Journal; 10 August
source: google images.
hari ini lebih reda ketimbang kemarin, tapi gue tidak mau berharap banyak, sebisanya menghindari emosi yang ekstrem, walau gue tahu menghindari adalah sesuatu yang sia-sia. Apa boleh buat, gue melakukan apa yang gue bisa, terkadang cuaca mendung yang tak hujan namun berangin lebih menyenangkan dan cerah daripada hari yang cerah.
gelas yang gue isi sekaleng bir tinggal separuh saat itu, sebab gelembung-gelembung itu telah menguap memantrai seluruh ruangan kamar dan menjaga gue saat nanti akan pergi tidur. dengan segaris merah-muda di bawah kelopak mata, membuat hari seolah terasa baik-baik saja, satu jam, tiga jam terasa lebih hidup dan bermakna, seolah itu mewakilkan satu hari penuh.
gue ga tahu salah langkah apa lagi yang akan gue perbuat nanti di depan seperti di masa lalu, yang mencengkram leher gue dan diangkat ke atas, seolah nyawa gue di ujung tanduk dan siap-siap di lempar ke jurang, gue berharap itu ga pernah terjadi, sebab itu mengerikan dan gue sejujurnya takut, sebab gue merasa, itu semua bukan kendali gue, dan tentulah gue ga mau hal buruk seperti itu.
hari ini cuaca seperti kabut, mendung, tak hujan dan berangin, menyenangkan jika dipikir-pikir, menenangkan pikiran yang selalu kalut. hari ini gue keluar cari angin, menyayangi diri ini yang selalu saja terluka dan kesakitan, tidak ada yang peduli, tidak apa-apa, ada gue yang peduli pada gue sendiri dan memang seharusnya seperti itu.
ada yang mengganjal di hati gue, dan gue pikir lagi, kenapa ga hilang saja ganjalan itu, apa seharusnya ia harus hilang? tiba tiba terpikir, layaknya ganjalan, terkadang ia tak boleh dihilangkan, sebab jika ia hilang, maka tak ada lagi yang menahan perasaan ini, ia akan melayang tak terkendali, seperti balon yang lepas, seperti jangkar kapal dan juga seperti hati ini.
gue berharap esok gue semakin kuat, gue tak ingin berharap semakin baik atau semakin enak, sebab itu omong-kosong rasanya. tak ada yang pasti di realita hidup ini, tak ada yang pasti di sekitar gue ini. bagi gue sakit tetaplah sakit, gue ga mau, tapi ga ada pilihan lain selain gue jaga diri gue, merasakannya dan menerimanya dengan sadar sebab cara main di dunia ini sungguhlah seperti ini.
gue hanya harus bersyukur dan berterima-kasih dengan apa yang sudah terjadi dalam hidup gue, sangat tidak mudah kedengarannya tentulah. lebih pahit dari pil pahit, lebih ekstrem dari apapun itu. tapi jika ini yang harus gue jalani, mau tidak mau, kan? hati yang pahit dan ingatan yang terus terkait semoga gue bisa bertahan menghadapinya, amin.

Komentar
Posting Komentar