September #throwback




kembali pulang ke rumah kedua dari kampung halaman, membawa cukup perbekalan. lebih mengenal siapa diri ini, siapa diri orang lain yang memang penting juga bagi gue untuk lebih mengenal mereka, walau, tidak sepenuhnya hal hal yang gue imajinasikan untuk terjadi akan terjadi, tapi memang sudah gue antisipasi, supaya tidak kecewa, ego-egoan belaka.

perbekalan, sesuatu yang memang perlu gue miliki, sekalipun gue menolak, ia akan tetap berada di depan pintu rumah gue dimanapun gue berada dengan bel berbunyi itu tanpa ada siapapun gue lihat. tapi ini lebih berharga, walau sakit, walau kecewa, walau cemas dan kecil hati. tapi jika itu kesembuhan yang lebih besar yang lebih penting, rasanya sebanding juga.

dewasa itu tak mudah, bahkan gue trauma dengan kata itu, bukan menolak sadar atau kenyataan, tapi dahulu itu, orang-orang dengan omong kosong dan gaya-gayaan, menerkam gue habis-habisan, menyiksa mental gue, yang sebenarnya jika gue telisik ke belakang, gue tak salah apapun, gue tak merugikan siapapun, yang rupanya mereka hanya senang kasih makan ego mereka sendiri.
 
sebab, gue sepertinya hanya berjalan seutuhnya sesuai dengan usia gue pada waktu itu, tapi orang brengsek tidak pilih-pilih mangsa, tentu mereka akan selalu memilih yang di bawah mereka, memakan bukan karena itu hak mereka, tapi menindas sekedar bersenang-senang. omong-kosong supaya anggar jago, tapi memang itulah kenyataan di dunia ini, tak ada yang bisa disalahkan.

sekarang hanya perlu solusi, sudah cukup pikir gue menenggelamkan diri di kubangan lumpur trauma masa lalu, walau sulit, tapi terus-terusan begitu juga gue yang sakit, tapi bukan baru sekarang gue kepikiran untuk bangkit sudah dari beberapa tahun lalu, salah satu buktinya gue sudah mencari pertolongan ahli sudah dari lama, tapi yang namanya proses itu tidaklah singkat.

bulan lalu gue benar-benar healing, pulang kampung dan memilih tidak ngapa-ngapain, bukan maksudnya jadi batu dan merenung di kamar saja, tentulah ada bergerak namun tak berambisi seperti harus ke taman hiburan, berburu kafe mahal, shopping. olahraga, kumpul bersama keluarga, dekat dengan rumah dengan makna sebenarnya, kolam ikan, merenung di atap rumah dan lain lain. 

sempat sakit, hampir kena DBD tapi syukur sembuh dengan baik. gue bersyukur walau tak sempurna, ketidak-sempurnaan adalah kesempurnaan itu sendiri tentang menjadi manusia. bernapas walau cemas, belajar dengan baik dengan alam semesta. semoga bulan ini dan ke depannya gue masih bernapas lega dan masih ada harapan, semoga gue segera menemukan masa terbaik gue dan bertahan, amin.

Komentar

Postingan Populer