu, perasaan yang luput dari kontrol juga seringkali membuat gue hilang kendali, padahal hidup itu selalu penuh kejutan, maka dari itu kenapa mesti sedih kalau di pikir-pikir lagi?

Beberapa hari ini gue mencoba yang terbaik apapun yang sedang gue kerjakan, tapi negatifnya gue masih belum bisa berpikir luas, kenapa? Karena sekali saja ada miss gue langsung kalang-kabut ga karuan dan itu jeleknya dari gue sendiri, paling tidak gue masih menyadarinya jika ada yang tidak baik-baik saja dalam diri gue sendiri, jadi masih ada waktunya mencari solusi.

Gue tidak mau mundur ke masa lalu yang muram itu lagi, walau sering juga ia yang datang sendiri bagai ombak di tanah karang, paling tidak itu bukan kemauan gue jadi masih ada jejak kaki gue di daratan saat sebagian tubuh gue yang lain sudah basah dan tenggelam terapung di garis pantai yang mulai menjorok dalam ke lautan, tapi masih ada harapan sama sekali.

Kita lihat, gue akan tumbuh seperti apa, selama ada imajinasi yang bisa gue pakai bermain, dan gelora api yang masih tahan lembab dari sumbu di ruang gelap di dasar hati. Selama gue masih bernapas dan mampu menahan gentarnya dari dalam dada, binar-binar yang gue ciptakan sendiri, walau nenek-moyang mulai geleng-geleng kepala melihat keturunannya mengambil jalan hidup yang sangat berbeda.

Jika menangis masih sanggup gue lakukan, mungkin hidup masih baik-baik saja, semoga masih bisa tetap seperti itu. Dan yang satu itu, sesuatu yang belum terbukti, gue harap bukan suatu kenyataan, gue mulai kering jika ia terus bersandar pada gue dan belum ada pembuktian apa-apa, bayangan gue lama-lama pudar jika seperti ini terus. 

Bulan semakin cepat ingin berlalu, gue berharap ada pembaruan di gue, dunia belum henti dan masih sesuai porosnya. Alam masih berdering nyaman dan tanah tandus masih adem ayem, bahkan anak-anak kecil masih semangat menendang bola itu masuk ke gawang khayalan dari dua kayu layu dan sandal yang beda warna, hingga perasaan itu ter-capture indah di ingatan.

Berlari dari realita tak pernah sebagus itu, ia akan tetap di belakangmu, sampai gue mau menyadari dan menerima keberadaannya, jangan tanya apa yang salah, jangan kejar sempurna, biarlah ada guratan dan gue masih indah pada senyumannya dan pikiran ini luas demi hidup yang terus gue kejar. Jika kelak gue terasa tak baik-baik saja, biarlah gue sendiri menanggungnya.

Komentar

Postingan Populer