Tidurlah, mimpimu indah...
source: google images.
Untuk setiap harinya...
Gemuruh awan dan langit yang menurunkan air hujan, dan diri ini merasa, masalah tidak benar-benar menjadi masalah jikalau kita tidak menganggap ia sebagai masalah. Contohnya hujan kemarin sore, anak ingusan itu tetap bisa tidur nyenyak nan lepas tanpa merasa cemas dan takut akan kehujanan, sebab rumah ia besar, besar sekali dan tembok-tembok kokoh, jendela tebal dan juga atap seng mahal.
Walau benar, ia tidak bisa bermain bola seperti biasanya, dengan kawan-kawan se-permainannya. Bukan tidak bisa, sebenarnya bisa, hanya ia lebih memilih untuk tidur di cuaca yang sedang sejuk-sejuknya dan dingin. Bahkan jika bermain bola saat hujan 'pun, maka asyik juga baginya, cuma dia sedang 'memilih', yang sedang ia mau dan cocok bagi hatinya, hidupnya bebas.
Kira-kira jika kemarin memilih a ketimbang b, apa yang akan terjadi dengan a yah...
Apakah ada perbedaan?
Dan setelah itu, si Bob merenungkan kejadian kemarin, seharusnya ia bisa saja merasakan keterpurukan dan jatuh mentalnya, apalagi baru berselang satu-dua hari. Tapi siapa sangka, semesta mengarahkan ia untuk duduk sejenak di sisi jalan, ada pembatas agak tinggi disana dan ia duduk, cukup lama rupanya, ternyata pikiran ia terkoneksi dengan frekuensi alam, ia pun mulai refleksikan sejenak diri...
Si Bob sadar, apa yang ia alami, bisa saja sebaliknya, itu adalah sebuah pelajaran, sebuah pengalaman yang akan menjadi besar dan berharga kelak di masa depan, jika ia benar-benar memperhatikannya. Ia senyum tipis dan sedikit air mata kecil di sisi, karena walaupun pasti, mental ia terkena juga, manusiawi. Tapi itu sempurna pikirnya, hadiah kecil nan keemasan di penghujung akhir usia 24-nya.
Semangat Bob, nanti malam tidur nyenyak yah, mimpimu akan indah...
Terus terang, ini semua pahit, ngilu, merasa tidak aman dan kikuk. Tapi ini pilihan, pilihan yang memang secara sadar separuh ngaco, hanya memilih. Demi sesuap nasi dan lauk-pauk kebebasan, hanya lauk-pauk tanpa nasi juga lebih baik, banyak nasi sama saja banyak gula, gula-gula kehidupan yang terlalu banyak, tidak baik untuk mengejar asam-garam kehidupan.
Kini giliran Kristie, sang teman-sebaya, ia merantau jauh dari bagian timur, ia masih harus membiasakan diri disini, sebenarnya ia cocok dengan budaya dimana ia tinggal sekarang, malahan ia yang kurang nyaman dengan budaya kampung halamannya, tapi bagaimanapun juga, kebiasaan itu sudah melekat dan otomatis, lalu sekarang, ia hanya bertekad untuk berjuang sambil menikmati prosesnya dalam meraih kebebasan yang ia impikan.
Dan malam ini, sedikit sudah larut, waktunya tidur, begitu juga Hanz si anak kucing tetangga, Peanuts si anjing kecil mirip hot-dog milik paman Pierre, sebab lebih akrab dengan mereka-mereka, makhluk berbulu ini, ketimbang tuan-nya. Kadang mereka mampir ke flat hanya untuk meminta makan sembari mengitari kaki, atau mereka... walau berbeda tetap bisa bermain bersama, tanpa pandang bulu.

Komentar
Posting Komentar