Journal; 20 october
source: google images.
hari ini apalah, hari-hari ini apalah, sungai mengalir dari hulu ke hilir ada akhirnya bermuara ke danau ataupun lautan, benarkah begitu? begitupun kesedihan nanti juga luruh dengan sendirinya di masa depan walau entah kapan hari itu tiba. saat langit sore begitu sepi sehabis hujan dan timbul genangan abu-abu dingin di langit sana, kesepian.
berkati gue yang gelap ini, gerogoti hati sebab terlalu cinta begitu dalam, siapa kamu menghakimi, mata memang tak bisa di balas dengan mata namun buah busuk tetap akan beraroma tak sedap atau tak segar lagi seperti apapun. ada sebab ada akibat, beritahu gue jika kau tidak tahu sesuatu, sesuatu yang gue lakukan, sebab suaramu sumbang di telinga ini.
gila, suara deburan air di pantai itu begitu menenangkan, sore sudah mau berakhir lima empat lima terasa sudah sangat gelap, mungkin karena baru saja hujan tadi awal sore, gue sendirian saja akhir-akhir ini, pantai itu tak lagi aku sambangi, kecuali wujud pantai dalam kepala ini, berkat postingan dua atlet yang gue lihat di sosial media mereka, sehabis mereka juara beberapa waktu lalu.
jika malam sudah buat gue suntuk, entah apalagi yang perlu gue hisap sampai kering, atau seruput hingga wajah gue merah padam, jika sesuka hati itu boleh maka yang gue lakukan sisanya adalah bertanggung jawab. tak melulu soal hasil soalnya proses sendiri jalannya lebih lama dan gue hidup di dalamnya lumayan panjang, jadi ia lebih pantas gue hargai.
ketakutan ini begitu dalam sebab keputusan kurang tepat di masa lalu itu, menunggu waktu untuk pembuktian membuat diri ini begitu beku begitu hancur berantakan. jika lolos, gue sungguh ingin membuka lembaran baru, semoga perasaan ini tak cepat lupa jika ada hal baik yang menjadi nyata, sebab pasti begitu, harapan besarnya tak pernah lupa saja, biar ini menjadi alarm hidup.
apakah gue bisa menggapai mimpi, yang langkah pertama sudah gue injakkan, apa gue akan bertahan saat di bakar hidup-hidup nanti. gue mencoba meredam ekspektasi dan tak pernah mau tergoda meromantisisme-kan angan-angan semu nan lucu. banyak orang nakal dan lebih jahat dari gue, saling makan memakan, menangis adalah kekuatan yang baik rupanya.
mereka tak mengerti proses itu panjang dan sukses itu hanya singkat, yang mereka tahu hanyalah sebaliknya, menangis sepanjang waktu, ketakutan sudah menjadi bayangan, putus asa setiap hari mengetuk pintu hati gue, bersyukur sampai saat ini gue masih menginjakkan kaki di bumi entah akan bertahan berapa lama dan hingga seperti apa.

Komentar
Posting Komentar